GazanaPublika.com – Ada sebuah asumsi yang sudah lama beredar—kadang tanpa disadari—di benak banyak orang Nusantara: bahwa bahasa Sunda dan bahasa Jawa adalah dua entitas yang sejak awal sepenuhnya terpisah. Seolah keduanya lahir di rahim sejarah yang berbeda, tumbuh sendiri-sendiri, dan baru bersentuhan ketika politik, kerajaan, atau batas wilayah modern memaksanya.

Namun, asumsi itu mulai runtuh ketika kita berhenti sejenak dari cerita tentang prasasti, dinasti, dan kronik, lalu memasuki wilayah yang jauh lebih sunyi sekaligus jujur: sejarah bahasa. Di sana, tidak ada raja, tidak ada penaklukan heroik—yang ada hanyalah bunyi, kata, dan pola bicara manusia yang diwariskan lintas generasi.

Dan justru di wilayah sunyi itulah, kisah yang jauh lebih tua terbuka: Sunda dan Jawa pernah berbagi satu induk bahasa yang sama, jauh sebelum keduanya menyandang nama seperti sekarang.

Bahasa tidak lahir dari batu prasasti

Kesalahan paling umum dalam memahami sejarah bahasa Nusantara adalah menyamakan usia bahasa dengan usia teks tertulisnya. Kita sering mendengar pernyataan seperti “Bahasa Jawa Kuno muncul abad ke-8” atau “Bahasa Sunda Kuno muncul dalam prasasti abad ke-14”, lalu tanpa sadar menarik kesimpulan bahwa sebelum masa itu, bahasanya belum eksis.

Dalam linguistik, cara berpikir ini keliru.
Bahasa tidak lahir di batu, logam, atau daun lontar. Bahasa lahir jauh lebih awal—di ruang domestik, di ladang, di perahu, di relasi ibu dan anak. Dalam teori linguistik historis, bahasa selalu mendahului tradisi tulis, sering kali ribuan tahun lebih tua.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang bahasa Sunda dan Jawa, sesungguhnya kita sedang berurusan dengan entitas yang usia nyatanya jauh melampaui catatan sejarah formal.

Bahasa sebagai warisan: teori proto-language

Dalam linguistik historis, ada satu fondasi teoretis utama yang disebut teori proto-language. Teori ini menyatakan bahwa bahasa-bahasa modern yang memiliki kemiripan sistematis bukanlah kebetulan, melainkan berasal dari satu bahasa leluhur yang sama—bahasa induk yang kini sudah punah, tetapi bisa direkonstruksi.

Rekonstruksi ini dilakukan melalui comparative method (metode perbandingan), yakni:
• membandingkan kosakata inti,
• menelusuri perubahan bunyi yang konsisten,
• menganalisis pola morfologi dan sintaksis bersama.

Untuk kawasan Nusantara, bahasa induk besar itu dikenal sebagai Proto-Austronesia, yang diperkirakan digunakan sekitar 4.500–5.000 tahun lalu. Dari bahasa inilah kemudian berkembang ribuan bahasa di Asia Tenggara, Pasifik, dan Madagaskar.

Namun, bagi hubungan Sunda–Jawa, Proto-Austronesia masih terlalu jauh. Kita perlu turun ke satu tingkat di bawahnya.

Proto regional: tempat Sunda dan Jawa berpisah

Dalam kajian linguistik modern, para ahli berpendapat bahwa setelah migrasi awal Austronesia, terjadi fase-fase regionalisasi bahasa. Dari sinilah muncul apa yang sering disebut sebagai Proto–Malayo-Polinesia, dan dalam lingkup yang lebih sempit lagi, bahasa proto regional Jawa–Sunda (meski penamaannya masih diperdebatkan).

Penting digarisbawahi: istilah ‘Proto-Jawa–Sunda’ tidak selalu berarti satu bahasa dengan nama resmi demikian. Ia adalah konsep rekonstruktif untuk menyebut satu tahap bahasa leluhur yang:
• belum sepenuhnya Jawa,
• belum sepenuhnya Sunda,
• tetapi sudah berbeda dari Proto-Austronesia.
Di tahap inilah, nenek moyang penutur Sunda dan Jawa masih saling memahami dengan baik.

Kapan perpisahan itu terjadi? Teori waktu dalam linguistik

Pertanyaan tentang waktu pemisahan bahasa tidak dijawab secara spekulatif. Di sinilah para linguis menggunakan pendekatan leksikostatistik dan glotokronologi.

Secara sederhana:
• Leksikostatistik membandingkan persentase kesamaan kosakata inti (seperti ‘air’, ‘mata’, ‘dua’, ‘makan’).
• Glotokronologi mencoba memperkirakan rentang waktu perpisahan berdasarkan laju perubahan kosakata tersebut.

Meskipun glotokronologi klasik kini dikritik karena terlalu mekanistik, hasil-hasilnya tetap berguna sebagai perkiraan kasar, terutama bila dikombinasikan dengan data fonologi dan morfologi.

Dalam kasus Sunda dan Jawa, tingkat kesamaan kosakata inti hanya berada di kisaran 30–40 persen. Dalam teori linguistik historis, angka ini mengindikasikan perpisahan yang sangat tua—bukan ratusan tahun, melainkan ribuan tahun.

Berdasarkan berbagai kajian, para ahli memperkirakan bahwa:
• pemisahan bahasa Sunda dan Jawa terjadi sekitar 3.000–4.000 tahun yang lalu,
• sementara bahasa induknya digunakan sekitar 3.500–4.500 tahun lalu.
Ini berarti perpisahan tersebut terjadi jauh sebelum:
• pengaruh India masuk ke Nusantara,
• munculnya kerajaan Hindu-Buddha,
• bahkan sebelum konsep geografis “tanah Sunda” dan ‘tanah Jawa’ terbentuk.

Mengapa Sunda dan Jawa kini terasa sangat berbeda?

Pertanyaan ini sering muncul: jika berasal dari satu induk, mengapa kini perbedaannya begitu besar?
Jawabannya terletak pada sejarah sosial bahasa.

Bahasa Jawa mengalami transformasi besar akibat:
• pembentukan sistem tingkat tutur,
• sentralisasi politik kerajaan,
• kuatnya tradisi sastra dan istana.

Sementara bahasa Sunda berkembang secara berbeda, relatif lebih stabil dalam fonologi dan struktur dasar, dan sering dianggap lebih konservatif dalam mempertahankan unsur lama.

Namun, dalam linguistik, “konservatif” bukan berarti lebih primitif, dan “inovatif” bukan berarti lebih maju. Itu hanya menunjukkan arah evolusi yang berbeda.

Satu poin penting yang sering luput: bahasa istana selalu datang belakangan. Baik bahasa Jawa Kuno maupun Sunda Kuno bukanlah bahasa ciptaan elite, melainkan varian bahasa rakyat yang kemudian dibakukan untuk kepentingan administrasi, ritual, dan kekuasaan.

Artinya, ketika prasasti pertama ditulis, bahasa itu sudah hidup lama di masyarakat—kemungkinan ratusan bahkan ribuan tahun. Dengan demikian, sejarah bahasa Sunda dan Jawa tidak bisa dibaca hanya dari sejarah kerajaan.

Sebelum Sanskerta, sebelum India

Pengaruh Sanskerta di Nusantara memang besar, tetapi dalam linguistik, ia digolongkan sebagai superstratum, bukan substratum. Ia menambah kosakata dan konsep, tetapi tidak membentuk struktur dasar bahasa.

Struktur kalimat, sistem afiks, pola kata kerja, dan fonologi inti bahasa Sunda dan Jawa adalah warisan lokal Nusantara, terbentuk sebelum pertemuan dengan peradaban India. Sanskerta adalah lapisan budaya—bukan fondasi linguistik.

Bahasa sebagai arsip paling jujur

Dokumen bisa hilang, prasasti bisa hancur, dan kronik bisa dimanipulasi. Namun bahasa menyimpan memori sejarah dengan cara yang jauh lebih sunyi dan jujur. Ia merekam perjalanan manusia bukan lewat cerita besar, melainkan lewat perubahan kecil yang tak disadari: bunyi yang bergeser, makna yang menyempit, kata yang bertahan.

Dalam perspektif ini, bahasa Sunda dan Jawa adalah dua cabang dari satu pohon tua, yang akarnya tertanam dalam-dalam di tanah Nusantara prasejarah. Mereka tidak disatukan oleh nostalgia, melainkan oleh hukum evolusi bahasa itu sendiri.
Dan mungkin, jauh di balik kosakata yang kini dianggap ‘asing’ atau ‘tidak jelas asalnya’, masih tersisa gema bahasa yang bahkan lebih tua dari Austronesia—jejak yang belum sepenuhnya kita pahami.

Redaksi

Exit mobile version