Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Siapa bilang tasawuf itu individualis? Menanggapi kaum rasionalis dan politis yang menyangka sikap seorang sufi itu individualis, anggapan ini berangkat dari pemahaman yang kurang tepat soal zuhud. Praktik zuhud sering kali dikaitkan dengan kaum Darwis yang meninggalkan duniawi, pergi ke tempat-tempat sepi, terpencil, dan ke gunung-gunung dengan meninggalkan hiruk-pikuk keramaian duniawi.
Padahal dalam pendidikan nafsiyah kesufian diajarkan memaknai falsafah “sapu lidi” di mana mereka terikat dalam pribadi-pribadi satu kesatuan. Sebagaimana para pejuang pra-kemerdekaan, berprinsip “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Awal jalan sufi itu mengajarkan prinsip “jihad” dan “mujahadah.” Jihad dipahami bahwa setiap sufi harus menyisihkan jiwanya untuk membela kebenaran, bukan membela kelompok sehingga gerakannya bertujuan politik. Sebagaimana tarekat “Rifa’iyah”, kehidupan mereka mengembara dan ketika di suatu wilayah tampak ada kezaliman, mereka harus membela kebenaran tersebut dan melawan orang-orang jahat.
Mujahadah dipahami sebagai berjuang di jalan Allah dengan mewujudkan prinsip-prinsip ibadah, mempraktikkan ibadah dengan sungguh-sungguh.
Baik jihad maupun mujahadah, semua praktik itu dilakukan bersama dan di dalam jama’ah, tidak sendirian. Dalam jama’ah, orang-orang saling mengenal satu sama lain. Dalam keadaan tersebut, penganut tasawuf harus peka terhadap lingkungan, berempati, dan bersimpati. Ketika mereka hendak makan berjama’ah, mereka harus memperhatikan siapa di antara mereka yang belum hadir dan belum makan.
Semua proses pergaulan di dalam jama’ah harus bisa mewujudkan kekompakan, responsivitas, perhatian, dan kebersamaan. Pola-pola pergaulan di dalam jama’ah dalam satu jawiyah menekankan sikap kepedulian terhadap kawan. Kawan dalam beribadah adalah kawan seperjuangan di dunia dan di akhirat.
Semua proses itu merupakan penanaman nilai sufisme untuk menuju Tuhan. Sikap seorang sufi tidak boleh apatis dan skeptis. Sehingga dalam proses itu, jama’ah sufi dibentuk seperti sebuah sapu lidi yang terikat kuat, saling bersatu dengan sahabat untuk menuju Allah dengan berjihad dan bermujahadah.
Syekh Abu Hasan sering kali menekankan arti persahabatan. Sahabat memiliki makna yang penting. Beliau berkata, ““Kitabku adalah kawan-kawanku dan murid-muridku adalah jilid-jilidnya”. Hidup hampa tanpa sahabat. Sahabat itu adalah kekasih sebagaimana para hamba Allah adalah kekasih Allah.

