Advertisement
GazanaPublika.com – Yang pertama, mutiara ini menjelaskan korelasi antara agama dan adab. Agama dan adab memang dua komponen yang berbeda, namun keduanya memiliki isi yang sama meskipun praktiknya berbeda. Agama menjelaskan tentang tauhid dan hukum Allah yang bersumber dari Al-Qur’an, sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad SAW. Adab, sebaliknya, telah hadir dalam kehidupan manusia sebelum Islam diturunkan ke muka bumi.
Benar, bahwa agama juga mengajarkan perilaku yang baik, baik yang diterapkan untuk diri sendiri maupun dalam berinteraksi dengan sesama dan makhluk lainnya. Namun, sumber perilaku dalam agama tentu saja berasal dari Al-Qur’an, baik melalui syariat maupun hukum Islam yang telah ditetapkan.
Advertisement
Sedangkan adab pada hakikatnya merupakan fitrah manusia. Ia bersumber dari akal, yang memungkinkan manusia membedakan mana yang baik dan buruk. Tidak ada manusia yang sepenuhnya asing terhadap hal itu. Misalnya, perkawinan sudah dikenal jauh sebelum Islam hadir, sebagai prosesi penyatuan dua jenis kelamin dalam membina rumah tangga. Namun, tata cara dan aturan perkawinan kemudian dilegalkan dan disempurnakan oleh Al-Qur’an melalui hukum-hukumnya.
Dari berbagai fenomena praktik beragama dan perilaku manusia, tampak jelas adanya korelasi antara keduanya. Mutiara ini menegaskan bahwa praktik agama berisi kelakuan yang dijalankan di dunia, tetapi tujuannya untuk akhirat. Sebab, seluruh manusia pada akhirnya akan kembali ke akhirat dan menjalani kehidupan abadi di sana.
Adapun adab, meskipun hakikatnya ditujukan untuk akhirat—karena syarat masuk surga adalah ibadah dan berperilaku baik—namun kandungannya justru banyak memberi manfaat di dunia. Adab memiliki hikmah yang luas dalam membimbing manusia menuju kebaikan. Salah satu hikmah itu adalah seseorang akan mendapat penghormatan, penerimaan, dan perlakuan yang baik dari sesamanya. Barang siapa mengamalkan adab dalam kehidupannya, maka banyak kebaikan yang akan ia terima. Inilah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung.
Advertisement
