GazanaPublika.com –  Jakarta di akhir tahun 1980-an, terutama di kawasan pinggiran seperti Kelurahan Kamal, Kecamatan Cengkareng, adalah potret kehidupan yang penuh dengan kebersahajaan. Di sana, modernisasi belum sepenuhnya menyentuh setiap rumah. Malam-malam di Kamal masih gelap, sunyi, dan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu pelita yang berkelip di jendela-jendela rumah. Tidak semua orang memiliki listrik; beberapa rumah hanya diterangi lampu minyak, yang seolah menjaga keintiman suasana malam di antara pepohonan dan kebun yang masih banyak tersebar di sekeliling perkampungan.

Anak-anak kecil berlarian riang di halaman-halaman rumah dan tanah lapang, bermain benteng atau petak umpet. Suara tawa dan sorak-sorai mereka memenuhi udara, sementara malam semakin larut. Mereka saling mengenal, bukan hanya di dalam lingkup satu gang atau satu RT, tapi di tingkat kelurahan. Kedekatan itu tak sekadar karena permainan yang mereka bagi, tapi juga karena suasana kekeluargaan yang begitu kuat di antara para tetangga. Ketika sore tiba, permainan tradisional seperti congklak, kelereng, atau lompat tali sering dimainkan di pelataran rumah di tanah lapang. Di mslam.hari mereka bermain benteng atau petak umpet. Setiap anak tahu siapa temannya, siapa kakak temannya, bahkan siapa orang tua dari teman-temannya. Tak ada satu pun yang asing di antara mereka. Bahkan dalam skup satu kelurahan pun, mereka masih bisa mengenal satu sama lain dan mereka saling menyapa.

Siang hari, suasana di Kamal juga penuh dengan kesederhanaan dan kehangatan. Para perempuan—ibu-ibu dan gadis-gadis—sering berkumpul di teras atau halaman rumah, sambil duduk mencari angin disela suasana siang yang panas. Mereka para perempuan saling membiak kutu (cari kutu-red) di rambut mereka, sebuah tradisi yang tak sekadar merawat kepala dan kesehatan, tapi juga menjalin hubungan sosial. Tangan mereka sibuk, sementara mereka saling bercengkrama, bercanda, atau sekadar bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Jika angin sore bertiup lebih kencang, mereka mengipas-ngipas dengan kain sarung yang dililitkan di pundak.

Masyarakat di Kamal sangat akrab dan saling membantu. Jika ada yang kehabisan cabai atau rempah-rempah lainnya, mereka cukup mengetuk pintu tetangga untuk meminjam. Tidak ada rasa segan, karena mereka tahu, jika giliran tetangganya yang kekurangan, mereka akan melakukan hal yang sama. Bahkan jika tak punya uang pun, mereka bisa meminjam dengan mudah, dan ketika tetangga mendapatkan uang, pinjaman itu dikembalikan tanpa hitung-hitungan yang rumit. Ibu-ibu sering berkumpul untuk merujak bersama, membuat adukan bumbu di cobek besar dan menyiapkan buah-buahan yang dipetik dari pohon de depam rumah. Rasa rujak yang segar tak hanya menyegarkan lidah, tapi juga mengeratkan hubungan di antara mereka.

Meski kehidupan di sana tidak bisa dikatakan sejahtera dalam ukuran ekonomi, kebanyakan keluarga hidup dalam keterbatasan. Rumah-rumah masih banyak yang berdinding bilik, anyaman bambu yang sederhana tapi cukup untuk melindungi dari hujan dan panas. Atap-atap terbuat dari daun kelapa atau rumbia, memberikan kesan pedesaan yang kuat, meski sebenarnya mereka hanya berada di pinggiran Jakarta. Sebagian rumah memang sudah berdingding tembok.

Beberapa orang yang lebih beruntung1 (mampu ekonomi) memiliki televisi, dan saat acara favorit disiarkan, tetangga-tetangga berbondong-bondong ke rumah mereka, menumpang menonton. Layar hitam-putih itu menjadi pusat hiburan, dan suara dari televisi sering kali menjadi satu-satunya suara selain derit pintu atau angin malam yang bertiup lembut.

Fasilitas dasar seperti WC juga belum menjadi kebutuhan utama bagi kebanyakan warga. Jika mereka ingin buang air besar, mereka cukup pergi ke kebun di belakang rumah, tempat yang masih penuh dengan semak-semak dan pepohonan besar. Kebun-kebun itu tak hanya menjadi tempat untuk buang hajat, tetapi juga tempat anak-anak bermain petualangan atau sembunyi-sembunyian di siang hari. Tidak ada kesulitan yang terlalu berat, semuanya dijalani dengan ringan, seolah alam memberikan cukup ruang bagi mereka untuk hidup tanpa terburu-buru.

Saat bulan puasa tiba, suasana Kamal semakin hidup. Setelah sahur, para remaja dan anak-anak keluar melakukan lari pagi sambil melihat-lihat adakah temanmya yang ikut dalam aktifitas itu, mereka bersemangat menghabiskan waktu sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka membangunkan orang-orang di sekitar, berteriak-teriak dalam tawa, berkejaran di gang-gang sempit yang masih gelap. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan yang dirindukan setiap tahunnya, saat bulan puasa menghadirkan semangat gotong royong yang lebih kuat.

Di tahun-tahun itu, pendatang masih sedikit. Orang-orang yang baru datang dianggap sebagai orang asing, karena kultur mereka yang mungkin sedikit berbeda. Masyarakat Kamal dikenal dengan gaya hidup yang sederhana dan komunal, mungkin karena kepercayaan dan nilai-nilai lama yang masih dipegang erat. Mereka belum terbiasa dengan kehadiran orang luar yang membawa kebiasaan baru, meskipun lambat laun perubahan mulai merambah dengan masuknya lebih banyak penduduk dari berbagai daerah.

Di Kamal, tahun 1980-an hingga 1990-an adalah masa-masa di mana Jakarta masih terasa jauh. Suasana pedesaan, kehidupan yang rukun, dan alam yang masih mendominasi, membuat tempat ini seperti sebuah dunia kecil yang berdiri sendiri, terpisah dari keramaian kota besar. Itu adalah potret Jakarta pinggiran yang akan semakin memudar seiring berjalannya waktu, digantikan oleh modernisasi yang menyapu bersih keaslian alam dan kekeluargaan yang hangat. Waktu berlalu, tapi bagi mereka yang mengingatnya, Kamal di masa itu tetap menjadi kenangan yang tak tergantikan—sebuah gambaran Jakarta yang mungkin suatu saat hanya akan menjadi cerita di antara mereka yang pernah merasakannya.

Redaksi

Exit mobile version