Penulis: Ki Banjat Agung
GazanaPublika.com – Belajarlah tasawuf dari hal-hal yang kecil dan hindarilah memandang ke arah mercusuar yang seperti menyimbolkan suatu kemegahan. Sadar atau tidak sadar di dalam hati itu memiliki potensi kemegahan bukan saja dalam hal urusan duniawi tetapi juga di dalam urusan-urusan agamawi. Orang-orang yang gagal bertasawuf biasanya ditandai dengan rajinnya membicarakan ketuhanan tetapi lupa dirinya bahwa dia lupa kepada Allah. Lupa kepada Allah itu dimaknai secara luas bukan saja lupa di dalam hal beribadah tetapi lupa kepada kewajiban dirinya untuk memperbaiki diri itu sehingga seseorang disukai oleh Allah.
Apalah artinya papan nama bahwa tersebut adalah tarekat ‘anu’ dan ‘saya adalah penganut tarekat anu’, tetapi dalam kesehariannya tidak mencerminkan di dalam dirinya sebagai penganut tarekat. Hal seperti ini adalah sesuatu yang sangat memalukan. Apalagi dalam isi pembicaraan yang mengandung kesombongan, ingin dipuji, menunjukkan eksistensi dirinya bahwa saya adalah sesuatu yang mulia dan yang bermartabat. Oleh karenanya Belajarlah dari hal yang kecil dari hal-hal seperti demikian untuk menghindarinya. Tasawuf atau tarekat itu bukan untuk dipamerkan kepada orang lain tetapi sebagai jalan hidup dan prinsip hidup yang harus dipegang dalam setiap perilaku. Berbicara urusan ketuhanan itu sesuatu yang mudah tetapi mengimplementasikannya di dalam diri sendiri adalah bukan perkara yang mudah.
Tuhan tidak butuh dibicarakan. Bahkan Allah itu tidak butuh dipatuhi tetapi kewajiban kita sebagai makhluk dan sebagai hambanya adalah memberikan pengabdian kepadanya atau menghamba. Percuma saja kita bicarakan jika kenyataannya di dalam diri kita masih banyak sifat yang membangkang. Memang membicarakan tasawuf adalah sesuatu yang nikmat namun sebetulnya yang paling nikmat ialah mengamalkannya.
Pemahaman ini bukan berarti tasawuf itu tidak bisa didiskusikan. Justru tasawuf itu memiliki pemahaman yang mendalam dalam hal amaliah dan juga persoalan ketuhanan. Namun yang dimaksud bukan dengan cara yang salah membicarakan tasawuf tapi membicarakan atau mendiskusikannya dengan tujuan untuk membangkitkan hati yang murni yang sadar agar kita lebih giat lagi dalam beribadah dan memperbaiki diri. Jauh hilang pembicaraan-pembicaraan yang hanya membangkitkan nuansa omong kosong belakang. Tetapi jadikanlah pembicaraan itu yang menimbulkan hikmah dan menjadi renungan bagi diri kita khususnya sebagai pelaku tasawuf.
Bahkan di dalam kesendirian kita, luangkanlah waktu untuk bermuhasabah bahwa sesungguhnya di dalam diri kita ini banyak kekurangan. “Ya Allah, ampunilah kami atas kekurangan-kekurangan kami dan jadikanlah kami orang yang senantiasa bersyukur kepadamu dan terimalah ibadah-ibadah kami dan jadikanlah kami berada diantara orang-orang yang soleh.”
Betul bahwa tasawuf adalah maqom dan derajat. Di dalamnya ada amal dan ada ilmu yang keduanya bersatu dan harus terus menyatu di dalam diri seseorang agar pada saatnya Allah meridhoi. (*)

