GazanaPublika.com – Di tengah kemajuan zaman dan globalisasi budaya, terdapat kisah luar biasa tentang bagaimana warisan Majapahit—kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-13 hingga 15—masih hidup dalam bentuk tak terduga. Bukan melalui prasasti atau bangunan tua, melainkan lewat seni bela diri yang terus dipraktikkan dan diajarkan di Filipina. Nama bela diri itu adalah Kali Majapahit.
Asal-usul Kali Majapahit dapat ditelusuri hingga masa ekspansi militer Kerajaan Majapahit ke kawasan Asia Tenggara, terutama pada era ekspedisi Pamalayu dan penyatuan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan raja-raja Majapahit. Dalam ekspansi itu, tidak hanya sistem pemerintahan dan agama Hindu-Buddha yang tersebar, tapi juga sistem militer termasuk ilmu bela diri. Kala itu, Majapahit memiliki seni bela diri yang dikenal sebagai Sundang Majapahit, sebuah sistem tempur yang digunakan para prajurit di medan perang dan dikembangkan oleh para panglima seperti Mahesa Anabrang.
Sundang Majapahit bukanlah silat biasa. Ia menggabungkan teknik tempur menggunakan tombak, pedang, pisau pendek, dan tangan kosong dengan filosofi hidup yang berakar pada konsep dharma dan etika ksatria. Seni bela diri ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah kekuasaan Majapahit, termasuk ke daerah yang kini menjadi bagian dari Filipina selatan. Di wilayah ini, seni tempur itu bertahan bahkan setelah Majapahit runtuh sekitar tahun 1527, sementara di tanah asalnya, Jawa, Sundang Majapahit perlahan hilang ditelan zaman dan perubahan politik.
Ratusan tahun berlalu. Baru pada akhir abad ke-20, seorang praktisi bela diri asal Prancis bernama Fred Evrard menemukan kembali serpihan sejarah itu. Fred, yang mempelajari berbagai seni bela diri Asia termasuk silat dan kali (bela diri Filipina), menelusuri jejak-jejak warisan Majapahit yang masih tersisa dalam bentuk teknik bela diri di Filipina. Ia kemudian merumuskan ulang dan menyusun sistem bernama Kali Majapahit, sebuah bela diri modern yang menggabungkan teknik senjata dan tangan kosong khas Asia Tenggara, termasuk unsur dari silat, kungfu, karate, dan pencak.
Pada tahun 1998, bersama istrinya Hiu Lila, Fred Evrard mendirikan sekolah Kali Majapahit di Cebu, Filipina. Kali Majapahit kemudian dikembangkan sebagai sistem bela diri holistik yang tidak hanya berfokus pada teknik bertarung, tetapi juga aspek kesehatan, penguatan karakter, dan gaya hidup. Dalam pengajaran mereka, Fred dan Lila menekankan pentingnya nilai budaya dan sejarah di balik setiap gerakan dan teknik, menjadikan Kali Majapahit bukan sekadar sistem pertahanan diri, tetapi juga sarana pelestarian warisan budaya Majapahit yang terlupakan.
Dalam waktu singkat, Kali Majapahit berkembang pesat. Sistem ini mulai diajarkan di berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Tahiti, dan bahkan kembali masuk ke Indonesia, negeri asal dari leluhurnya. Yang menarik, sejak tahun 2008–2009, Kali Majapahit telah menjadi bagian dari pelatihan resmi militer dan kepolisian Filipina. Ini menjadi bukti pengakuan atas efektivitas sistem ini dalam konteks keamanan modern.
Kali Majapahit menjadi unik bukan hanya karena warisan sejarahnya, tetapi karena ia mampu menyatukan masa lalu dan masa kini. Di satu sisi, ia membawa semangat ksatria Majapahit yang berjuang mempertahankan nusantara; di sisi lain, ia menjawab tantangan dunia modern dengan pendekatan sistemik terhadap bela diri, kesehatan, dan mentalitas juang. Ia adalah warisan yang tidak beku dalam museum, melainkan hidup, diajarkan, dipelajari, dan dikembangkan lintas generasi.
Melihat bagaimana sistem ini berkembang, muncul kesadaran bahwa sejarah tidak hanya disimpan dalam naskah atau situs arkeologi, tapi juga dalam tubuh, gerakan, dan nilai-nilai yang diturunkan melalui tradisi bela diri. Kali Majapahit adalah contoh nyata bagaimana kejayaan masa lalu tidak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali oleh mereka yang mencintai akar budaya bangsa. Dan dalam bentuk yang baru, ia tetap mengajarkan pelajaran lama: tentang keberanian, kedisiplinan, dan kehormatan.
Struktur dan Teknik Kali Majapahit
Kali Majapahit merupakan perpaduan berbagai disiplin bela diri:
• Stick (tongkat): teknik Sinawali, Doble Baston, Solo Baston
• Knife (pisau): teknik beladiri pisau, knife defense
• Kadena de Mano (tangan kosong untuk pertarungan jarak dekat)
• Panantukan (tinju ala Filipina), Dumog (grappling)
• Sibat / Bangkow (tombak atau tongkat panjang), dan teknik pedang + pisau (Espada y Daga)

