GazanaPublika.com – Membahas sejarah Kerajaan Banten memang rumit, terutama jika kita menelusuri periode yang lebih kuno dari masa Sultan Maulana Hasanuddin. Para arkeolog telah melakukan penelitian di situs Banten Girang yang terletak di Sempu, Kota Serang, Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penelitian, situs ini diperkirakan berusia sekitar 11 abad atau sekitar tahun 900-an Masehi.

Penggemar sejarah sering kali lebih tertarik membahas Banten pada masa kejayaan Sultan Maulana Hasanuddin. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama: pertama, masa tersebut merupakan periode puncak kejayaan Banten; dan kedua, karena Islamisasi telah terjadi di masyarakat Banten pada masa Sultan Maulana Hasanuddin.

Namun, bagi para sejarawan, mempelajari sejarah tidak boleh hanya didasarkan pada kesamaan keyakinan, melainkan harus lebih kepada keinginan untuk menggali lebih dalam tentang eksistensi suatu masyarakat atau kerajaan di suatu wilayah. Keberadaan Kerajaan Banten Girang merupakan bukti nyata yang ditunjukkan oleh penemuan situs di Kota Serang tersebut. Ini menunjukkan bahwa sejarah Banten telah ada jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten, yang diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 932 (meskipun angka ini masih perkiraan). Kerajaan ini runtuh sekitar tahun 1526 M, meski ada pendapat lain yang menyebutkan runtuhnya sekitar tahun 1579 M. Pada zamannya, Kerajaan Banten Girang cukup maju bahkan berhasil memperluas wilayahnya sampai ke Lampung. Kerajaan ini cukup makmur karena salah satu penghasil lada saat itu. Menurut satu sumber, Kerajaan Banten Girang berada di bawah Kerajaan Sriwijaya.

Transisi dari Banten Hindu ke Banten Islam tidak memiliki naskah sezaman yang kuat sebagai bukti. Sebagian besar pengetahuan tentang periode ini hanya bergantung pada Babad Banten, yang ditulis sekitar 200 tahun setelah berdirinya Kesultanan Banten. Sumber yang lebih kuat justru berasal dari catatan Portugis, seperti Suma Oriental karya Tome Pires atau laporan Antonio De Brito yang pernah menjajaki tanah Banten. Meski demikian, beberapa bagian sejarah tersebut masih sangat bergantung pada cerita rakyat yang validasinya lemah dan sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kesultanan Banten didirikan oleh Kesultanan Demak pada masa Sultan Trenggana melalui ekspansi militer yang dipimpin oleh Fatahillah sebagai panglima Demak. Catatan sejarah ini sangat terkenal. Namun, proses penaklukan tersebut tidak diuraikan secara rinci karena sumber-sumber naskah tidak memadai.

Penguasaan wilayah Banten lebih dominan bersandar pada cerita rakyat dengan kedatangan Sunan Gunung Jati dengan melakukan syiar Islam dan sifatnya bukan penaklukan. Paling tidak kisah penaklukan dilakukan oleh Sultan Hasanudin melalui adu ayam dengan Prabu Pucuk Umun, Raja Banten Girang, bersumber dari cerita rakyat. Kisahnya memiliki kemiripan dengan kisah Ciung Wanara dari Galuh.

Namun, dari perspektif sejarah, menggali eksistensi Banten tidak sesederhana itu dengan hanya merujuk pada cerita rakyat. Cerita-cerita seperti itu dalam pandangan sejarah sering kali dianggap berlebihan dan tidak sesuai dengan pola-pola penaklukan raja-raja dalam sejarah raja-raja di zsman feodal. Umumnya, penaklukan dilakukan melalui peperangan yang brutal. Jika pun ada, dengan pendekatan yang lebih halus, seperti melalui perkawinan antar-putra-putri raja, itu jarang terjadi. Cara ini tidak dikategorikan penaklukan.

Dalam cerita rakyat juga mengisahkan, bahwa Sunan Gunung Jati menikahi anak Bupati di wilayah Banten yang memiliki putri Nyi Kawung Anten. Cara iji pun bukan bentuk penaklukan. Namun cerita muncul interprrtasi, orang tua Nyi Kawun Anten itu adalah Bupati Kerajaan apa? Apakah kerjaan Banten Girang yang Hindu? Akan semakin rumit apabila di-interpretasikan sebab tidak ada naskah sezaman, hanya merujuk pada cerita rakyat belaka.

Artinya, keberadaan cerita rakyat tersebut harus diuji validitasnya dengan bukti sejarah. Sejarah yang masyhur mencatat bahwa penaklukan Banten dilakukan sebelum penaklukan Sunda Kelapa pada tahun 1527. Banten ditaklukan pada tahun 1525. Dengan datangnya pasukan Fatahillah ke Banten, logika yang paling kuat adalah akan terjadinya peperangan antara pasukan Fatahillah dan kerajaan setempat. Kerajaan yang dimaksud kemungkinan besar adalah Kerajaan Banten Girang, yang akhirnya kalah dan hancur.

Dalam hal ini, jangan dikaitkan dulu dengan syiar yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati di tanah Banten, sebab kisah syiar ini hanya tercatat dalam cerita rakyat. Pendekatan syiar secara strategil tidaklah mudah karena harus berhadapan dengan raja setempat, sedangkan kerajaan tersebut belum ditaklukkan.

Fatahilah/ Sunan Gunung Jati

Di dalam cerita rakyat, syiar tampak begitu mudah ketika Pucuk Umun marah karena para ajar (guru Hindu) masuk Islam mengikuti ajakan Sultan Hasanuddin. Inilah yang memicu pertarungan antara Pucuk Umun dan Sultan Hasanuddin.

Interpretasi logisnya adalah bahwa Banten telah lebih dahulu ditaklukkan oleh Fatahillah, sehingga syiar akan lebih mudah dilakukan. Jika kemudian Sultan Hasanuddin terlibat dalam syiar tersebut, itu adalah sesuatu yang wajar.

Alurnya adalah bahwa Fatahillah menaklukkan Kerajaan Banten dengan berperang melawan kerajaan setempat, yang dalam hal ini adalah Kerajaan Banten Girang yang dipimpin oleh Pucuk Umun. Karena peperangan tersebut berada di bawah Kesultanan Demak, maka suka tidak suka, pendirian Kesultanan Banten berada di bawah kekuasaan Demak. Fatahillah kemudian mendirikan kerajaan baru di pesisir utara Banten, di Serang, yang dikenal sekarang sebagai Surosowan. Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah mengangkat Sultan Hasanuddin sebagai Adipati di Banten, yang merupakan wilayah bawahan Demak. Ketika Demak melemah, Sultan Hasanuddin pun memproklamirkan berdirinya Kesultanan Banten yang mandiri.

Dengan alur demikian, kekalahan Pucuk Umun bukan disebabkan oleh adu ayam antara Sultan Hasanuddin dan Pucuk Umun, melainkan oleh peperangan yang dipimpin oleh Fatahillah yang menyebabkan kehancuran Kerajaan Banten Girang.

Dalam analisis kemasyarakatan feodal, legenda-legenda dan mitos-mitos sering kali dibuat oleh pihak kerajaan untuk menciptakan kesan heroik dan kesaktian seorang raja. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa hormat dan cinta rakyat kepada rajanya..

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sumber sejarah Kerajaan Banten saat ini sangat bergantung pada Babad Banten dan cerita rakyat. Namun, seharusnya sumber-sumber ini digali lebih dalam dengan bukti-bukti yang lebih kuat dari manuskrip yang sezaman.

Menurut P.A. Hoessein Djajaningrat, naskah Sajarah Banten atau Babad Banten ditulis antara tahun 1662/1663 hingga sekitar 1725, sedangkan Kesultanan Banten sudah berdiri pada tahun 1525. Dengan demikian, penulisan Babad Banten memiliki selisih waktu sekitar 200 tahun setelah peristiwa-peristiwa yang diceritakan, sehingga validitas sumber tersebut dipertanyakan dan dikategorikan sebagai sumber sekunder.

Oleh karena itu, ini menjadi tantangan bagi para sejarawan untuk menggali lebih dalam sejarah Banten. Di sisi lain, Yadi Ahyadi, seorang sejarawan Banten, berpendapat bahwa sejarah asli Banten telah dihancurkan oleh Belanda setelah kekalahan Sultan Tirtayasa melawan VOC. Hal ini membuat studi sejarah Banten memerlukan pengkajian berulang untuk memastikan keakuratan dan keberadaannya.

Sumber sejarah yang lebih kuat mengenai Kesultanan Banten seharusnya mengacu pada Kesultanan Demak. Keberadaan Kerajaan Demak merujuk pada naskah Babad Tanah Jawi. Namun, Babad Tanah Jawi yang digunakan sebagai referensi utama pun ditulis jauh setelah berdirinya Kerajaan Demak. Babad Tanah Jawi pertama kali ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno (Carik Braja) atas perintah Pakubuwana III dan telah beredar pada tahun 1788. Meski demikian, Merle Calvin Ricklefs menyatakan bahwa versi yang diterbitkan oleh Johannes Jacobus Meinsma bukanlah sumber utama yang dapat diterima untuk penelitian sejarah, melainkan mengakui edisi yang direproduksi oleh W. L. Olthof pada tahun 1941.

Sering kali, berbicara tentang sejarah Kesultanan Banten melompati prinsip-prinsip empiris dan heuristik yang berlaku dalam sejarah berdirinya sebuah kerajaan. Narasi dominan bersandar pada cerita rakyat, yang menggambarkan bahwa Sunan Gunung Jati datang ke Banten, menikahi putri seorang bupati bernama Nyi Kawung Anten, dan kemudian melakukan syiar Islam di tanah Banten. Ketika anaknya, Maulana Hasanuddin, dewasa, ia pun menjadi raja. Namun, proses berdirinya sebuah kerajaan tidak sesederhana itu. Faktanya, seperti yang telah disebutkan, Kerajaan Banten didirikan oleh Fatahillah melalui penaklukan daerah tersebut, dan Fatahillah mengangkat seorang Adipati di wilayah tersebut, yaitu Maulana Hasanuddin. Ini adalah sejarah yang diterima secara luas oleh sejarawan.

Sultan Maulana Hasanudin Banten

Pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara Fatahillah dan Sultan Hasanuddin. Berbagai versi sekarang telah berkembang karena interpretasi yang berlebihan oleh para penulis sejarah yang belum tentu memiliki kapasitas seperti sejarawan. Berikut adalah dua versi utama mengenai hubungan antara Fatahillah dan Sunan Gunung Jati:

1. Versi pertama menyatakan bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah sosok yang sama, sehingga Sultan Hasanuddin adalah anaknya. Ini adalah versi yang paling awal dan paling kuat yang dicatat oleh para sejarawan.
2. Versi kedua berpendapat bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda, dengan alasan bahwa makam mereka di Cirebon berbeda.

Hanya karena perbedaan makam yang dijadikan sebagai alat bukti sejarah, padahal keberadaan makam bisa saja mengalami perubahan karema seiring waktu. Cerita tentang makam sering kali terdistorsi atau dipengaruhi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu, seperti para kuncen, yang dapat menciptakan atau mengubah cerita sesuai kebutuhan mereka.

Baru-baru ini merebat pembuatan makam palsu yang berklan Ba’alawi. Hal itu menjadi cermin pada hari ini untuk menjadi refleksi situasi di zaman Belanda. Akan lebih mudah bagi Belanda membuat hal-hal semacam itu.

Dengan munculnya interpretasi baru, sering kali timbul pula rangkaian cerita baru. Misalnya, ada klaim bahwa Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati, sementara Maulana Hasanuddin adalah anak Sunan Gunung Jati. Jika Fatahillah dianggap sebagai menantu, maka pertanyaan besarnya adalah bagaimana Sunan Gunung Jati dapat mengislamkan masyarakat Banten dan mengangkat anaknya menjadi raja. Apakah cukup syarat dengan menikahi anak Bupati lalu anaknya menjadi raja? Keberadaan Bupati tentu berada di bawah kerajaan sebelumnya, sebagai penguasa. Cerita seperti ini menjadi semakin membingungkan.

Namun, ada baiknya mengikuti pendapat para sejarawan yang sebelumnya menyatakan bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah sosok yang sama, maka Fatahillah alias Sunan Gunung Jati memiliki peran yang signifikan dalam penaklukan Banten. Dalam hal ini, wajar jika ia mengangkat anaknya sebagai Adipati, dan pada suatu saat Adipati tersebut memisahkan diri dari Kerajaan Demak untuk mendirikan Kesultanan Banten yang mandiri.

Sejarawan seperti Slamet Muljana dan Hoessein Djajadiningrat berpendapat bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang sama, dan pendapat ini adalah yang paling kuat dari sejarawan yang sudah diakui kapasitas dan keilmuannya.

Informasi tambahan diperoleh dari Antonio de Brito, seorang Portugis yang datang ke Banten pada tahun 1527. Ia melaporkan bahwa penaklukan Banten memang terjadi melalui peperangan, meskipun tidak dijelaskan secara rinci melawan kerajaan mana. Berdasarkan informasi sebelumnya, kemungkinan besar peperangan tersebut adalah melawan Kerajaan Banten Girang.

Versi cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa Sultan Maulana Hasanuddin bertarung dengan Pucuk Umun melalui adu ayam, dan Pucuk Umun kalah lalu melarikan diri ke Cibeo, di mana pasukannya dikenal sebagai Suku Baduy.

Dengan berkembangnya informasi, kebenaran cerita ini mulai diuji, meskipun belum ada bukti langsung mengenai peristiwa tersebut. Dalam wawancara di channel YouTube Ayi Astaman dengan Kokolot Baduy, dijelaskan bahwa menurut cerita leluhur mereka, Suku Baduy tidak memiliki hubungan dengan Pucuk Umun. Suku Baduy menganut agama yang dikenal sebagai Agama Adam atau Wiwitan, meskipun mereka tidak mengakui istilah Wiwitan sebagaimana sering disebutkan. Pucuk Umun sendiri diketahui menganut agama Hindu-Buddha, dan Kokolot Baduy juga menegaskan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Kerajaan Pajajaran. (*)

Redaksi

Exit mobile version