GazanaPublika.com – Pulau Jawa, yang saat ini menjadi pusat kehidupan tiga wilayah administratif, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, adalah rumah bagi ratusan juta penduduk. Namun, jauh sebelum menjadi wilayah padat seperti sekarang, Jawa adalah pulau kosong tanpa penghuni. Kisah tentang awal mula pulau ini diceritakan dalam Babad Pakuan atau dikenal juga sebagai Babad Pajajaran, sebuah naskah kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarahnya.
Pulau Jawa yang Kosong
Menurut Babad Pajajaran, dahulu kala Pulau Jawa adalah tanah kosong yang disebut Nusa Ara-ara. Pulau ini digambarkan sebagai lahan subur tanpa penghuni, hanya dihuni oleh “Dewa Kayu” dan “Dewa Batu”. Keadaan ini menarik perhatian dari orang-orang di belahan dunia lain, yang kemudian memutuskan untuk menjadikan pulau tersebut sebagai tempat tinggal baru.
Dikisahkan bahwa seorang raja dari belahan dunia lain, bersama istrinya yang bernama Sri Putih, seorang putri dari Mesir, datang ke Nusa Ara-ara. Mereka membawa serta dua ribu orang—seribu berasal dari Mesir dan seribu lainnya dari Selan. Pendatang ini membawa tanaman Jawawut, sejenis sereal berbiji kecil, yang menjadi makanan pokok mereka. Jawawut tumbuh subur di tanah Pulau Jawa yang kaya akan sumber daya. Karena keberadaan tanaman inilah, pulau tersebut akhirnya diberi nama “Jawa”.
Penduduk Pulau Jawa Bertambah
Setelah menetap, raja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan pertama di Pulau Jawa dengan pusat pemerintahan di Medang Kamulan. Penduduk awal yang hanya berjumlah dua ribu orang terus bertambah hingga mencapai 10.000 jiwa seiring waktu. Ketika populasi meningkat, kerajaan pun berpindah-pindah, dari Gunung Kidul ke Ngandong Ijo, lalu ke Lodaya, Rohan, Lombok, hingga akhirnya ke Medang Agung. Kerajaan terakhir ini kemudian dikenal sebagai Kerajaan Galuh yang berpusat di Bojong Galuh.
Seiring dengan perjalanan panjang sejarah kerajaan-kerajaan tersebut, jumlah penduduk Pulau Jawa terus bertambah hingga mencapai 18.000 jiwa. Perpindahan kerajaan mencerminkan upaya manusia untuk terus menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan kebutuhan penduduk yang semakin meningkat.
Asal Usul Nama ‘Jawa’
Nama Pulau Jawa, sebagaimana diceritakan dalam Babad Pajajaran, berasal dari tanaman Jawawut yang dibawa oleh para pendatang dari Mesir. Tanaman ini menjadi simbol awal kehidupan manusia di pulau tersebut. Dalam teks terjemahan Babad Pajajaran yang dilakukan oleh Drs. Atja dan rekan-rekannya, dijelaskan:
“Raja menikah dengan isterinya; lalu menetap di nusa Ara-ara; serta banyak manusia yang dibawanya; manusia dua ribu; yang seribu dari Mesir; yang seribu dari Selan; dan membawa pohon jawawut; itulah makanya disebut nusa Jawa karena menanam jawawut; pada masa itu.”
Meski demikian, keberadaan tanaman Jewawut sebagai asal nama Jawa masih menjadi dugaan. Jewawut sendiri adalah sejenis tanaman serelia kecil yang populer di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sulawesi Barat, Pulau Buru, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Tengah.
Legenda dan Jejak Sejarah
Selain menjelaskan asal-usul Pulau Jawa, Babad Pajajaran juga mengisahkan tentang Raja Prabu Siliwangi, seorang tokoh penting dalam sejarah Sunda. Dalam salah satu bagian cerita, Prabu Siliwangi memerintahkan anaknya yang bernama Guru Gantangan untuk mencari seorang perempuan cantik bernama Ratna Inten. Kisah perjalanan Guru Gantangan dalam menjalankan titah tersebut menjadi bagian dari narasi yang memperkaya cerita sejarah Jawa.
Penutup
Kisah tentang Pulau Jawa dalam Babad Pajajaran bukan hanya menggambarkan asal-usul sebuah nama, tetapi juga menceritakan jejak peradaban awal manusia di tanah ini. Dari pulau yang kosong hingga menjadi tempat bersemi kehidupan, Jawa telah menjadi saksi dari perjalanan panjang sejarah manusia, kebudayaan, dan peradaban yang terus berkembang hingga saat ini.

