GazanaPublika.com, Jakarta — Ancaman pembajakan laut di kawasan Tanduk Afrika kembali menjadi sorotan setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker minyak dibajak oleh pihak bersenjata tak berwenang di lepas pantai Somalia, lalu digiring masuk lebih jauh ke perairan teritorial negara tersebut.
Insiden itu dilaporkan terjadi pada 21 April di sekitar 45 mil laut timur laut kota Mareeyo, wilayah pesisir Puntland, Somalia. Dalam pernyataan resminya, UKMTO mengungkapkan bahwa kapal tanker tersebut diambil alih dan diarahkan ke selatan sejauh puluhan mil laut.
“Military Authorities have reported unauthorised persons taking control of the tanker and manoeuvring the vessel 77NM south within Somali territorial waters,” demikian pernyataan resmi UKMTO.
Pernyataan itu memperjelas bahwa kapal tidak sekadar hilang kontak, melainkan telah berada di bawah kendali kelompok yang belum diidentifikasi, sementara pergerakannya dipantau masuk lebih dalam ke wilayah laut Somalia.
Dalam advisori lanjutan, UKMTO menilai rangkaian insiden yang muncul di kawasan tersebut bukan lagi peristiwa terpisah, melainkan sinyal meningkatnya ancaman keamanan maritim.
“Together, these events indicate a credible piracy threat,” tegas UKMTO.
Pernyataan lain datang dari European Union Naval Force (EUNAVFOR) Operation Atalanta, misi angkatan laut Uni Eropa yang selama bertahun-tahun memantau aktivitas pembajakan di kawasan Tanduk Afrika. Dalam respons awalnya, otoritas tersebut menyatakan tengah melakukan penilaian situasi dan berkoordinasi dengan otoritas regional.
“We are aware of the incident and are monitoring the situation closely in coordination with relevant maritime security partners,” demikian pernyataan pejabat keamanan maritim Uni Eropa yang dikutip media internasional.
Sejumlah media asing, termasuk AFP dan Associated Press, melaporkan aparat keamanan maritim Puntland menduga sedikitnya enam pria bersenjata terlibat dalam pembajakan tersebut. Kapal tanker itu disebut sedang berlayar menuju Mogadishu ketika dicegat di laut lepas.
Belum ada klaim resmi dari kelompok pelaku maupun tuntutan tebusan. Namun insiden ini kembali mengingatkan dunia pada masa ketika perairan Somalia menjadi salah satu jalur pelayaran paling berbahaya di dunia.
Jika tren serupa terus berulang, bukan hanya keamanan pelaut yang terancam, tetapi juga stabilitas distribusi energi dan perdagangan internasional yang melintasi jalur strategis di Laut Arab dan Teluk Aden.

