Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Makna Sapu Lidi dalam Tasawuf

Makna Sapu Lidi dalam Tasawuf

Tasawuf Elegan Minggu, 19 Mei 2024 19:51 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
tasawuf
Ilustrasi Tasawuf

Penulis: Ki Banjar Agung

GazanaPublika.com – Siapa bilang tasawuf itu individualis? Menanggapi kaum rasionalis dan politis yang menyangka sikap seorang sufi itu individualis, anggapan ini berangkat dari pemahaman yang kurang tepat soal zuhud. Praktik zuhud sering kali dikaitkan dengan kaum Darwis yang meninggalkan duniawi, pergi ke tempat-tempat sepi, terpencil, dan ke gunung-gunung dengan meninggalkan hiruk-pikuk keramaian duniawi.

Padahal dalam pendidikan nafsiyah kesufian diajarkan memaknai falsafah “sapu lidi” di mana mereka terikat dalam pribadi-pribadi satu kesatuan. Sebagaimana para pejuang pra-kemerdekaan, berprinsip “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Awal jalan sufi itu mengajarkan prinsip “jihad” dan “mujahadah.” Jihad dipahami bahwa setiap sufi harus menyisihkan jiwanya untuk membela kebenaran, bukan membela kelompok sehingga gerakannya bertujuan politik. Sebagaimana tarekat “Rifa’iyah”, kehidupan mereka mengembara dan ketika di suatu wilayah tampak ada kezaliman, mereka harus membela kebenaran tersebut dan melawan orang-orang jahat.

Mujahadah dipahami sebagai berjuang di jalan Allah dengan mewujudkan prinsip-prinsip ibadah, mempraktikkan ibadah dengan sungguh-sungguh.

Baik jihad maupun mujahadah, semua praktik itu dilakukan bersama dan di dalam jama’ah, tidak sendirian. Dalam jama’ah, orang-orang saling mengenal satu sama lain. Dalam keadaan tersebut, penganut tasawuf harus peka terhadap lingkungan, berempati, dan bersimpati. Ketika mereka hendak makan berjama’ah, mereka harus memperhatikan siapa di antara mereka yang belum hadir dan belum makan.

Semua proses pergaulan di dalam jama’ah harus bisa mewujudkan kekompakan, responsivitas, perhatian, dan kebersamaan. Pola-pola pergaulan di dalam jama’ah dalam satu jawiyah menekankan sikap kepedulian terhadap kawan. Kawan dalam beribadah adalah kawan seperjuangan di dunia dan di akhirat.

Semua proses itu merupakan penanaman nilai sufisme untuk menuju Tuhan. Sikap seorang sufi tidak boleh apatis dan skeptis. Sehingga dalam proses itu, jama’ah sufi dibentuk seperti sebuah sapu lidi yang terikat kuat, saling bersatu dengan sahabat untuk menuju Allah dengan berjihad dan bermujahadah.

Syekh Abu Hasan sering kali menekankan arti persahabatan. Sahabat memiliki makna yang penting. Beliau berkata, ““Kitabku adalah kawan-kawanku dan murid-muridku adalah jilid-jilidnya”. Hidup hampa tanpa sahabat. Sahabat itu adalah kekasih sebagaimana para hamba Allah adalah kekasih Allah.

Tarekat Tasawuf
Ki Banjar Agung

Penulis

BERITA LAINNYA

Tasawuf Elegan

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf Elegan

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Tasawuf Elegan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

Tasawuf Elegan

Alam Gaib dan Alam Batin: Sebuah Refleksi Pemahaman Keimanan

BERITA TERBARU

Ketua MPC PP Lebak Beri Apresiasi Tinggi, Penangkapan Kepala BGN Pusat

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Kejagung Bongkar Modus ‘Markup’ dan Aliran Dana Haram Dadan cs di Program ‘MBG’

Tren Sengketa Informasi di Jabar Bergeser ke Sektor Pendidikan, Dipicu Alokasi Dana BOS

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Lima Potensi Karakter Dasar Manusia dalam Desain DNA

Menelusuri Potensi Cara Berpikir yang Tertulis dalam Untaian DNA, Ini Cetak Birunya

Mengurai Dialektika Genetika, Epigenetika, dan Jati Diri Klan Leluhur

RAGAM

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

AI Bukan Tuhan: Menelanjangi Ilusi Mahatahu di Balik Kecerdasan Buatan

Eksotis, Alami dan Memikat: Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.