GazanaPublika.com – Kerajaan Pontianak adalah Kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Hamid II. Mungkin ada pertanyaan, kok bisa imigran asing menjadi raja padahal dia bukan pewaris yang berasal tahta kerajaan. Simak alurnya:
Kisah ini berawal dari Opu Daeng Menambon, seorang pengembara asal Kesultanan Luwu di Sulawesi Selatan, memainkan peran penting dalam sejarah Kalimantan dan Semenanjung Melayu. Ia adalah salah satu putera dari Opu Tendriburang Dilaga yang bersama kelima anaknya, termasuk Opu Daeng Menambon, melakukan migrasi ke tanah Melayu pada abad ke-17.
Kedatangan Opu Daeng Menambon di Kalimantan adalah atas permintaan Sultan Matan, Sultan Muhammad Zainuddin, yang berusaha merebut kembali tahta Kesultanan Matan dari Pangeran Agung, saudaranya yang merebut tahta. Opu Daeng Menambon bersama saudara-saudaranya yang lain, yang saat itu berada di Kesultanan Johor, berhasil membantu Sultan Muhammad Zainuddin merebut kembali tahta tersebut. Sebagai penghargaan atas jasanya, Opu Daeng Menambon dinikahkan dengan Ratu Kesumba, puteri Sultan Muhammad Zainuddin.
Setelah menyelesaikan misinya, Opu Daeng Menambon dan saudara-saudaranya kembali ke Kesultanan Johor. Namun, ketika perselisihan internal kembali terjadi di Kesultanan Matan, Sultan Muhammad Zainuddin meminta bantuan Opu Daeng Menambon untuk kedua kalinya. Kali ini, Opu Daeng Menambon datang sendiri dan berhasil menuntaskan konflik internal kesultanan dengan damai. Atas keberhasilannya, Sultan Muhammad Zainuddin menganugerahi Opu Daeng Menambon gelar Pangeran Mas Suna Negara. Opu Daeng Menambon memutuskan untuk menetap di Kesultanan Matan bersama istrinya dan mereka dikaruniai beberapa anak, termasuk Puteri Candramidi.
Opu Daeng Menambon memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Matan sebelum mendirikan Kerajaan Mempawah. Setelah tiba di Kalimantan Barat. Opu Daeng Menambon mengukuhkan posisinya melalui pernikahan dengan Puteri Kesumba, putri dari Kerajaan Matan. Pernikahan ini memberikan dukungan politik yang kuat bagi Opu Daeng Menambon, sehingga ia dapat memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut. Hubungan dengan Kerajaan Matan ini menjadi fondasi penting bagi kekuasaan Opu Daeng Menambon di Kalimantan Barat, lalu kemudian ia mendirikan Kerajaan Mempawah dari sebagian wilayah Kerajaan Matan.
Selanjutnya, hubungan antara keluarga al-Kadri cikal bakal Kesultanan Pontianak dengan Kerajaan Mempawah berawal dari ikatan pernikahan. Berikut adalah cerita singkat tentang bagaimana keluarga al-Kadri dapat menikah dengan Kerajaan Mempawah:
Pada abad ke-18, wilayah Kalimantan Barat terdiri dari berbagai kerajaan dan kesultanan yang sering berinteraksi satu sama lain, baik dalam hal perdagangan, diplomasi, maupun pernikahan antar-kerajaan. Salah satu tokoh penting dalam sejarah ini adalah Opu Daeng Menambon, seorang bangsawan Bugis yang mendirikan Kerajaan Mempawah setelah menikahi Putri Kesumba, seorang putri Dayak.
Syarif Abdurrahman al-Kadri adalah dikenal seorang ulama bahwa ia adalah seorang pengembara dari Yaman. Ia lahir pada tahun 1729 di Hadramaut, Yaman. Syarif Abdurrahman adalah Klan Ba’alawi yang sedang marak dibicarakan bahwa mereka mengklaim memiliki hubungan nashab dengan Rasulullah SAW dari jalur Sayyid atau Syarif. Hubungan tersebut sekarang sudah banyak yang membantahnya.
Syarif Abdurrahman tiba di Kalimantan pada pertengahan abad ke-18. Kepintarannya adalah mengambil hati keluarga kesultanan sehingga ia pun dinikahkan dengan putri Sultan bernama Puteri Candramidi, putri dari Opu Daeng Menambon, pendiri Kerajaan Mempawah. Namum di luar perkiraan, Syarief Abdurrahman malah memisahkan diri dari keluarga kesultanan dan mendirikan kesultanan baru pada tahun 1771 atas dukungan Belanda dan para pedagang Tionghoa. Dia kemudian mengangkat diri sebagai Sultan Pontianak atas dukungan Belanda dan boleh dibilang Kesultanan bentukan Belanda.
Syarif Abdurrahman al-Kadri wafat pada tahun 1808, tetapi warisannya terus berlanjut melalui keturunannya yang memerintah Kesultanan Pontianak.
Akibatnya, terjadi perseteruan antara Kesultanan Mempawah dan Kesultanan Kadriah. Perseteruam tersebut sangat dipengaruhi oleh campur tangan Belanda, yang seringkali menunjuk penguasa baru untuk menjaga kendali politik mereka. Pada tahun 1787, meskipun terdapat ikatan. kekerabatan yang erat antara kedua kesultanan, Syarif Kasim diangkat menjadi Panembahan oleh Belanda. Setelah kematian Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadri pada tahun 1808, Belanda mengangkat Syarif Kasim sebagai Sultan Kadriah. Kedudukan Syarif Kasim di Mempawah kemudian digantikan oleh Syarif Hussein, namun kekuasaannya tidak bertahan lama karena perlawanan dari Gusti Jati dan Gusti Mas.
Gusti Jati dinobatkan sebagai Sultan Mempawah dengan gelar Sultan Muhammad Zainal Abidin sekitar tahun 1820 dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Pedalaman, yang menjadi pusat perdagangan dan memiliki benteng pertahanan yang kuat. Melihat kemajuan ini, Belanda menyusun taktik dengan mencoba cara damai dan mempersiapkan serangan melalui Kesultanan Kadriah. Ketika Mempawah lengah, Kesultanan Kadriah menyerbu dan menyebabkan Sultan Zainal Abidin mundur ke Sebukit Rama. Meskipun Zainal Abidin berhasil melakukan serangan balik, ia tidak kembali ke Pulau Pedalaman.
Setelah kekosongan pemerintahan, Belanda mengangkat Gusti Amin sebagai Sultan Mempawah dengan gelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin pada tahun 1831, melemahkan kesultanan karena campur tangan Belanda yang terus berlanjut dalam suksesi politik. Pada tahun 1839, Gusti Mukmin diangkat menjadi Sultan Mempawah, diikuti oleh Gusti Makhmud pada tahun 1858, dan kemudian Gusti Usman, anak Gusti Mukmin, setelah kematian Gusti Makhmud. Gusti Ibrahim menggantikan Gusti Usman pada tahun 1872, menandakan dominasi Belanda dalam penunjukan sultan Mempawah dan pengaruh kuat mereka dalam politik kesultanan.
Berikut adalah silsilah raja-raja Kesultanan Mempawah berdasarkan informasi yang tersedia:
1. Opu Daeng Menambon – Pendiri Kesultanan Mempawah.
2. Panembahan Adiwijaya (Gusti Jati) – Putra Opu Daeng Menambon, dinobatkan sekitar tahun 1820 dengan gelar Sultan Muhammad Zainal Abidin.
3. Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (Gusti Amin) – Adik Sultan Muhammad Zainal Abidin, diangkat oleh Belanda pada tahun 1831.
4. Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma (Gusti Mukmin) – Diangkat oleh Belanda setelah kematian Gusti Amin pada tahun 1839.
5. Panembahan Muda Makhmud Alauddin (Gusti Makhmud) – Diangkat pada tahun 1858 oleh Belanda.
6. Gusti Usman – Sementara Sultan setelah kematian Gusti Makhmud, anak dari Gusti Mukmin.
7. Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin (Gusti Ibrahim) – Putra Gusti Makhmud, diangkat setelah kematian Gusti Usman pada tahun 1872.
Sedangkan Sultan Hamid II, yang bernama lengkap Sultan Hamid II al-Qadri, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Pontianak. Berikut adalah garis keturunan atau silsilah dari Sultan Hamid II:
1. Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadri – Pendiri Kesultanan Pontianak pada tahun 1771. Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadri memiliki beberapa putra, termasuk Sultan Syarif Kasim.
2. Sultan Syarif Kasim al-Kadri. Anak dari Sultan Syarif Abdurrahman al-Kadri dan penerus tahta Kesultanan Pontianak.
3. Sultan Syarif Usman al-Kadri. Anak dari Sultan Syarif Kasim al-Kadri.
4. Sultan Syarif Hamid I al-Kadri- Anak dari Sultan Syarif Usman al-Kadri.
5. Sultan Syarif Muhammad al-Kadri – Anak dari Sultan Syarif Hamid I al-Kadri.
6. Sultan Syarif Thaha al-Kadri – Anak dari Sultan Syarif Muhammad al-Kadri.
7. Sultan Syarif Hamid II al-Kadri – Anak dari Sultan Syarif Thaha al-Kadri, menjadi Sultan Pontianak setelah kematian ayahnya. Sultan Hamid II juga dikenal sebagai Sultan Hamid II bin Sultan Muhammad al-Qadri, lahir pada tanggal 12 Juli 1913, dan memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia, termasuk dalam perumusan lambang negara, Garuda Pancasila.
Sultan Hamid II al-Kadri memerintah Kesultanan Pontianak selama periode yang penuh gejolak dan turut serta dalam upaya-upaya politik di masa awal kemerdekaan Indonesia. Namun cacatnya ia terlibat Pemberontakan Westerling dalam melawan pemerintahan RI.

