Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Sabar dan syukur itu suatu posisi keadaan hati yang bertentangan, dihadapkan keadaan yang berbeda diantara keduanya. Keduanya boleh dibilang sebagai metode teknis untuk pengendalian jiwa manusia agar bisa dekat dengan Allah. Kenapa disebut metode teknis? Karena itu sebuah solusi di dalam kehidupan untuk menyikapi dua keadaan yang berbeda.
Advertisement
Keadaan berbeda yang dimaksud adalah sabar diperlukan oleh manusia dalam keadaan terhimpit, kena musibah dan ujian. Dalam posisi demikian itu manusia harus bisa menahan bahkan tetap mempertahankan semangat hidupnya.
Sedangkan syukur diamalkan ketika anugerah Allah mendatangi dirinya. Bagaimana sikap kita ketika anugrah itu datang sedangkan anugrah itu hakikatnya pemberian Allah. Keduanya diibaratkan seorang tamu, apapun keadaan tamu, bagaimana pun dia dan kondisinya, tentu seyogyanya diterima dengan baik kedatangannya.
Dalam tasawuf hal ini terkait penempatan qabdhu dan basthu. Qabdhu adalah himpitan hidup yang harus disikapi dengan kesabaran maka pada saat dalam kondisi tersebut dibutuhkannya istiqamah. Yang disebut istiqamah ialah sifat tenang sembari menyerahkan diri kepada Allah. Istiqamah ialah sikap semangat untuk terus menerus fokus dalam kehidupan tanpa harus terganggu dengan himpitan keadaan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
Terkadang, Allah memberikan sesuatu kepada manusia, bisa jadi manusia tidak menyukainya padahal dalam pandangan Allah justru itu terbaik baginya. Sebaliknya apa yang disukai manusia, bagaimana jika Allah justru tidak menyukainya? Oleh karena itu perlunya memahami apa yang disukai Allah untuk kita, lalu kita menselaraskannya.
Terkait sabar ialah dalam konteks menahan diri segala datangnya tekanan kepada jiwa yang sebetulnya kita sendiri ingin memghindari hal itu tetapi kenyataannya tekanan tetap ada. Oleh karenanya dalam konteks ini yang dibutuhkan kesabaran.
Dalam hal ini jangan dikaitkan dengan persoalan suka dan tidak suka. Misalnya, beranggapan ketika kita makan ikan asin itu dipandang ujian dikarenakan pada saat itu kita ingin makan daging ayam. Itu bukan ujian tetapi tidak tepatnya kondisi saja.
Sebagaimana pada saat kita sedang berada di jalan, lalu kehujanan. Pada saat bersamaan kita pun tidak bawa payung. Konteks itu juga bukan ujian karena hal itu hanya terkait persoalan keadaan yang tidak tepat. Karena hakikat hujan itu karunia tetapi keadaan yang kita ingin terhindar darinya pada saat itu. Maka dalam konteks ini sikap yang dibutuhkan ialah bersyukur dan bukan bersabar. Hujan perlu disyukuri dan makan pun demikian, apa pun lauknya.
Orang yang bersabar atas ujian Allah niscaya Allah akan bangga atas kesabaran orang tersebut. Kebanggaan Allah ialah dengan memuji orang tersebut yang ternyata telah kuat menahan kepahitan dan kegetiran suatu ujian.
Sedangkan basthu adalah kelapangan hidup dimana disikapi dengan kesederhanaan dan membutuhkan qana’ah. Qanaah adalah sikap merasa cukup dan rela menerima apa yang telah Allah berikan, serta tidak bersikap tamak atau berlebihan dalam ambisi duniawi
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)
Kita bisa buat perumpamaan rasa syukur seperti ini: andaikan ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita, lalu kita tolak, bagaimana kira-kira sikap orang yang memberi itu? Dapat dipastikan, ia akan tersinggung. Begitu pula Allah walau pun Allah tidak bisa disifatkan seperti sifat manusia namun pandanglah manusia agar bisa melihat af’al Alah. Itu sebuah gambaran.
Ketika Allah memberi sesuatu kepada kita, maka kita wajib menerimanya, bersikap menghargai atas pemberian Allah tersebut. Wujud menghargai yakni dengan berapresiasi kepada yang memberikannya, misalnya dengan tersebut, mengucapakan terima kasih, alhamdulillah, dan sebagainya. Karenanya, syukur itu adalah wujud rasa berterima kasih kepada Allah atas pemberian-Nya niscaya Allah akan melipatgandakan pemberian-Nya
Orang yang qana’ah, ia sederhana tetapi dermawan. Ketika memiliki harta ia akan memberikannya pula kepada orang lain seperti bersedekah, berinfak dan sebagainya. Ia akan memperhatikan orang disekelilingnya. Niscaya orang yang memberi akan mendapatkan ganjaran dari Allah melebihi apa yang diberikannya.
Dalam fenomena kehidupan manusia membutuhkan kedua hal tersebut, bersabar disaat qabdhu dan bersyukur disaat basthu. Bisa dikatakan keduanya sebagai satu konsekuensi hidup yang harus disikapi.***
Advertisement
