GazanaPublika.com – Sulit sekali menemukan data tertulis Krakatau pada naskah yang sezaman melainkan hanya terlihat di dalam naskah pustaka raja Purwa yang judul aslinya adalah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara larya Ranggawarsita yang menjelaskan tentang meletusnya gunung purba bernama Gunung Krakatau dianggap tidak valid karena naskah tidak sezaman dan dianggap bercampur mitologi. Apalagi penanggalan tahunnya dianggap salah sekitar pada tahun 338 Saka atau 416 Masehi. Sedangkan catatan dunia menjelaskam sekitar tahun 535 masehi. Walau sebetulnya dalam naskah tersebut, entah bersumber dari mana, ternyata benar gunung tersebut pernah meletus dan sangat parah. Guncangannya melanda dunia bahkan pada zaman The Dark Age, dampaknya menyebabkan orang Eropa bermigrasi besar-besaran. Dampaknya terasa hingga kurang lebih 100 tahun. Apabila naskah lokal tidak dipercaya menjelaskan itu, nyatanya informasinya tercatat dari sejarah di negara luar seperti Eropa, Cina dan India.
Artinya ada dua kasus ledakan Gunung Berapi di Nusantara yang menyebabkan krisis dunia yakni Tambora dan Krakatau. Ternyata ‘benda alam’ di nusantara sangat mempengaruhi perubahan dunia. Tidak diragukan ledakan Gunung Krakatau masih menyimpan banyak misteri yang harus diungkap baik secara rasional maupun secara mitologi. Apabila berangkat dari logika maka menyimpan sejuta fakta lalu apabila berangkat dari mitologi bahwa itu suatu upaya untuk memaknakan fakta itu sendiri. Dari ratusan tahun yang lalu yang telah terjadi tentu tidak banyak data yang bisa terungkap namun sudah pasti alam nusantara menyimpan banyak misteri.
Tahun 535 Masehi menorehkan jejak kelam dalam sejarah umat manusia. Dunia mendadak menjadi asing bagi penghuninya. Matahari yang selama ribuan tahun menjadi sumber kehidupan tiba-tiba kehilangan cahaya. Ia redup, bagai bulan pucat yang terselubung debu. Siang hari terasa seperti senja tanpa akhir. Bulan purnama, yang biasanya memantulkan cahaya perak di malam hari, tak lagi berkilau, hanya tampak samar di langit yang muram.
Orang-orang pada masa itu tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hanya tahu bahwa langit berubah. Udara menjadi dingin, tanah kering, dan hujan turun dengan cara yang aneh—kadang deras seperti badai mematikan, kadang tak kunjung datang. Pertanian gagal di banyak negeri. Buah-buahan tidak matang, anggur terasa kecut, gandum tidak tumbuh. Kelaparan merajalela, wabah menyusul, dan peperangan merebak demi perebutan sisa-sisa makanan.
Di Bizantium, sejarawan Procopius menuliskan kesaksian muram: “Matahari bersinar seperti bulan sepanjang tahun, tanpa cahaya sejati.” Laut Mediterania terjerumus dalam musim dingin panjang, dan hanya beberapa tahun kemudian, Wabah Yustinianus menewaskan jutaan jiwa, mungkin dipicu lemahnya tubuh manusia akibat lapar.
Di Jepang, Nihon Shoki mengabadikan suara putus asa dari istana Kaisar Senka. “Makanan adalah pondasi kekaisaran. Emas dan perak tak dapat mengenyangkan. Seribu mutiara tak berguna bagi orang yang kelaparan dan kedinginan.” Negeri itu didera kelaparan, diikuti wabah cacar air yang merenggut nyawa banyak orang.
Di Tiongkok, kronik Dinasti Liang mencatat pada tahun 535 M langit utara diliputi kabut kuning. Debu turun seperti salju di kota Nanjing. Setahun kemudian di Xi’an, kematian meluas: tujuh hingga delapan dari setiap sepuluh orang meregang nyawa. Para penyintas kehabisan akal, terpaksa memakan daging sesama manusia untuk bertahan hidup.
Eropa Utara dan Irlandia pun tak luput. Catatan annal Irlandia menyebutkan, “Tidak ada roti antara tahun 536 hingga 539.” Dendrokronologi—ilmu membaca cincin pohon—mengonfirmasi kebenaran itu. Pertumbuhan pepohonan terhenti, tanah kehilangan kesuburannya.
Semua ini bukan kebetulan. Alam sedang berbicara melalui bencana raksasa. Dan jejaknya, banyak ilmuwan menduga, ada di Nusantara, tepatnya di Selat Sunda. Di sana, kini berdiri Gunung Anak Krakatau yang lahir dari letusan tahun 1883. Namun, bukan ia penyebab semua ini. Bukan pula Krakatau yang lebih tua, yang memekakkan telinga dunia dengan dentuman terdengar hingga ribuan kilometer pada abad ke-19. Yang jadi tersangka adalah gunung purba yang lebih besar, nenek moyang mereka semua: Gunung Batuwara.
Nama itu asing bagi telinga masa kini, karena sebutan “Krakatau” lebih populer. Tetapi naskah-naskah Sunda Kuna menyebutnya demikian: Batuwara. Dialah gunung agung yang pernah menjulang di Selat Sunda, penghubung antara Jawa dan Sumatra. Letusannya dipercaya memisahkan dua pulau besar itu, menciptakan Selat Sunda yang kita kenal sekarang.
Naskah Pustaka Raja Purwa mengisahkan dengan bahasa yang menggetarkan: bumi berguncang hebat, petir menyambar, kilat menghujam, badai menggulung, hujan lebat mendera, lalu kegelapan mutlak menutupi dunia. Gambaran itu begitu mirip dengan catatan dunia lain pada masa yang sama, sehingga para peneliti meyakini ada ingatan kolektif yang terjaga lewat tradisi lisan Sunda.
Catatan Dinasti Selatan Tiongkok, Nan Shi, juga menyinggung peristiwa dahsyat ini. Pada Februari 535, terdengar dentuman dua kali lebih keras dari geledek. Kalimat ini, bagi para peneliti modern, mengingatkan pada letusan Krakatau tahun 1883 yang suaranya terdengar hingga 4.000 mil jauhnya. Jika benar begitu, maka Batuwara bukan sekadar letusan gunung api biasa. Ia adalah letusan kosmik yang menorehkan luka global.
Para ilmuwan kini masih memperdebatkan penyebab kegelapan tahun 535–536. Apakah asteroid yang jatuh? Apakah komet? Atau gunung api? Jejak sulfur yang tertangkap dalam inti es Greenland dan Antartika menunjukkan tanda jelas aktivitas vulkanik besar. Dan karena letusan itu berasal dari wilayah tropis, maka kandidat yang paling masuk akal adalah gunung berapi raksasa di sekitar khatulistiwa—salah satunya Krakatau Purba, Batuwara.
Jika benar, maka Batuwara adalah biang keladi Abad Kegelapan yang melanda umat manusia selama satu abad penuh. Bukan hanya alam yang hancur, tetapi peradaban pun terguncang. Kekaisaran Bizantium melemah, wabah dan kelaparan meruntuhkan kekuatan politik Asia, migrasi besar-besaran terjadi di Eropa, bahkan pola perdagangan di Asia Tenggara pun mungkin berubah akibat bencana ini.
Kini Batuwara tinggal nama. Ia terkubur dalam ingatan kabur, digantikan oleh “Krakatau” yang meledak pada abad ke-19 dan melahirkan Anak Krakatau di abad ke-20. Namun, di balik semua itu, Batuwara tetap menyimpan misteri: sebuah letusan purba yang sekali murka, mampu mengubah wajah dunia dan menggetarkan fondasi peradaban manusia.
Timeline Dampak Letusan Besar (535–635 M)
535–536 M
• Letusan raksasa (diduga Krakatau Purba / Batuwara) → kabut vulkanik global.
• Procopius (Bizantium): “Matahari bersinar seperti bulan, redup sepanjang tahun.”
• Catatan Tiongkok: salju di musim panas, gagal panen.
• Nusantara: tradisi Sunda Kuna menyebut Gunung Batuwara meletus, memisahkan Jawa–Sumatra.
537–539 M
• Eropa Utara & Irlandia: Annals of Ulster → “Tidak ada roti selama tiga tahun.”
• Pohon cincin menunjukkan pertumbuhan sangat buruk.
• Kelaparan meluas, populasi melemah.
540–541 M
• Letusan besar kedua (bukti sulfur di inti es).
• Kondisi iklim makin buruk.
• Muncul Wabah Justinian di Bizantium (541–549 M), menewaskan jutaan orang.
550–570 M
• Dunia perlahan pulih, tapi populasi masih rendah.
• Migrasi besar-besaran di Eropa (masa “Dark Age” awal).
• Asia: Tiongkok dan India alami krisis pangan, mengganggu dinasti.
580–600 M
• Mulai stabil kembali, tapi bekas dampak terasa:
• Bizantium makin melemah.
• Eropa Barat memasuki abad kegelapan.
• Asia Tenggara: pola perdagangan & migrasi bisa jadi terpengaruh (pergeseran pusat kekuasaan dari Jawa Barat ke Jawa Tengah pada abad berikutnya).
600–635 M
• Kondisi iklim sudah pulih normal.
• Namun, dalam jangka panjang:
• Krisis populasi → mengubah struktur politik dunia.
• Agama-agama besar (Kristen, Buddha, Islam awal abad ke-7) tumbuh dalam lanskap dunia yang sudah berubah oleh krisis ini.
Kesimpulan
• Dampak iklim langsung: ±10 tahun (535–545 M).
• Efek kelaparan & wabah: ±30 tahun (sampai 560-an).
• Efek sosial-politik: terasa hingga 100 tahun, karena perubahan besar dalam demografi, geopolitik, dan lahirnya era baru peradaban.

