Advertisement
Penulis: Tedi Subarkah
GazanaPublika.com — Djati Niscala Eco Theologis Sunda merupakan sebuah kajian horoskop pusaka Kujaang Niscala Sunda, dalam Teologi Sunda bukan sekadar senjata, dia simbol Kosmologi, Spiritualitas, dan jati diri Sunda. Mari Kita bedah menggunakan 2 sudut pandang, Sains dan Filosofis.
Advertisement
Penjelasan sains meliputi metalurgi ditambah ergonomi ditambah simbol. Berdasarkan bentuk dan fungsi fisik, kujang itu asimetris dan tidak lurus seperti keris. Melalui landasan teori biomekanika dan antropologi teknologi, mata kujang bengkok sekaligus ada “pamoro” yang menjadi desain untuk mengait dan menarik. Di Sunda kuno dipakai untuk menebang pohon, buka semak, bertani, dan bela diri jarak dekat di hutan atau tempat lainnya, sehingga kujang menjadi alat multiguna dan fungsi, bukan khusus perang. Bahan pamor terdiri dari besi dan baja sekaligus meteorit atau nikel, di mana pola pamor muncul dari pelipatan tempa berulang. Secara sains ini bikin struktur mikro baja jadi lebih kuat dan tidak mudah patah, mirip prinsip “damascus steel”. Ukuran 20-30cm terbukti ergonomis untuk tangan orang Sunda dengan pusat gravitasinya pas di pegangan, jadi lincah untuk “jurus silat Sunda”. Dari segi simbol astronomi, banyak ahli meyakini lekukan kujang sama dengan gugusan bintang Orion / Waluku. Tiga bintang sejajar di sabuk Orion sama dengan Bintang Waluku yang menjadi tanda musim tanam. Kesimpulan sainsnya, kujang adalah “kalender pertanian” yang dipadatkan jadi besi, karena petani Sunda melihat langit lalu bentuknya diturunkan ke besi.
Penjelasan filosofis ditambah teologis Sunda berlandaskan pada landasan teori konsep “Tri Tangtu di Buana” yang merupakan Kosmologi Sunda Buhun. Alam semesta dibagi 3 unsur, dan kujang memuat ketiganya melalui nama makna dan filosofis serta makna teologis pada setiap bagian kujang. Bagian mata atau bilah pamoro memuat unsur air yang berarti mengalir, adaptif, membersihkan, dengan makna teologis sifat Sang Hyang Batara Guru yaitu ilmu, kebijaksanaan, yang mengalirkan wahyu dan segala kebaikan. Bagian lekukan eluk memuat unsur angin atau udara yang melambangkan gerak, napas, perubahan, serta sifat, cara berpikir atau maindset. Sang Hyang Batara Narada di sini adalah Penghubung langit-bumi, pembawa pesan, berikut alunan atau harmonisasi. Bagian gagang paksi memuat unsur tanah atau api yang bermakna kekuatan, jiwa, sukma’, kokoh, niat, dengan makna teologis sifat Sang Hyang Batara Kala yaitu kekuatan, penegak hukum, penegakan keadilan dan tidak membuang waktu atau kuat memegang janji. Jadi kujang adalah Miniatur Alam Semesta dengan sifat selaras dengan manusia, di mana yang pegang kujang harus bisa “menyelaraskan” 3 unsur dalam dirinya.
Terdapat 3 asas teologis kujang menurut Sunda Buhun. Asas pertama adalah asas “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” di mana kujang bukan untuk menyerang duluan. “Mata” yang tajam digunakan untuk “ngasah” diri, “eluk” yang melengkung untuk “ngasih” melindungi, dan “pakasi” yang kokoh untuk “ngasuh” bumi, atau merawat keseimbangan alam. Secara teologi, manusia adalah “pamong alam” yang bertugas sebagai penjaga semesta, pelindung hutan, gunung, laut dan sungai, di mana kujang terwujud untuk mengingatkan tugas dan fungsi manusia. Asas kedua adalah asas “Manunggaling Kawula Gusti versi Sunda” yang disebut “Sangkan Paraning Dumadi”. Perpaduan besi dari bumi ditambah api tempa ditambah air pendingin ditambah angin peniup api membuat 4 unsur jadi 1. Maknanya seperti manusia, di mana badan dari tanah, napas dari angin, darah dari air, semangat dari api. Kalau 4 unsur selaras, maka nyambung ke Sang Pencipta yaitu Sang Hyang Kersa. Asas ketiga adalah asas “Kukuh, Gede Kuwasa”, di mana nama kujang diambil dari kata kudihyang yang berarti senjata para dewa. Tapi dalam ajaran Sunda, kuat bukan berarti menindas, melainkan kuat untuk melindungi yang lemah. Makanya bentuknya bukan menusuk, tapi mengait dan menarik, sesuai filosofinya yaitu “Menang tanpa ngasorakeun” atau menang tanpa merendahkan, berdiri tanpa harus menjatuhkan.
Dalam rangkuman antara sains versus teologis, sudut pandang sains melihat kujang sebagai alat pertanian ditambah senjata ergonomis ditambah penanda astronomi musim tanam, yang merupakan produk teknologi tinggi Sunda abad 8-15 M. Sudut pandang filosofis melihat kujang adalah simbol keseimbangan 3 unsur yaitu air, angin, tanah, serta simbol adaptasi dan harmoni dengan alam. Sementara dari sudut pandang teologis Sunda, kujang adalah pusaka “yang bertuah” karena jadi pengingat bahwa manusia harus jadi “pamomong”, menyelaraskan diri dengan Sang Hyang Kersa dan alam.
Kesimpulannya, orang Sunda tidak “menyembah” kujang. Kujang adalah “Kitab Besi” atau sang kanda ng wesi. Setiap kali orang Sunda melihat kujang, dia diingatkan 3 hal, yaitu kerja untuk dipakai ngolah bumi, pikir agar selaras seperti lekukan alam, dan rasa untuk lindungi, jangan sakiti. Makanya ada sesanti dan pepatah “Kujang teu meunang dipake neunggeul dulur” atau kujang tidak boleh dipakai untuk memukul saudara. Kesimpulannya, kudjang atau “Kudihyang” merupakan sifat inti manusia, yang menekankan pada aspek kebijaksanaan. Jika dianalogikan sebagai perkakas perang, kudjang adalah senjata ampuh untuk mengendalikan diri dari segala bentuk yang merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Ini adalah kaweruh atau pengetahuan dasar bagi siapapun yang mendalami ilmu alam, sebab kudjang bukan sekedar besi tempa, tetapi sifat manusia yang ditempa, sehingga menjadi kuat untuk kebaikan bersama. Nilai-nilai pengabdian, yang didasari sifat utama yaitu Silih Asih, Silih Asuh dan Silih Asah menjadi satu badan dalam pikiran dan perbuatan yaitu Silih Wangi.
Penulis adalah budayawan, tinggal di Cianjur dan Sesepuh Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran
Advertisement
