Advertisement
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
Advertisement
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Nabi Muhammad SAW dalam tradisi Islam digambarkan sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam. Gelar ini tidak sekadar menunjuk pada pribadi seorang nabi, tetapi pada tata nilai akhlakul karimah yang beliau bawa: kejujuran, kasih sayang, kesederhanaan, dan penghormatan pada martabat manusia. Akhlakul karimah bukan milik eksklusif umat Islam, melainkan nilai universal yang dapat diterima oleh siapa pun, dari tradisi agama dan budaya apa pun.
Tidak mengherankan bila hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) di Nusantara tidak hanya diperingati dalam bingkai ritual Islam formal, tetapi juga memiliki gema sakral dalam kesadaran budaya masyarakat lintas iman. Dalam pandangan lokal, kelahiran seorang tokoh agung selalu memancarkan cahaya kosmik, sebuah momentum ketika langit dan bumi terasa lebih dekat.
Sejarah mencatat, sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanda-tanda kemuliaannya sudah tampak dan bahkan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang kelak menjadi penentangnya.
Riwayat dalam Shahih al-Bukhari menyebutkan bahwa ketika Muhammad lahir, budak perempuan Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah segera menyampaikan kabar gembira itu. Abu Lahab, yang kelak dikenal sebagai penentang Nabi, justru bergembira dan memerdekakan Tsuwaibah sebagai ungkapan syukur. Dalam riwayat lain dikisahkan, meskipun Abu Lahab menjadi musuh besar Islam, setiap hari Senin ia diringankan siksaannya karena pernah bergembira atas kelahiran Nabi. Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi sendiri sudah dianggap momen sakral bahkan oleh mereka yang tidak mengimaninya.
Ketika berusia sekitar 35 tahun, Muhammad dipercaya oleh kaumnya untuk menyelesaikan perselisihan besar di antara kabilah Quraisy saat pembangunan kembali Ka‘bah. Masing-masing kabilah berselisih siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada posisinya. Muhammad kemudian mengusulkan solusi bijak: batu itu diletakkan di atas kain, lalu tiap pemimpin kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkatnya. Muhammad sendiri yang mengambil batu itu dan meletakkannya di tempat semula.
Riwayat ini banyak disebut dalam kitab-kitab sejarah Islam, di antaranya Ibn Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah, yang menegaskan bahwa sebelum diangkat sebagai Nabi, Nabi Muhammad SAW sudah dijuluki al-Amîn (yang terpercaya) karena kebijaksanaan dan kejujurannya.
Tidak hanya orang Quraisy, bahkan kalangan Yahudi dan Nasrani di Mekah pada masa itu mempercayai Muhammad sebagai pribadi amanah. Riwayat-riwayat sejarah, seperti dalam Sirah Ibn Ishaq, menyebutkan bahwa masyarakat lintas agama menitipkan barang-barang berharga kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka yakin bahwa tidak akan ada penyelewengan amanat darinya. Inilah sebabnya ketika hijrah ke Madinah,
Nabi Muhammad SAW masih menitipkan barang-barang titipan orang kafir Quraisy kepada Ali bin Abi Thalib untuk dikembalikan pada pemiliknya.
Kepercayaan ini membuktikan bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW melampaui batas-batas keyakinan agama — beliau dihormati bukan karena status kenabian yang saat itu belum diakui, tetapi karena kejujuran dan amanahnya yang tak terbantahkan.
Jejak Khas Islam Nusantara
Di Jawa, perayaan Maulid Nabi dikenal dengan istilah Sekaten atau Muludan. Umat Islam memaknainya sebagai penghormatan kepada Nabi, sementara masyarakat Kejawen memandangnya sebagai waktu baik untuk tirakat, semedi, dan slametan. Mereka percaya bahwa kelahiran Nabi Muhammad membawa energi kebajikan yang bisa menopang laku spiritual, meski tidak semua merayakannya dalam kerangka syariat Islam.
Di Lombok, masyarakat Sasak Muslim merayakan Maulid dengan tradisi Maulid Adat—pesta besar yang melibatkan seluruh desa. Uniknya, komunitas Hindu di sekitar mereka kerap ikut serta dalam ekspresi budaya ini, karena melihat Maulid bukan hanya sebagai ritual agama, melainkan sebagai pesta sakral desa yang memuliakan nilai luhur.
Di Maluku dan NTT, ada masyarakat Kristen yang meski tidak memperingati Maulid sebagai ritual keagamaan, tetap melihat bulan itu sebagai bulan keramat, kerap berbarengan dengan pesta adat, persembahan laut, atau tarian sakral. Hal ini menegaskan bagaimana kesadaran kolektif Nusantara melihat kelahiran Nabi Muhammad sebagai peristiwa kosmik yang berdampak pada harmoni sosial dan spiritual.
Maulid Sebagai Momen Mistik
Dalam tradisi mistik Nusantara, waktu kelahiran tokoh suci sering dianggap sebagai pintu kosmis. Sama seperti masyarakat Bali yang memandang Hari Nyepi sebagai titik penyatuan jagat, atau masyarakat Batak yang menggelar upacara kelahiran leluhur, Maulid Nabi diposisikan sebagai momen turunnya berkah, di mana doa, semedi, dan persembahan memperoleh kekuatan khusus.
Dengan demikian, Maulid Nabi di Nusantara telah melampaui sekadar ritual Islam. Ia menjelma menjadi titik temu antara agama dan budaya, antara nilai universal akhlakul karimah dengan tradisi mistik lokal yang mencari harmoni kosmos.
Nabi Muhammad adalah simbol akhlakul karimah yang universal. Kelahirannya tidak hanya sakral bagi umat Islam, tetapi juga memberi gema spiritual bagi tradisi lain di Nusantara. Perayaan Maulid menunjukkan bagaimana nilai yang dibawa Nabi diterjemahkan dalam konteks lokal: ada yang merayakannya dengan shalawat dan doa, ada yang dengan slametan dan tirakat, ada pula yang dengan pesta adat dan tarian sakral. Semua menyatu dalam keyakinan bahwa kelahiran seorang tokoh agung selalu meninggalkan jejak cahaya bagi seluruh alam.
Ritual Keceran
Di banyak daerah Nusantara, bulan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan ritual keceran, yakni kegiatan menaburkan bunga, menyajikan makanan, atau menggelar selametan yang diikuti masyarakat luas. Tradisi ini menjadi cara lokal untuk mengekspresikan rasa syukur dan cinta kepada Nabi, sekaligus memperindah peringatan kelahirannya dengan simbol-simbol keharuman dan kebersamaan.
Makna keceran tidak sebatas seremonial. Taburan bunga melambangkan penghormatan, sementara makanan yang dibagikan mencerminkan kemurahan hati Rasulullah yang selalu memberi tanpa pamrih. Selain itu, keceran menghadirkan ruang kebersamaan lintas suku dan agama, di mana masyarakat berkumpul, makan bersama, dan merasakan ikatan sosial yang diperkuat oleh momen sakral.
Dengan demikian, keceran di bulan Maulid dapat dipahami sebagai perwujudan budaya sekaligus spiritualitas. Ia menjadi medium untuk mengenang Nabi Muhammad SAW sebagai simbol akhlakul karimah, sambil menanamkan nilai berbagi, gotong royong, dan kasih sayang yang bersifat universal.***
Penulis adalah Pengasuh Majelis Al Ma”arijul Wathon (Tarekat Asy-Syadziliyah) dan Ketua DPW I Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI), Provinsi Banten tinggal di Serang.
Advertisement
