“Janganlah karena ibadah seakan-akan merasa dekat dengan Allah, mungkin kita sedang jauh dari Allah” -AOA
GazanaPublika.com – Mutiara ini semoga bermanfaat bagi orang-orang yang rajin beribadah kepada Allah. Kadang dengan rajin beribadahnya ahli ibadah, mungkin saja di dalam dirinya ada bisikan ‘saya sudah baik, saya sudah suci, dan saya sudah dekat dengan Allah.’ Ini bahaya sekali apabila bisikan semacam ini hadir dalam hati kita. Kalau seandainya di saat kita sedang berdosa, mungkin ada obatnya yakni taubat. Tetapi bagaimana apabila kita merasa suci dan merasa baik Apakah ada obatnya.
Orang berdosa maksiatnya karena dia melakukan perbuatan dosa tetapi orang yang beribadah maksiatnya tidak akan terasa karena ditutupi oleh kebaikan yang dia upayakan setiap hari dengan ibadahnya. Dan orang yang seperti ini akan terlena dengan perasaan-perasaan tersebut merasa baik dan merasa suci dan tidak pernah memandang dirinya kotor dan penuh kekurangan.
Ada suatu kisah yang secara pendek diceritakan sebagai berikut. Kira-kira ceritanya begini: suatu saat ada seorang yang telah membunuh banyak orang namun dia ingin mengetahui seberapa besar dosanya dan mungkinkah Allah mau menerima taubatnya. Lalu dia menanyakan kepada setiap ulama yang ia jumpai, apakah dosanya itu bisa ditebus. Setiap ulama yang ia jumpai mengatakan bahwa dosanya itu sangat besar dan dia pasti akan diazab oleh Allah. Atau ulama yang lain menjawab tidak ada tebusan baginya untuk dosa yang yang pernah ia lakukan selama ini. Ketika jawaban-jawaban negatif seperti itu diberikan kepadanya maka ia pun memenggal leher ulama-ulama tersebut. Suatu saat ia bertemu dengan ulama yang arif memberikan jawaban kepadanya bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Mendengar ucapan seperti itu ia sangat senang dan kemudian dia pun bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Kemudian dikemudian hari ia meninggal dunia dan husnul khatimah.
Lalu ada seorang ahli ibadah bertemu dengan malaikat pencatat. Malaikat itu datang kepada ahli ibadah tersebut karena semula senang lihat ibadahnya. Karena malaikat itu sudah berhadapan dengannya maka dipikirnya ada kesempatan untuk menanyakan perkara amal yang ia miliki. Ia tidak sia-siakan kesempatan tersebut dan kemudian ia bertanya kepada malaikat tersebut, “Wahai tuan malaikat, aku ingin melihat catatan amalku.” Kemudian malaikat pun membuka buku catatan amal yang ia bawa. Lama sekali malaikat itu membuka buku tersebut tetapi tidak ada nama orang tersebut dalam buku catatannya. Akhir cerita ahli ibadah tersebut dalam akhir hayatnya meninggal dalam keadaan syu’ul khatimah.
Kita jangan terlalu ‘pede dengan amal yang ia miliki tetapi teruslah berupaya memperbanyak amal. Namun jangan merasa bahwa kita sebagai orang yang banyak amalnya karena bisa jadi amal kita tidak sempurna bahkan tidak ada nilainya di hadapan Allah karena kesalahan kita sendiri seperti riya dan sombong.
Oleh karena itu, seorang penganut tasawuf yang baik dan arif selalu berniat untuk beramal hanya karena Allah dan menyerahkan segalanya kepada-Nya, sejauh mungkin menghindari perasaan atau prasangka sombong dalam dirinya. Seorang sufi seringkali khawatir bahwa kebaikan yang ia lakukan diselipi kesombongan atau tidak murni dilakukan karena Allah. Karena itu, para sufi selalu bertobat setelah melakukan kebaikan. Mereka senantiasa merasa khawatir apakah Allah menerima amal baik mereka, namun tetap berharap dan berdoa agar amal tersebut diterima, serta menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sangat kecil artinya di hadapan Allah dan tidak berarti apa-apa.
