GazanaPublika.com, Serang — Kolaborasi antar pelaku usaha di sektor maritim dan pelabuhan dinilai menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat sistem logistik di Provinsi Banten. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan strategis yang mempertemukan berbagai asosiasi dan *stakeholder* dunia kepelabuhanan di Banten.
Dalam sambutannya, Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pelabuhan Banten, H. Masduki menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para tokoh, sesepuh, serta seluruh tamu undangan yang hadir. Kehadiran berbagai elemen—mulai dari pemerintah, asosiasi pelaku usaha, hingga unsur keamanan—dinilai membawa semangat baru bagi kemajuan sektor pelabuhan di wilayah tersebut.
Keistimewaan dan Strategisnya Kawasan Merak
H. Masduki menegaskan bahwa kawasan Merak memiliki keistimewaan tersendiri yang membedakannya dari daerah lain di Indonesia. Sebagai salah satu gerbang utama transportasi dan logistik nasional, Merak memiliki karakteristik komunitas dan aktivitas kepelabuhanan yang sangat spesifik dan strategis.
“Perlu disampaikan kepada bapak dan ibu, kekhususan ini hanya ada di Merak. Tidak semua daerah memiliki karakteristik pelabuhan seperti di sini. Aktivitas pelabuhan di Merak sangat besar dan menjadi urat nadi pergerakan barang maupun penumpang,” ujar H. Masduki pada Kamis (3/7/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa aktivitas pelabuhan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kapal dan arus kargo. Tanpa adanya kapal yang bersandar, operasional pelabuhan dipastikan akan lumpuh, yang kemudian berdampak langsung pada tersumbatnya rantai distribusi.
“Jujur saja, tanpa pergerakan kargo, pelabuhan akan terasa berat. Kalau tidak ada kapal yang sandar, lalu apa yang akan dilayani? Karena itu, seluruh ekosistem pelabuhan harus bergerak bersama,” tegasnya.
Sinergi Antar-Asosiasi Jadi Kunci Logistik
Dalam forum tersebut, pentingnya dukungan dari seluruh pemangku kepentingan yang menjadi tulang punggung operasional pelabuhan kembali disorot. Sejumlah organisasi strategis turut hadir, di antaranya: APBMI (Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia), INSA (Indonesian National Shipowners’ Association), dan Asosiasi Pengusaha Truk. Organisasi logistik lainnya seperti GINSI, ALFI, APTMI, dan asosiasi surveyor.
Kehadiran berbagai lini organisasi ini membuktikan bahwa seluruh aktivitas di pelabuhan berjalan dalam sebuah sistem yang saling terhubung dan terorganisasi dengan baik.
“Bahkan pengusaha truk pun memiliki asosiasi. Ini membuktikan bahwa seluruh kegiatan di pelabuhan sangat terstruktur. Angkutan darat dari dan menuju pelabuhan adalah penggerak utama logistik,” jelas H. Masduki.
Ia menambahkan, tanpa adanya sinergi yang kuat antara pengusaha bongkar muat, operator kapal, transportasi darat, hingga penyedia jasa logistik, maka distribusi barang tidak akan berjalan optimal. Oleh karena itu, forum ini diharapkan menjadi momentum krusial untuk memperkuat tali kolaborasi antar-pelaku usaha maritim di Banten.
Melalui pertemuan ini, seluruh pihak berharap dapat tercipta wadah sinkronisasi demi mewujudkan ekosistem pelabuhan yang semakin kuat, modern, dan kompetitif, sehingga mampu memacu pertumbuhan ekonomi baik di tingkat daerah maupun nasional.

