GazanaPublika.com, Jakarta — Perdebatan panjang mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali memantik perhatian publik. Kali ini, giliran budayawan sekaligus mantan politisi, Eros Djarot, yang menyuarakan keraguannya dalam sebuah perbincangan panas dengan pakar telematika dan eks Menpora, Roy Suryo, dalam acara khusus yang disiarkan Kompas TV, Rabu (23/7/2025).
Dalam siaran tersebut, Eros tampil tajam dan sistematis. Ia mempertanyakan klaim Roy Suryo yang mengaku telah melihat skripsi atas nama “Joko Widodo” di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan gaya khasnya yang santai namun menusuk, Eros melayangkan pertanyaan fundamental yang menggugah logika publik:
“Selama Anda bisa buktikan bahwa skripsi itu tidak benar, kira-kira ijazahnya benar tidak?” tanya Eros.
“Ini bukan ijazah yang katanya-katanya. Anda terima dari institusi resmi lho, dari wakil rektor. Jadi nanti kalau ditanya, sudah lihat belum? Sudah pegang belum? Bukan hanya difoto,” lanjutnya menyindir.
Dalam kesempatan itu pula, Eros menenangkan Presiden Joko Widodo agar tak perlu panik dalam menghadapi isu ini.
“Pak Polisi, Mas Jokowi, sampean tenang-tenang sajalah,” katanya kalem, namun dengan nada yang penuh makna.
Roy Suryo Membalas: ‘Saya Lihat, Pegang, dan Foto dengan Kamera Profesional’
Menanggapi desakan Eros, Roy Suryo mencoba menegaskan posisinya. Ia mengaku bahwa dirinya benar-benar sudah melihat fisik skripsi yang diklaim sebagai milik Presiden Jokowi. Bahkan, menurut Roy, ia tidak hanya melihat, tetapi juga menyentuh langsung dokumen tersebut.
“Saya melihat skripsi dengan tulisan Joko Widodo, tapi saya gak tahu itu milik siapa,” ucap Roy sedikit ragu.
“Saya tidak hanya lihat, tapi saya pegang barangnya. Saya sentuh barangnya,” lanjutnya menegaskan.
Ia bahkan mengklaim bahwa skripsi tersebut telah difoto dengan kamera profesional yang mampu membaca perbedaan warna — pernyataan yang disebutnya sebagai bagian dari metode verifikasi.
Namun, pernyataan itu langsung dipotong Eros dengan satu pertanyaan tajam yang memojokkan:
“Mungkinkah Anda dapat ijazah tanpa skripsi?”
Roy tak bisa mengelak. Ia pun menjawab cepat dan lantang:
“Itu mustahil! Itu kata Pak Asmuni, hal yang mustahal!” serunya, mengutip salah satu tokoh akademik UGM.
Eros tak berhenti di situ. Ia mendesak Roy untuk menjawab dengan lebih lugas.
“Saya tanya Anda… Anda harus jawab jelas: Anda bisa nggak dapat ijazah tanpa skripsi?”
“Tidak mungkin!” jawab Roy dengan nada yang semakin tinggi, memperlihatkan ketegangan yang makin meninggi dalam perbincangan itu.
Melalui pertanyaan demi pertanyaan yang mengarah dan presisi, Eros tampak ingin menunjukkan bahwa logika hukum akademik tidak dapat diakali: Ijazah hanya sah jika proses akademiknya sah. Dan skripsi adalah bagian vital dari itu.
“Pertanyaan saya, ngapain ngejar ijazah? Selama Anda bisa buktikan bahwa skripsi itu tidak benar, kira-kira ijazahnya benar nggak?” tanya Eros sekali lagi.
“Tidak mungkin ada ijazah yang benar kalau skripsinya tidak benar,” jawab Roy akhirnya, seolah menyegel logika yang ditawarkan Eros sejak awal.
Dialog ini sontak menjadi viral dan ramai diperbincangkan publik. Bukan hanya karena topik sensitif soal keabsahan akademik Presiden, melainkan juga karena cara Eros Djarot merangkai logika yang menusuk serta respons defensif Roy Suryo yang tampak gamang meski berusaha percaya diri.

