GazanaPublika.com, Serang — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang menggelar Istighatsah dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-103 tahun dalam hitungan hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al Fathaniyah, Jalan Raya Pandeglang–Serang Km 3, Komplek Tembong Indah, Kota Serang, Selasa malam (5/1/2026).

Istighatsah dihadiri langsung Ketua PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, beserta jajaran pengurus PCNU, Majelis Wakil Cabang (MWC), pengurus ranting, para santri, serta tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama. Turut hadir Mustasyar PCNU Kota Serang, KH Matin Syarkowi, yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Banten.

Diketahui, Nahdlatul Ulama lahir pada 16 Rajab 1344 Hijriah dan hingga kini terus berperan dalam menjaga tradisi keislaman, kebangsaan, serta persatuan umat.
Dalam sambutannya, KH Matin Syarkowi menyampaikan bahwa peringatan Harlah NU tahun ini harus dijadikan momentum awal untuk bermuhasabah.

“Tahun ini menjadi awal muhasabah NU. Mari kita renungi bahwa NU itu adalah jam’iyah, organisasi. Perjalanan panjang NU bisa kita baca dalam karya-karya yang telah ditulis oleh kader NU, dan bacaan itu sudah lebih dari cukup,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dinamika internal yang sempat terjadi di tubuh NU dan menjadi konsumsi publik. Menurutnya, kondisi tersebut harus dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh pengurus dan warga NU.

“Kalau kita mau merenungi pendirian NU, kita tahu bersama bahwa sebelum Januari ini, di tubuh NU ada kemelut yang sulit disembunyikan karena sudah viral. Maka jadikan ini pelajaran berharga untuk bermuhasabah dan mengevaluasi diri, semua atas izin Allah,” ujarnya saat membuka sambutan.

Dari fenomena konflik internal tersebut, KH Matin menekankan pentingnya menyikapi persoalan dengan berpikir jernih, memperbanyak zikir, dan meningkatkan amal saleh.

“Apa yang harus kita sikapi? Kita diajak berpikir, berzikir, lalu diteruskan dengan beramal saleh,” katanya.

KH Matin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama didirikan bukan untuk kepentingan sesaat, melainkan melalui munajat para ulama dan gerakan spiritual yang panjang dan mendalam.

“NU didirikan bukan sekadar untuk kepentingan sesaat. Pendirian NU itu melalui munajat para ulama, melalui gerakan spiritual, tidak sembarangan, tidak seperti kita yang terburu-buru. Jika sesuatu itu baik, maka akan diteruskan,” tuturnya.

Ia juga memberikan refleksi tentang beratnya perjuangan para pendiri NU. Menurutnya, mengurus NU bukan perkara ringan dan menuntut keikhlasan penuh.

“Siapa yang mengurus NU, hidupnya akan berat. Menjadi pengurus NU yang baik harus menghilangkan tujuan-tujuan yang pragmatis. Tekadnya mengurus, bukan diurus, apalagi jadi urusan. Polemik kemarin harus menjadi renungan bagi kita semua,” tegasnya.

Selain itu, KH Matin Syarkowi menekankan pentingnya menjaga silaturahmi, baik antarwarga NU, sesama umat Islam, maupun dengan non-Muslim. Menurutnya, persatuan dan kekuatan NU hanya bisa terjaga melalui silaturahmi yang kokoh.

“Masa kita pecah hanya karena urusan materi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar warga NU tidak mudah terprovokasi dan menjatuhkan pimpinan organisasi.

“Haram menjatuhkan pimpinan di tengah jalan, apalagi kita NU,” pungkasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, mengingatkan bahwa momentum Harlah NU ke-103 harus dijadikan bahan refleksi dan evaluasi bersama bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama.

“Harlah ini adalah sesuatu yang harus terus kita ingat. Apalagi kondisi NU saat ini sedang kurang baik-baik saja. Peringatan Harlah NU ke-103 ini harus menjadi renungan bagi kita semua untuk kembali kepada khittah,” ujarnya.

Menurut KH Saifun, kembali kepada khittah bukan berarti menolak sikap moderat atau perkembangan zaman, melainkan menjiwai visi dan misi para ulama pendiri NU.

“Bukan sekadar mendirikan organisasi, tetapi kita harus menjiwai visi dan misi ulama dahulu, para muassis. Bagaimana warga NU menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan sekaligus menjaga keutuhan NKRI,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa warga NU tidak menutup diri terhadap modernisasi dan dinamika zaman, termasuk dalam sikap moderasi. Namun, nilai-nilai akidah tetap harus menjadi landasan utama.

“Dalam realitas modernisasi seperti saat ini, kita harus mampu mengaplikasikan pemikiran dengan kenyataan. NU harus tetap berdiri tegak, tidak rapuh, bermarwah, bermartabat, dan mandiri. Dari Harlah ini, kita semua diajak untuk merenung,” ungkapnya.

Penutup acara, peserta menggelar acara diskusi dalam mengkaji haram atau halalnya mengucapkan ‘selamat Natal’.

Redaksi

Exit mobile version