Konon duhulu ada cerita, Suku Anak Dalam di Jambi sangat sakti. Tidak ada yang berani mengganggu mereka dan sebaliknya mereka dikenal orang yang santun asal tidak diganggu. Ada satu kisah masyarakat dan bukan mitos, suatu ketika ada mobil melintasi diantara hutan mereka, dikarenakan pengendara mobil berjalan tidak ada adab, mobil itersebut bisa diberhentikan oleh Suku Anak Dalam. Namun semua itu tinggal cerita karena kesaktian tradisional tidak mampu mengalahkan modernisasi dan suku anak dalam pun digerus zaman.
GazanaPublika.com – Dalam jantung hutan rimba, di bawah kanopi rimbun yang memercikkan cahaya matahari ke dalamnya, terdapat sebuah kehidupan yang jarang tersentuh oleh dunia luar. Di sanalah Orang Rimba, penjaga kearifan alam, menjaga tradisi kuno mereka dengan penuh keyakinan.
Bayangkan diri Anda berada di antara pohon-pohon raksasa, menyimak kehidupan masyarakat yang hidup selaras dengan alam. Mereka bukan hanya menjalani hidup nomaden, melainkan juga menjadi penjaga spiritual hutan yang mereka sebut sebagai rumah mereka.
Puluhan ribu surat yang dilayangkan oleh ‘pecinta budaya’ dan lingkungan kepada pemerintah mengenai orang rimba di Brazil atau Taiwan yang terancam keberadaannya bukan hanya cerita tentang pesta demokrasi, melainkan cerminan dari pertarungan mereka mempertahankan budaya mereka di tengah arus modernisasi. Diskriminasi karena keyakinan agama dan pengabaian terhadap tradisi mereka dalam menata ruang hidup menjadi sorotan utama. Lalu apakah kisah diskriminasi sosial ini juga, menggambarkan keadaan sosial di Indonesia?
Orang Rimba, yang memiliki hubungan sakral dengan hutan dan alam sekitarnya, menghadapi tantangan besar. Berburu dan meramu bukan hanya sekadar cara hidup, melainkan corak kehidupan yang mencerminkan penghargaan mendalam terhadap keberadaan hutan itu sendiri.
Namun, perjuangan mereka bukan hanya soal bertahan hidup. Mereka harus menghadapi diskriminasi dan eksklusi, terutama karena berbeda dalam pandangan agama dan pola hidup. Sebuah harta karun kearifan lokal yang harus kita apresiasi.
Melangun, suatu tradisi perpindahan yang sakral bagi mereka, menandai perpisahan dengan orang yang mereka cintai. Hutan adalah rumah bagi mereka, lebih dari sekadar lahan yang ditinggali. Itu adalah tempat mereka mencari identitas, kearifan, dan ketenangan.
Kisah Orang Rimba adalah tentang perlawanan mereka dalam mempertahankan hak mereka, kehidupan tradisional mereka, dan harapan untuk tetap terhubung dengan alam. Dalam hiruk-pikuk modernisasi, kisah mereka menjadi panggilan untuk memahami kekayaan budaya yang mungkin terabaikan, tetapi seharusnya dipelihara untuk generasi mendatang.
Suku asli seperti Orang Rimba dan Suku Anak Dalam tampaknya hidup dalam dunia yang terisolasi dari perkembangan zaman. Bagi mereka, waktu sepertinya berputar di sekitar pola genetika nenek moyang mereka yang sudah berhenti ratusan tahun yang lalu.
Penelitian dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada tahun 2015 yang dikonfirmasi oleh Profesor Herawati Supolo Sudoyo, seorang ahli genetika, mengungkapkan bahwa Orang Rimba hidup dalam keadaan yang hampir tak tersentuh oleh perubahan zaman. Mereka mengisolasi diri dalam rimba yang lebat dengan ritual dan adat yang ketat. Namun, dengan tekanan perubahan di luar, terutama pembukaan rimba secara besar-besaran, keadaan ini mulai terkikis.
Suku Anak Dalam juga mengalami perubahan serupa. Mereka sebelumnya hidup dalam kelompok kecil di dalam hutan, tetapi dengan semakin berkurangnya tutupan hutan karena pembangunan, kondisi kehidupan mereka pun menjadi tak pasti.
Mereka yang sebelumnya hidup semi-nomaden, bergantung pada berburu dan meramu dalam area yang luas, kini terpaksa hidup tanpa kepastian tempat tinggal, terlempar ke wilayah kebun sawit atau tanah milik penduduk desa.
Kondisi ini membuat kelompok-kelompok Suku Anak Dalam terpecah-pecah, hidup tersebar di berbagai wilayah, terpaksa menyesuaikan diri dengan keadaan yang semakin sulit. Dengan jumlah kurang lebih 319 kepala keluarga, atau sekitar 1.500 jiwa, kehidupan mereka yang sebelumnya terkait erat dengan hutan mulai berubah secara drastis karena perubahan lingkungan yang mengintensifkan tekanan atas cara hidup tradisional mereka.
Komunitas Suku Anak Dalam hidup dalam beban sejarah panjang dari stigma negatif yang menimpa keberadaan mereka. Di mata masyarakat mayoritas Melayu Muslim di Sumatera, panggilan “Kubu” untuk Orang Rimba atau Suku Anak Dalam menyimpan konotasi yang merendahkan. Ini mencakup arti kotor, bau tidak sedap, primitif, hingga menyiratkan ketidakmanusiaan. (Red)

