GazanaPublika.com – Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, Kelurahan Kamal di pinggiran Jakarta, di Kecamatan Cengkareng (sekarang menjadi Kalideres), menyimpan suasana yang begitu kontras dengan hiruk-pikuk kota besar yang kini akrab di telinga kita. Wilayah ini adalah representasi dari gambaran kehidupan di Jakarta pinggiran pada masanya—sebuah Jakarta yang masih asri, tenang, dan terhubung erat dengan alam. Dalam setiap sudut Kamal, tergurat sebuah kenangan tentang Jakarta yang perlahan mulai terlupakan, tergantikan oleh kemajuan yang terus menyapu habis sisa-sisa kealamian yang dulu menjadi ciri khasnya.
Tulisan ini, meski menggambarkan Kamal, sejatinya adalah cerminan dari seluruh kawasan pinggiran Jakarta pada era itu. Sebuah mikro-kosmos dari Jakarta yang masih dikelilingi oleh rawa, empang, sawah, dan pohon-pohon besar, yang kini hanya tinggal dalam ingatan para penduduk lama. Dengan setiap detik modernisasi, Jakarta yang seperti ini perlahan menghilang, tenggelam di bawah bayang-bayang beton dan bangunan tinggi.
Di masa itu, wilayah ini adalah hamparan hijau yang asri, dikelilingi oleh rawa, empang, dan lahan kosong yang tampak tak berujung. Jalan-jalan masih berupa tanah berdebu atau lumpur setelah hujan, diapit oleh kebun-kebun pisang dan semak belukar yang tumbuh lebat, menciptakan nuansa alam yang seakan tak tersentuh oleh zaman.
Sungai yang mengalir tenang membawa air berwarna kuning, menandakan bahwa meskipun tidak sebening mata air di pegunungan, airnya masih layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Anak-anak, dengan riang gembira, sering kali berlarian menuju sungai itu. Mereka bermain di tepian, memandangi air yang mengalir pelan, sesekali melompat dan menceburkan diri ke dalamnya. Di sekitar mereka, pohon-pohon besar seperti pohon Ambon berdiri kokoh, menjadi saksi bisu bagaimana alam masih begitu dekat dengan kehidupan mereka. Angin bertiup pelan di sela-sela dedaunan, membawa kesejukan yang terasa sangat berbeda dibandingkan udara panas Jakarta modern.
Di pagi hari, udara di Kamal terasa segar dan dingin, menyelimuti penduduk yang baru saja bangun dari tidur malam mereka. Kabut tipis sering kali menyelimuti sawah-sawah yang membentang luas di kejauhan. Waktu seolah berjalan lambat, dengan suara burung yang bernyanyi di dahan-dahan tinggi, mengisi udara dengan kicauan yang harmonis. Para petani mulai mengayunkan cangkul mereka, sementara di tepi-tepi empang, beberapa warga sudah mempersiapkan jala mereka untuk menangkap ikan air tawar yang menjadi sumber penghidupan.
Empang-empang itu seolah menjadi pusat kehidupan bagi banyak keluarga. Di sana, di antara air yang tenang, ikan-ikan berenang bebas. Banyak di antara warga yang menjala, dengan hati-hati merengkuh tangkapan mereka. Di saat yang bersamaan, anak-anak ikut meramaikan suasana, berenang di empang dengan riangnya. Tak ada yang peduli tentang kebersihan air atau seberapa dalamnya, yang ada hanya tawa dan keseruan saat tubuh mereka menyatu dengan air yang sejuk.
Di setiap hujan besar, selokan-selokan kecil meluap, membanjiri jalanan, namun alih-alih menjadi masalah, banjir kecil itu membawa kejutan. Ikan-ikan kecil sering kali berenang di air yang melimpah, membuat anak-anak tak sabar untuk menangkapnya dengan tangan mereka. Bagi mereka, hujan adalah anugerah—membuka kesempatan untuk bermain dan merasakan kesegaran air hujan yang jatuh dari langit, membasahi bumi yang hijau.
Jalan-jalan kampung pun mulai dibangun, proyek MHT (Muhammad Husni Thamrin) perlahan-lahan menggantikan tanah becek dengan jalan beraspal. Namun, modernisasi itu tidak serta-merta menghapuskan keindahan alami yang telah lama menjadi ciri khas daerah ini. Pohon kelapa masih berjejer di sepanjang tepi jalan, dan di sela-sela kampung, masih ada lapangan luas berumput tempat anak-anak dan remaja berkumpul untuk bermain bola. Sorakan mereka terdengar hingga ke rumah-rumah di pinggir lapangan, menyatu dengan suara alam yang mengalun lembut.
Kehidupan di Kamal pada masa itu adalah simfoni alam dan manusia yang hidup berdampingan dalam harmoni. Setiap pagi, embun masih menggantung di ujung daun, menetes perlahan seiring matahari yang naik di ufuk timur. Burung bangau dengan anggun berdiri di pematang sawah, menunggu saat yang tepat untuk menangkap mangsa di tanah berlumpur. Di sela-sela hijauan itu, para pemancing duduk dengan tenang, menanti belut yang menggeliat di bawah air.
Keasrian itu tampak pula dari kebiasaan warga yang masih memanfaatkan alam untuk keperluan sehari-hari. Di kebun-kebun yang tumbuh liar, banyak yang masih membuang hajat secara alami, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Kebun-kebun ini bukan sekadar tempat, tetapi juga simbol dari betapa dekatnya hubungan masyarakat dengan alam. Tumbuhan liar tumbuh subur, memberikan rasa tenang dan perlindungan bagi mereka yang memanfaatkannya.
Semua ini adalah potret kehidupan yang kini sulit ditemukan. Sebuah masa di mana Kamal, meskipun berada di pinggiran Jakarta, masih menyimpan wajah alam yang tenang dan hijau. Sebuah kehidupan yang berjalan perlahan, seiring aliran sungai yang berwarna kuning, di bawah naungan pohon-pohon besar yang melindungi dari panas matahari. Kenangan tentang Kamal pada masa itu adalah kisah tentang Jakarta yang masih asri, sebelum beton dan gedung-gedung tinggi menggantikan alam yang dulu mendominasi.
Tahun 1990-an adalah masa transisi yang mengawali babak baru bagi Jakarta, sebuah jembatan antara kehidupan alamiah yang masih terlihat di pinggiran kota dan modernisasi utuh yang akan tiba pada akhir dekade tersebut. Pada era ini, perubahan mulai terasa, namun keasrian alam dan budaya tradisional masih berdenyut di banyak sudut. Jalan-jalan kecil di kampung-kampung masih dihiasi kebun-kebun alami, pohon-pohon besar masih menjadi naungan, dan sawah-sawah serta empang masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, menjelang akhir 1990-an, modernisasi mulai bergerak semakin cepat, seiring dengan datangnya reformasi politik yang tak hanya mengubah struktur pemerintahan, tapi juga berdampak pada tatanan sosial dan lingkungan di Jakarta. Kemajuan ekonomi dan pembangunan yang pesat mengubah wajah kota secara kontras—dari hamparan alam yang hijau dan damai menjadi lahan-lahan beton yang dipenuhi gedung pencakar langit. Alam yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mulai tergeser oleh kebutuhan akan ruang baru. Bersamaan dengan itu, kultur masyarakat pun ikut berubah, menggantikan cara hidup yang lebih sederhana dan komunal dengan ritme perkotaan yang lebih individualistis dan terpusat pada kecepatan.
Tahun 1990-an adalah momen ketika Jakarta berada di ambang perubahan besar. Sebuah masa di mana sisa-sisa kealamian masih terlihat, namun bayang-bayang masa depan yang lebih modern mulai mengintai dari kejauhan.

