GazanaPublika.com, Jakarta — Sebuah pengakuan mendalam disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto mengenai motivasi utamanya menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di Indonesia. Ketua Umum Partai Gerindra tersebut membeberkan bahwa ambisinya menjadi kepala negara bermula dari kekhawatiran jangka panjang yang ia rasakan terhadap arah perkembangan bangsa yang dinilainya mulai melenceng sejak beberapa dekade silam.
Dikutip dari detikcom, pandangan ini disampaikan langsung oleh sang Presiden dalam pidato sambutannya pada acara Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Agenda nasional tersebut diselenggarakan di Lampung pada hari Rabu (10/6/2026).
Mantan Menteri Pertahanan tersebut menegaskan bahwa dorongan untuk maju sebagai pemimpin nasional tidak didasari oleh hasrat terhadap kekuasaan semata. Ia mengaku telah lama mengamati adanya kekeliruan dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Kenapa saya ingin jadi Presiden. Saya ingin jadi Presiden karena saya sudah lihat kalau tahun ’90-an Indonesia menuju arah yang salah, saya sudah lihat,” kata Prabowo saat memberikan sambutan dalam forum pengusaha muda tersebut pada (10/6/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa memegang mandat sebagai presiden bukanlah perkara yang mudah. “Saya bukan mau jadi Presiden hanya untuk jadi Presiden, lu kira enak,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyoroti realitas sosial yang terjadi di dalam negeri. Menurut analisisnya, tantangan dan kegaduhan terbesar justru kerap bersumber dari dinamika di lapisan atas atau kaum elite, bukan dari masyarakat akar rumput. Ia menilai lingkaran elite di Indonesia cenderung sering terlibat dalam konflik internal.
“Karena kadang-kadang masyarakat elite kita ini, elite yang memang kejam, elite kita ini ya. Tapi hampir semua elite bangsa seperti kita ribut terus, elitenya ribut, rakyat tidak,” tutur Prabowo.
Kondisi tersebut dinilai berbanding terbalik dengan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat luas. Prabowo memuji kedewasaan rakyat yang dinilainya jauh lebih mengerti pentingnya menjaga kedamaian, keharmonisan, serta kolaborasi dalam kehidupan berbangsa untuk mencapai kesejahteraan bersama, alih-alih memicu perpecahan.
“Rakyat paling ngerti untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan, harus ada paguyuban, harus ada kerja sama, harus ada saling mengisi, bukan saling menghantam,” ujarnya memungkasi penjelasan.
