GazanaPublika.com – Ketika membaca sumber-sumber kuno, kita mendapatkan kesan bahwa kepulauan Nusantara sejak awal Masehi telah menjadi kawasan yang ramai, padat, dan hidup dengan peradaban yang cukup tinggi. Salah satu bukti awalnya datang dari prasasti Yūpa di Kutai, Kalimantan Timur, yang diperkirakan berasal dari abad ke-4–5 M. Prasasti ini mengisahkan Raja Mulawarman yang mengadakan kurban besar-besaran, bahkan disebutkan hingga 20.000 ekor sapi atau kerbau dipersembahkan untuk para brahmana. Angka yang sangat besar ini tidak mungkin terjadi kecuali dalam masyarakat yang telah padat huni, memiliki sumber daya berlimpah, serta sistem sosial-ekonomi yang mampu menopang ritual kolektif berskala besar.
Gambaran serupa dapat kita lihat di Jawa. Pembangunan candi-candi besar seperti kompleks Borobudur, Prambanan, maupun candi-candi di dataran tinggi Dieng pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, jelas membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah sangat banyak. Keberadaan karya arsitektur raksasa ini menjadi petunjuk bahwa populasi Nusantara kala itu cukup padat untuk menyokong kegiatan religius, politik, dan ekonomi yang berskala luas.
Namun, paradoks muncul ketika kita beranjak ke catatan kolonial. Pada masa awal kekuasaan VOC hingga Hindia Belanda, gambaran jumlah penduduk Nusantara justru tampak kecil. Data statistik yang dihimpun oleh Belanda sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-19 memperkirakan jumlah penduduk di seluruh kepulauan Nusantara hanya berkisar 25–30 juta jiwa. Bahkan, menurut catatan Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817), Pulau Jawa—yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan terpadat di dunia—pada sekitar tahun 1815 hanya dihuni kurang dari 5 juta orang. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan yang dapat kita bayangkan dari skala proyek dan ritual yang dilakukan berabad-abad sebelumnya.
Mengapa terjadi kesenjangan demikian? Mengapa Nusantara yang dulu terkesan padat, pada periode kolonial awal justru tampak jarang huni?
Jejak Bencana Alam Purba
Salah satu kunci jawabannya bisa ditemukan pada geologi Nusantara yang dilingkupi oleh Cincin Api Pasifik. Sejarah kepulauan ini diwarnai oleh letusan-letusan gunung berapi dahsyat, beberapa di antaranya mengubah wajah peradaban.
Selain letusan Gunung Samalas (1257) di Lombok yang meninggalkan kawah Segara Anak dan tercatat memicu pendinginan global, serta letusan Tambora (1815) yang menewaskan puluhan ribu jiwa dan membuat tahun 1816 dikenal sebagai ‘tahun tanpa musim panas’ di Eropa, penelitian modern juga menyingkap jejak letusan purba yang jauh lebih besar: Gunung Batuwara, induk Krakatau, yang diperkirakan meletus pada abad ke-5.
Letusan Batuwara ini tercatat dalam tradisi Jawa Kuno, salah satunya di Naskah Pustaka Raja Purwa, yang menyebutkan adanya ‘gunung yang meletus, runtuh ke laut, dan menimbulkan banjir besar bahkan tsunami.’ Studi geologi modern menemukan lapisan abu dan tsunami purba di sekitar Selat Sunda yang mendukung kisah tersebut. Kematian tidak bisa diperkirakan yang diakibatkan perubahan iklim dan tsunami yang bisa saja memakan korban kematjan ratusan bahkan jutaan ribu orang. Namun dikarenakan masyarakat nusantara saat itu belum mentradisikan catatan peristiwa sehingga semua itu luput diinformasikan.
Skala kehancurannya diduga lebih besar dibanding Krakatau 1883, sehingga sangat mungkin memusnahkan sebagian besar permukiman pesisir, menewaskan ribuan hingga ratusan ribu orang, dan mengganggu jalur perdagangan maritim kala itu.
Faktor Depopulasi: Wabah, Iklim, dan Konflik
Selain letusan vulkanik, ada faktor lain yang bisa menjelaskan terjadinya depopulasi di Nusantara.
• Wabah Penyakit
Nusantara adalah simpul perdagangan internasional. Jalur pelayaran yang menghubungkannya dengan India, Tiongkok, dan Timur Tengah membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga penyakit. Catatan tradisional menyebut istilah “pagebluk” atau “sampar” yang memusnahkan banyak penduduk dalam waktu singkat. Sangat mungkin wabah-wabah ini turut mengurangi populasi secara drastis dari masa ke masa.
• Perubahan Iklim: Little Ice Age (1300–1850)
Pada kurun waktu ini dunia mengalami pendinginan global yang dikenal sebagai Little Ice Age. Dampaknya adalah perubahan pola musim, berkurangnya hasil panen, kelaparan, hingga instabilitas sosial. Nusantara dengan sistem pertanian berbasis sawah dan ladang sangat rentan terkena dampaknya.
• Perang dan Konflik Politik
Riwayat Nusantara juga dipenuhi oleh perang antar-kerajaan, perebutan kekuasaan, dan migrasi paksa. Konflik semacam ini bukan hanya menewaskan banyak orang, tetapi juga mendorong perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, sehingga ada daerah yang tampak kosong.
Siklus Padat–Hancur–Bangkit
Jika kita rangkai semuanya, tampak bahwa sejarah demografi Nusantara tidak linier. Pada periode awal masehi hingga abad pertengahan, Nusantara tampaknya telah mencapai kepadatan penduduk yang tinggi. Namun, letusan besar seperti Batuwara, Samalas, Tambora, ditambah wabah penyakit dan anomali iklim, berulang kali menekan jumlah penduduk.
Data Belanda yang menyebutkan jumlah penduduk relatif kecil pada awal abad ke-19 kemungkinan besar bukan karena Nusantara sejak awal jarang penduduk, melainkan karena ia tengah berada dalam fase ‘pasca-bencana’ yang memusnahkan sebagian besar populasi. Sementara itu, proses pemulihan jumlah penduduk baru terjadi pada paruh kedua abad ke-19 hingga abad ke-20, hingga kini Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Dengan demikian, kepadatan dan depopulasi adalah dua wajah sejarah yang silih berganti di Nusantara. Ia pernah padat, ia pernah hancur, dan ia selalu bangkit kembali.
