GazanaPublika.com, Lebak – Aktivis asal Lebak, Rizwan Comrade, mengutuk keras aksi demonstrasi yang berujung anarkis, mengakibatkan anggota Satpol PP, Yadi Suryadi, meninggal dunia. Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar di masyarakat terkait siapa sebenarnya aktor intelektual di balik kericuhan tersebut.

Pihak Polres Lebak telah menangkap dua orang yang diduga menjadi pelaku utama dalam insiden ini, namun hingga kini, aktor intelektual yang memicu aksi masih belum terjamah. “Polres Lebak harus mengusut siapa dalang di balik peristiwa ini, bukan hanya pelaku lapangan,” ujar Rizwan.

Rizwan juga menyoroti bahwa aksi demo di Gedung DPRD Lebak berkaitan dengan penetapan Juwita Wulandari dari PDI Perjuangan sebagai Ketua DPRD, yang berdasarkan hasil kursi terbanyak dan merupakan kewenangan DPP PDI-P. Ia menilai aksi tersebut sarat dengan agenda tersembunyi dan penuh rekayasa, membuat banyak pihak menduga adanya desain tertentu di baliknya.

Isu liar seperti tuduhan keterkaitan dengan PKI yang diarahkan pada Juwita, putri Ribka Tjiptaning, turut menyulut ketegangan politik lokal. Rizwan memperingatkan, jika isu ini terus berkembang tanpa penyelidikan yang tuntas, hal ini dapat mencoreng nama baik DPRD Lebak dan PDI-P, serta membuat jabatan Ketua DPRD diperebutkan dengan cara yang tidak sehat, bahkan mengorbankan nyawa.

Jika Polres Lebak gagal mengusut aktor intelektual dalam kasus ini, Rizwan berencana membawa kasus tersebut ke Mabes Polri serta melaporkannya ke DPP PDI Perjuangan agar segera mengambil langkah tegas.

Insiden demonstrasi tersebut bermula dari aksi massa yang menolak penunjukan Juwita Wulandari sebagai Ketua DPRD Lebak. Demonstran bentrok dengan aparat keamanan yang berjaga di gedung DPRD, menyebabkan robohnya pagar yang menimpa dua anggota Satpol PP. Yadi Suryadi, yang mengalami cedera serius di bagian kepala, akhirnya meninggal dunia pada 9 Oktober 2024 setelah dirawat intensif. (Red)

Redaksi

Exit mobile version