GazanaPublika.com, Lebak – Puluhan petani di Desa Cikeusik, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, mendesak UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna segera bertindak tegas mengatasi persoalan kekeringan yang mengancam sekitar 10 hektare sawah milik warga. Para petani menilai persoalan tersebut bukan semata-mata akibat musim kemarau, tetapi juga dipicu buruknya pengelolaan dan distribusi air irigasi.

Jika tidak segera ditangani, kekeringan tersebut berpotensi menyebabkan petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat ancaman gagal panen.

Salah seorang petani, Adang Abdi, mengatakan kondisi persawahan di Desa Cikeusik telah mengalami kekeringan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, persoalan tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada faktor cuaca.

“Kekeringan ini bukan hanya karena kemarau panjang, tetapi juga karena saluran irigasi yang mengaliri persawahan di Desa Cikeusik tidak berfungsi optimal,” ujar Adang kepada wartawan, Senin (7/9/2026).

Adang menilai persoalan distribusi air telah berlangsung cukup lama. Ia bahkan menyoroti kinerja petugas di pintu air yang dinilai belum menjalankan tugas secara maksimal sehingga pembagian air ke persawahan tidak merata.

“Selama ini petugas di pintu air tidak bekerja maksimal. Akibatnya pembagian air tidak merata. Kami meminta petugas bisa bekerja lebih optimal agar air bisa dibagi secara adil,” katanya.

Ia menegaskan keberadaan jaringan irigasi seharusnya menjadi bagian dari upaya pemerintah menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama ketika musim kemarau.

“Adanya irigasi itu untuk menjamin sawah tidak kekeringan saat kemarau. Jadi tidak bisa semua disalahkan ke cuaca,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, Adang mendesak pimpinan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna segera mengambil langkah konkret dan mengevaluasi kinerja jajarannya. Ia juga meminta agar pegawai yang dinilai lalai dalam menjalankan tugas diberikan tindakan tegas.

Menurut Adang, pemerintah tidak boleh membiarkan persoalan distribusi air berlarut-larut karena menyangkut keberlangsungan produksi pertanian dan penghidupan para petani.

“Kalau memang ada petugas yang lalai, harus ditindak. Jangan sampai petani yang menanggung kerugian akibat buruknya pengelolaan air,” ujarnya.

Para petani juga mengancam akan menggelar aksi demonstrasi apabila tidak segera mendapatkan solusi dari pemerintah.

“Kami akan menuntut Kepala UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna diganti karena dianggap tidak becus bekerja,” pungkas Adang.

Hingga berita ini ditulis, pihak UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait keluhan dan tuntutan para petani tersebut. (Red)

Redaksi

Exit mobile version