GazanaPublika.com, Pandeglang – Kematian misterius Syarif Hidayat (44), seorang tahanan titipan asal Kabupaten Bogor yang diduga terlibat kasus pencurian kerbau, di dalam kamar mandi Lapas Kelas II-B Pandeglang, masih menyisakan pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Dugaan adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kode etik pegawai Lapas pun memicu aksi protes dari kelompok Masyarakat Peduli Rutan Nusantara (MPRN) Banten.

Koordinator aksi, Arif Wahyudin, menyampaikan bahwa insiden ini diduga melanggar ketentuan HAM dan aturan kode etik yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. “Kami meminta Kementerian Hukum dan HAM untuk turun tangan dan mengusut tuntas kasus kematian tahanan ini di Lapas Pandeglang,” ujar Arif saat unjuk rasa, Selasa (17/9/2024).

Arif juga menekankan pentingnya penerapan aturan kode etik pegawai pemasyarakatan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor M HH KTP 05 02 Tahun 2011. Menurutnya, setiap pegawai harus menjalankan tugas dengan mengedepankan disiplin dan tanggung jawab tanpa melanggar kode etik yang telah ditetapkan.

“Kami mengecam keras dugaan penganiayaan yang terjadi di Lapas Pandeglang, dan meminta pihak kepolisian untuk segera menyelidiki kasus ini secara menyeluruh agar tidak ada lagi oknum yang bertindak sewenang-wenang,” tegas Arif.

Dalam tuntutannya, MPRN meminta agar DPR RI, khususnya Komisi III, membentuk panitia khusus (Pansus) untuk menyelidiki kasus ini. Mereka juga mendesak Kemenkumham agar bertindak tegas terhadap oknum pegawai yang diduga terlibat dalam pelanggaran tersebut.

Selain itu, MPRN meminta RSUD Berkah, yang melakukan pemeriksaan jenazah Syarif, untuk memberikan keterangan yang jujur terkait penyebab kematian. “Jangan sampai RSUD terpengaruh oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” tambah Arif.

Arif juga menegaskan bahwa MPRN akan terus memperjuangkan keadilan bagi Syarif Hidayat dan berencana menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

“Jika tuntutan kami tidak dipenuhi, kami akan kembali melakukan aksi dengan massa yang lebih banyak. Kebenaran tidak bisa selamanya disembunyikan,” pungkasnya.

Redaksi

Exit mobile version