GazanaPublika.com – Portugis sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari Spanyol. Pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, kedua bangsa Iberia ini sama-sama lahir dari semangat Reconquista, pengusiran Islam dari Semenanjung Iberia, yang berpuncak dengan jatuhnya Granada (1492). Dari sana, Spanyol lebih dulu menempuh ekspansi samudera lewat Columbus ke Dunia Baru, sementara Portugis, yang sempat berada dalam Persatuan Mahkota (Iberian Union, 1580–1640) dengan Spanyol, ikut menyerap pola yang sama: perpaduan penaklukan, perdagangan, dan misi Katolik.
Dengan bekal itu, Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang menancapkan pengaruh kuat di Nusantara, jauh sebelum Belanda. Sejak awal abad ke-16 mereka sudah menguasai Malaka (1511), lalu bergerak ke Pasai di Sumatra, Ternate-Tidore di Maluku, hingga ke berbagai pesisir Jawa. Motif mereka bukan sekadar mencari rempah, melainkan juga menyebarkan Katolik melalui jaringan misionaris Jesuit.
Di sinilah tampak wajah “orientalis awal” Portugis: bukan ilmuwan akademik sebagaimana kemudian lahir di Belanda, melainkan misionaris, pedagang, dan pelaut yang menulis catatan etnografi-geografi tentang negeri-negeri baru. Misalnya di Samudera Pasai, pusat perdagangan Islam di Sumatra Utara, mereka meninggalkan laporan tentang pelabuhan, adat, dan jaringan ulama, meski ditulis dari sudut pandang religius dan militeristik.
Sementara itu, ketika Belanda baru memasuki Nusantara pada akhir abad ke-16, Portugis sudah berpengalaman lebih dari setengah abad. Belanda memang mengambil pelajaran, tetapi dengan cara berbeda. Jika Portugis menekankan perpaduan antara pedang dan salib, Belanda melalui VOC lebih menekankan monopoli dagang, administrasi kolonial, dan produksi pengetahuan sistematis. Orientalis Belanda umumnya berupa sarjana, ahli bahasa, dan pejabat kolonial yang menulis karya ilmiah tentang adat, hukum, dan budaya pribumi untuk kepentingan kontrol politik.
Dengan demikian, perbedaan orientalis Portugis dan Belanda cukup jelas:
• Portugis : orientalis awal, berwujud misionaris dan pelaut, fokus pada catatan etnografi-geografis dan misi agama.
• Belanda: orientalis akademis, terstruktur, dan administratif; menulis karya ilmiah, kamus, dan hukum adat demi memperkuat kolonialisme VOC dan pemerintah Hindia Belanda.
Portugis adalah perintis, Belanda adalah pewaris yang menyempurnakan.
Tokoh penting pertama adalah Tomé Pires (1465–1524) dengan karyanya Suma Oriental (1512–1515). Ia menulis tentang Pasai sebagai pusat perdagangan emas, lada, dan koin dirham, serta mencatat hubungan erat Pasai dengan Gujarat dan Arab. Meski lebih dikenal lewat catatannya tentang Malaka, ia jelas menyinggung Pasai sebagai simpul penting dunia Islam. Hampir bersamaan, Duarte Barbosa (1480–1521) melalui Livro de Duarte Barbosa (1516) juga mencatat kerajaan-kerajaan pesisir Sumatra, termasuk Pasai, dengan fokus pada perdagangan internasional dan posisi strategisnya.
Kemudian ada Antonio Pigafetta (1521), penulis Italia yang ikut ekspedisi Magellan dari Malaka Portugis. Ia memang tidak langsung meneliti Pasai, tetapi catatannya tentang istilah-istilah Melayu dan budaya Islam Sumatra memberikan gambaran tambahan tentang kawasan ini.
Sementara itu, misionaris Jesuit seperti Francisco Xavier (1546) meski tidak sampai ke Pasai, melalui jaringannya mencatat bahwa Pasai adalah benteng Islam yang sulit ditembus misi Katolik. Dalam konteks orientalisme, laporan-laporan ini memandang tradisi Islam Pasai bukan sekadar adat lokal, melainkan ‘hambatan’ bagi penyebaran Injil.
Selain mereka, ada tokoh Portugis lain di kawasan Nusantara seperti Antonio Galvão (1490–1557) dengan Tratado dos Descobrimentos, atau Fernão Mendes Pinto (1509–1583) dengan Peregrinação. Meski lebih banyak menulis tentang Maluku dan Timor, catatan mereka tetap menggambarkan pola orientalis Portugis: menggabungkan petualangan, laporan dagang, dan misi agama.
Abad ke-17 – Masa Awal VOC
Ketika VOC mulai menancapkan kekuasaan di Maluku, pengetahuan lokal segera dijadikan senjata. Francois Valentijn (1666–1727), seorang pendeta VOC, menulis Oud en Nieuw Oost-Indiën. Dari posnya di Ambon, ia tidak hanya mencatat etnografi dan sejarah lokal, tetapi juga membuat peta dan laporan yang berguna bagi kepentingan dagang serta militer VOC. Inilah fondasi awal tradisi orientalisme Belanda: pengetahuan dipakai untuk menguasai.
Abad ke-18 – Peralihan Dagang ke Pengetahuan
Pada abad ke-18, muncul Jacob Haafner (1754–1809), seorang pegawai VOC yang kemudian berubah menjadi pengkritiknya. Ia hidup di Maluku dan India, menulis catatan tentang masyarakat Asia. Meski penuh bias Eropa, tulisannya memberi gambaran awal tentang dunia Jawa dan Maluku yang kelak menjadi bahan bakar orientalisme Belanda.
Abad ke-19 – Konsolidasi Kolonial & Filologi Jawa
Memasuki abad ke-19, orientalisme menjadi semakin sistematis.
• Dari Inggris, Thomas Stamford Raffles (1781–1826) meninggalkan warisan besar lewat History of Java, yang kelak menjadi “kitab wajib” bagi orientalis Belanda tentang Jawa.
• Di pihak Belanda sendiri, Nicolaus Engelhard sebagai residen Semarang mulai mengoleksi naskah Jawa, sementara J.F.C. Gericke menyusun kamus Jawa–Belanda di Surakarta.
• Kemudian Taco Roorda, profesor di Leiden, menjadikan filologi Jawa sebagai bidang akademik, melatih generasi baru orientalis.
• H.N. van der Tuuk menambah warna dengan kajian bahasa Batak dan Bali, menulis tata bahasa serta mendokumentasikan tradisi lisan, sering kali untuk misi Kristen maupun kepentingan kolonial.
• Sementara itu, J.L.A. Brandes menggabungkan filologi dengan arkeologi, meneliti candi dan naskah Jawa Kuna, menyuplai argumen sejarah bagi kebijakan kolonial.
Orientalisme Belanda kini bukan sekadar catatan etnografi, melainkan proyek ilmiah terstruktur untuk mendefinisikan dan mengendalikan budaya Nusantara.
Abad ke-20 – Politik Etis & Kontrol Narasi
Memasuki abad ke-20, orientalisme mencapai puncak politisnya.
• Christiaan Snouck Hurgronje (1857–1936), dengan menyamar di Mekkah, lalu terjun ke Aceh, memberikan strategi kolonial: memecah ulama dan adat, melemahkan perlawanan Islam. Ia adalah orientalis paling berpengaruh dalam sejarah kolonial Belanda.
• Setelahnya, C.C. Berg (1900–1990) melanjutkan orientalisme di ranah akademis. Sebagai profesor filologi Jawa, ia menafsirkan Babad Tanah Jawi dengan pendekatan skeptis, meragukan otoritas tradisi lokal, sekaligus memperkuat dominasi tafsir kolonial atas sejarah Nusantara.
Benang Merah
Orientalisme Belanda berkembang dari catatan etnografi dan peta VOC (Valentijn) → menuju kajian filologi dan hukum adat kolonial (Gericke, Roorda, Brandes, van der Tuuk) → hingga kontrol narasi sejarah dan politik kolonial (Snouck, Berg).
Dengan demikian, pengetahuan tentang Nusantara tidak pernah netral, melainkan selalu terkait dengan kekuasaan: dari perdagangan, misi agama, hingga strategi penjajahan.

