GazanaPublika.com, Sleman – Suasana hangat dan penuh tawa menyelimuti kampus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sleman, DIY, Sabtu (26/7/2025). Presiden ke-7 RI Joko Widodo hadir dalam sebuah momen reuni yang mempertemukannya kembali dengan teman-teman seangkatan semasa kuliah. Namun di tengah gelak canda, Jokowi menyelipkan sindiran tajam terhadap isu sensitif yang sempat mengguncang ruang publik: dugaan ijazah palsu yang menyeret namanya.

Dalam sambutan singkat yang terasa personal, Jokowi menyebut peristiwa itu sebagai bagian dari permainan politik.

“Sekali lagi ini politik, bukan soal asli atau tidak asli. Semua tahu ijazah saya asli, tapi untuk kepentingan politik ya muncul hal-hal semacam itu,” ujarnya, disambut anggukan dari hadirin yang rata-rata adalah sahabat lamanya, dikutip dari Detik.com.

Tak hanya membela diri, Jokowi menyampaikan kegundahan yang dikemas dengan gaya khasnya: humor. Ia menyebut reuni ini seharusnya menjadi tempat nostalgia yang menyenangkan, namun terganjal oleh isu yang masih menggantung di meja hukum.

“Tadi Pak Arif bilang soal nostalgia, tapi saya bilang, jangan senang dulu. Karena ijazah saya masih diragukan,” kata Jokowi sambil tersenyum kecut.

“Kalau pengadilan bilang asli, baru boleh senang. Tapi kalau enggak, wah… bisa-bisa yang 88 juga semuanya palsu,” tukasnya disambut tawa.

Dalam momen yang lebih santai, Jokowi pun menggoda salah satu kawan lamanya, Jambrung Sasono, yang dulu dikenal sering mengulang mata kuliah. “Kalau yang diragukan Jambrung, itu boleh. Matematika saja sampai delapan kali mengulang,” canda Jokowi sambil menunjuk rekannya yang tertawa lebar.

Tak hanya menjadi ajang pelepas rindu, reuni ini pun menjadi panggung kecil bagi Jokowi untuk menegaskan posisinya, membalas isu dengan canda namun sarat makna. Ia tidak menyebut nama secara langsung, tetapi arah pernyataannya jelas—ada pihak-pihak besar yang disebutnya sengaja menggulirkan isu demi agenda politik tertentu.

Dengan gaya lugas namun bersahabat, Jokowi tampaknya mengirim pesan bahwa di balik serangan politik yang ia hadapi, ia masih bisa tertawa bersama kawan lama. Dan bagi publik, momen ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bagian dari babak penting drama politik Indonesia yang terus bergulir.

Redaksi

Exit mobile version