Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Dindikbud Banten Gelar Rakor Kebudayaan 2026, Upayakan Peningkatan Indeks Pembangunan Lewat Pencatatan Data

Dindikbud Banten Gelar Rakor Kebudayaan 2026, Upayakan Peningkatan Indeks Pembangunan Lewat Pencatatan Data

Banten Selasa, 30 Juni 2026 23:24 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com, Serang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten sukses menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan Tahun 2026. Acara tersebut mengusung tema “Transformasi Pemajuan Kebudayaan melalui Penguatan Event Atraksi Seni Budaya, Pelestarian Warisan Budaya Daerah, dan Digitalisasi Kebudayaan Berbasis Teknologi”. Acara tersebut berlangsung di Aula Pendopo Gubernur KP3B, Kota Serang, pada Selasa (30/6/2026).

Rakor ini menjadi wadah penting yang mempertemukan berbagai elemen strategis guna merumuskan arah pemajuan kebudayaan di Tanah Jawara. Pembahasan dalam rakor tersebut dipandu oleh sejumlah narasumber dan pakar terkemuka, di antaranya Dr. Muhammad Ali Fadhilah, Ph.D., Zaenal Mutaqin, Ph.D., Endan Swandana, Ph.D., serta Andi Suhud Tresnahadi.

Advertisement

Acara ini turut dihadiri oleh para pakar budaya, pelaku budaya perorangan hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan, diantaranya DPW I Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) Provinsi Banten.

Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Provinsi Banten, Rohaendi, S.Pd., M.Par., menjelaskan bahwa Rakor Kebudayaan atau Rakorbid ini merupakan agenda rutin tahunan yang berfungsi untuk menjaring gagasan dari akar rumput. Namun, pelaksanaan tahun ini sengaja ditempatkan di Pendopo Gubernur dengan misi khusus agar urgensi kebudayaan semakin didengar oleh para pemangku kebijakan.

“Sebenarnya Rakorbid ini tiap tahun juga dilaksanakan, menampung masukan-masukan dari para komunitas. Nah, kali ini kenapa saya memilih tempat ini? Ya supaya para petinggi-petinggi Banten tahu ya, paling tidak mendengar bahwa ada Rakorbid di Pendopo. Itu kan menjadi ingatan kolektif mereka bahwa kebudayaan sudah harus dianggap penting, walaupun bukan kebutuhan dasar,” ujar Rohaendi saat diwawancarai di sela-sela acara.

Lebih lanjut, Rohaendi menyoroti permasalahan utama yang membuat Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Banten kerap dinilai rendah atau di bawah rata-rata. Menurutnya, hal itu terjadi bukan karena minimnya aktivitas budaya di masyarakat, melainkan akibat lemahnya sistem pendataan dan pelaporan administrasi kebudayaan ke Badan Pusat Statistik (BPS).

BACA JUGA:  PASSPENSA Malingping Bangkitkan Karakter Siswa Lewat Ekstrakurikuler Paskibra

“Targetnya adalah bagaimana event sebanyak-banyaknya. Event kebudayaan sebanyak-banyaknya dan tertulis. Tertulis artinya tercatat, terdata, terbaca oleh statistik, BPS. Karena itu yang menentukan Indeks Pembangunan Kebudayaan ternyata, data-data itu,” cetus Rohaendi.

Beliau mencontohkan berbagai agenda besar kebudayaan lokal seperti ritual Seren Taun di kasepuhan atau tradisi Ngadu Bedug antar-kampung yang selalu menyedot keterlibatan ribuan warga, namun sering kali lolos dari pencatatan resmi statistik. Oleh karena itu, ke depan pihak Dindikbud Banten berkomitmen untuk membangun formulasi pendataan yang lebih kolaboratif bersama pihak terkait dan komunitas budaya.

Senada dengan Rohaendi, ahli purbakala sekaligus sejarah Banten, Dr. Moh. Ali Fadhillah, Ph.D., yang hadir sebagai pembicara, mengapresiasi langkah pemerintah daerah dalam membuka ruang publik ini. Ali menekankan bahwa berdasarkan persepsi internasional seperti UNESCO, kebudayaan seharusnya tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan harus mewarnai program pembangunan dengan memainkan peran penting sebagai sumber daya, poros pelaksanaan, sekaligus tujuan akhir dari pembangunan itu sendiri.

“Pemerintah sudah memperhatikan soal ini, melalui sektor Kebudayaan sudah membuka ruang kepada publik untuk mendapatkan masukan bagaimana kebudayaan menjadi punya efek ekonomi, ya kan? Akan sejahtera, dan peningkatan budaya, sehingga dia menjadi target capaian pembangunan kebudayaan di Banten, yang sementara masih menurut IPK-nya masih di bawah peringkat nasional,” papar Ali Fadhilah.

Dari data yang disampaikan Ali Fadhilah, tingkat ekspresi budaya menduduki kisaran paling rendah, dari tahun 2020-2024 menempati angka antara 29,19 hingga 35,50 persen. Artinya, angka tersebut menunjukan lemahnya respons budaya dalam masyarakat Banten.

Ketika ditanyai terkait persoalan apakah perlu bahwa satu program pembangunan daerah dirancang dengan pertimbangan aspek budaya lebih dahulu, Ali Fadhilah menjelaskan bergantung siapa yang memimpin.

“Yang saya ketahui dalam persepsi internasional ya, UNESCO, kebudayaan itu seharusnya memainkan peran penting dalam pembangunan sebuah bangsa,” paparnya.

Ali menegaskan bahwa kebijakan pembangunan di daerah sangat bergantung pada komitmen pimpinan dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam program kerja pemerintahan. Menurutnya, nilai budaya harus menjadi fondasi utama dalam mengawal dan mewarnai kebijakan pembangunan nasional maupun daerah.

BACA JUGA:  Monev KIP, Wabup Serang Najib Hamas Tegaskan Keterbukaan adalah Keniscayaan

“Sekarang kan pimpinan daerah punya misi, visinya kan Banten maju, adil, dan tanpa korupsi. Itu kan nilai budaya juga. Memang kebudayaan harus maju, tidak ada kebudayaan yang stagnan. Adil juga bagian dari nilai kebudayaan supaya orang jangan berkelahi, supaya orang jangan bertengkar, rukun, ya kan? Dan yang terakhir tanpa korupsi, itu juga bagian dari kebudayaan, kejujuran memang ini. Nah, itu yang harus kita capai, bahwa kebudayaan memang bisa dijadikan kriteria dalam mengawal proses pembangunan,” tambah Ali.

Ali Fadhilah mengungkapkan bahwa instrumen-instrumen budaya juga dinilai berperan penting sebagai instrumen kontrol sosial (social control) yang memiliki kriteria, norma, dan nilai untuk mengevaluasi serta mengendalikan arah jalannya program pembangunan agar tetap berpihak pada kebaikan umum dan pemerataan.

Ketika disinggung mengenai langkah taktis yang harus diambil Banten demi pemerataan kemajuan, Ali menyoroti pentingnya mengatasi ketimpangan atau disparitas ruang antara wilayah Banten Utara yang didominasi industri dan Banten Selatan yang berbasis pertanian.

“Banten utamanya adalah apa namanya, ada semacam disparitas ruang, ada perbedaan ruang, ada ketimpangan pembangunan antara utara dan selatan. Kawasan industri dan kawasan pertanian. Nah, kalau memang itu dianggap hal yang menghalangi untuk pemerataan, ya selesaikan. Ya kan? Melalui sektor ekonomi, infrastruktur, perdagangan, ekonomi pariwisata, dan sebagainya,” pungkas Ali Fadhilah menutup wawancara.

Rapat koordinasi ini diharapkan menghasilkan draf rumusan dan rekomendasi konkret yang sinergis, sehingga transformasi pemajuan kebudayaan berbasis teknologi digital di Provinsi Banten tidak hanya mampu melestarikan warisan leluhur, melainkan juga sukses mewarnai program kerja pemerintah daerah demi mendongkrak perekonomian masyarakat serta menaikkan peringkat Indeks Pembangunan Kebudayaan secara nasional.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Banten

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Banten

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

Banten

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Banten

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.