GazanaPublika.com, Yogyakarta – Mantan Menpora sekaligus pakar telematika Roy Suryo kembali menjadi sorotan setelah mengomentari reuni Presiden Joko Widodo dengan rekan-rekan seangkatan Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 yang digelar di Sleman, Sabtu (26/7/2025). Dalam komentarnya, Roy menyebut acara tersebut sebagai “reuni dadakan yang sangat lucu” dan bahkan menjadi bahan tertawaan di berbagai grup alumni Universitas Gadjah Mada.

“Reuni yang diselenggarakan mendadak itu sangat lucu. Terlihat sebagai bentuk kepanikan luar biasa. Bahkan menjadi bahan tertawaan di semua grup UGM,” kata Roy dalam pernyataan yang dikutip dari kanal YouTube Official iNews.

Dalam acara bertajuk Spirit 80: Guyub Rukun Migunani, para alumni hadir dengan seragam biru kompak, namun Jokowi tampil berbeda dengan kemeja putih. Perbedaan ini, menurut Roy, makin mempertegas kesan bahwa kehadiran Jokowi di tengah reuni lebih bersifat simbolik daripada substansial.

Roy menilai, reuni itu digelar sebagai respons atas isu sensitif yang terus membayangi Jokowi: dugaan ijazah palsu.

“Ini bukan sekadar temu kangen. Ini sinyal kuat adanya kegelisahan terhadap kasus hukum yang sedang berjalan,” tegas Roy.

Kasus ijazah palsu Jokowi saat ini tengah ditangani Polda Metro Jaya setelah laporan pencemaran nama baik diajukan Jokowi sendiri pada 30 April 2025. Status hukum kasus ini telah naik ke tahap penyidikan, dan hingga kini sudah ada 12 orang yang berstatus terlapor.

Di antara mereka, terdapat tokoh-tokoh publik seperti Eggi Sudjana, Rizal Fadillah, hingga mantan Ketua KPK Abraham Samad. Nama Roy Suryo sendiri juga tercantum dalam daftar tersebut, bersama Tifauzia Tyassuma (Dr. Tifa) yang menjadi salah satu pengkritik paling lantang terhadap keaslian dokumen akademik Jokowi.

Dalam wawancara sebelumnya, Mulyono—salah satu peserta reuni yang juga teman seangkatan Jokowi—membantah tudingan bahwa dirinya hanyalah seorang calo tiket terminal. Mulyono menegaskan bahwa dirinya lulus dari UGM tahun 1987 dan pernah bekerja di berbagai wilayah Indonesia. Ia mengaku kuliah bareng Jokowi, meski lulus lebih lambat karena nilai akademiknya di bawah Jokowi.

Namun bagi pihak yang skeptis, seperti Roy Suryo, pertemuan semacam ini tidak lantas bisa membungkam keraguan publik. “Reuni yang sifatnya politis justru bisa memancing lebih banyak pertanyaan,” pungkas Roy.

Redaksi

Exit mobile version