GazanaPublika.com, Lebak — Pernyataan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang mengaitkan keterpurukan Nahdlatul Ulama (NU) dengan kepemimpinan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendapat tanggapan dari M. Febi Pirmansyah.
Founder Ruang Berfikir sekaligus alumni HMI Komisariat Cilangkahan itu menilai persoalan yang terjadi di tubuh organisasi sebesar NU tidak tepat jika disederhanakan hanya berdasarkan latar belakang organisasi seseorang.
Febi meminta kritik terhadap kepemimpinan NU diarahkan pada kapasitas, kebijakan, integritas, serta rekam jejak individu yang bersangkutan, bukan dengan membawa-bawa organisasi tempat seseorang pernah berproses.
“Kalau ingin mengkritik NU, silakan. Tetapi jangan kemudian menjadikan HMI sebagai kambing hitam. Alumni HMI yang berada di NU tidak bisa digeneralisasi sebagai penyebab seluruh persoalan yang terjadi di tubuh NU,” ujar Febi pada Minggu (29/8/2026).
Pernyataan Cak Imin tersebut disampaikan saat menghadiri bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Jombang, Jumat (28/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Cak Imin mengaitkan kondisi NU dalam lima tahun terakhir dengan latar belakang organisasi dari mereka yang berada dalam kepemimpinan NU.
Menurut Febi, HMI maupun PMII sama-sama memiliki sejarah panjang dalam proses kaderisasi dan telah melahirkan banyak tokoh yang berkontribusi dalam kehidupan kebangsaan.
Karena itu, ia menilai perbedaan latar belakang organisasi seharusnya tidak dijadikan alasan untuk membangun generalisasi atau mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
“Yang harus dinilai itu kapasitas, integritas, gagasan dan rekam jejak seseorang. Bukan dia alumni HMI, PMII atau organisasi lainnya. Kalau ukurannya hanya organisasi, saya kira itu justru mempersempit cara berpikir,” katanya.
Febi juga meminta Cak Imin melakukan introspeksi sebelum memberikan penilaian terhadap kelompok lain. Ia mengingatkan bahwa perjalanan politik Cak Imin sendiri tidak terlepas dari sejumlah kontroversi dan kritik publik.
Salah satu dinamika yang disinggung Febi adalah konflik politik Cak Imin dengan keluarga dan trah Gus Dur. Ia menyebut, pada 2022, pengamat politik Asrinaldi pernah menilai langkah politik Cak Imin yang berseteru dengan Yenny Wahid sebagai sebuah “blunder”.
“Kalau hari ini Cak Imin bicara soal keterpurukan dan menyalahkan latar belakang organisasi orang lain, saya kira beliau juga perlu bercermin. Dalam perjalanan politiknya sendiri ada banyak keputusan dan manuver yang pernah mendapatkan kritik publik,” ujar Febi.
Meski demikian, Febi menegaskan kritiknya tidak dimaksudkan untuk membela seluruh tindakan alumni HMI yang pernah berada di lingkungan NU. Menurutnya, apabila terdapat persoalan yang dilakukan individu, maka evaluasi harus diarahkan kepada individu maupun kebijakannya.
“Kalau ada alumni HMI yang dianggap melakukan kesalahan, kritik orangnya dan kebijakannya. Jangan menyeret seluruh HMI. Begitu juga kalau ada alumni PMII yang melakukan kesalahan, jangan kemudian seluruh PMII disalahkan,” tegasnya.
Ia menilai NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang dan basis umat yang luas tidak semestinya direduksi menjadi arena pertarungan pengaruh antara kelompok alumni organisasi mahasiswa.
“NU itu milik umat. Jangan sampai NU seolah-olah dijadikan arena untuk mempertentangkan HMI dengan PMII. Alumni HMI, PMII dan organisasi lainnya punya kontribusi masing-masing terhadap bangsa,” katanya.
Febi menyarankan agar kritik mengenai kondisi NU disampaikan dengan parameter yang jelas. Jika memang terdapat klaim bahwa NU sedang mengalami keterpurukan, menurut dia, diperlukan indikator dan data yang dapat diuji untuk mengetahui persoalan serta mencari jalan keluarnya.
“Kalau memang NU sedang terpuruk, mari kita bicara datanya. Apa indikator keterpurukannya, apa penyebabnya, dan apa solusinya. Jangan berhenti pada kalimat ‘karena dipimpin alumni HMI’. Itu bukan analisis, tetapi generalisasi,” ujarnya.
Menurut Febi, perbedaan tradisi kaderisasi antara HMI dan PMII semestinya justru menjadi kekayaan intelektual dalam kehidupan kebangsaan. Adu gagasan dan kualitas kader, kata dia, jauh lebih produktif dibandingkan saling menyerang berdasarkan identitas organisasi.
Ia pun berharap polemik tersebut tidak berkembang menjadi konflik horizontal antara kader maupun alumni HMI dan PMII.
“Jangan wariskan kepada generasi muda politik saling menjatuhkan hanya karena berbeda organisasi. Yang harus kita wariskan adalah tradisi intelektual, keberanian mengkritik, dan kemampuan menawarkan solusi,” pungkas Febi.

