GazanaPublika.com, Jakarta – Di tengah lantai berkilau dan musik latar yang catchy, pusat perbelanjaan kini dipenuhi kerumunan. Tapi tunggu dulu—bukan antrean di kasir yang mengular, melainkan antrean di spot foto mural dan tenant minuman kekinian yang murah meriah. Di era media sosial dan gaya hidup “konten dulu, belanja belakangan,” muncul satu fenomena baru: generasi ROJALI dan ROHANA. Singkatan ini mendadak viral.
Berikut ini adalah sejumlah singkatan unik yang mencerminkan fenomena sepinya mall dari sisi pembelian, namun tetap ramai secara fisik:
• ROJALI: Rombongan Jarang Beli
• ROHANA: Rombongan Hanya Nanya
• ROHALUS: Rombongan Hanya Elus-Elus
• ROHALI: Rombongan Hanya Lihat-Lihat
• ROCEGA: Rombongan Cek Harga
• ROMANSA: Rombongan Manis Senyum Aja
• ROTASI: Rombongan Tanpa Transaksi
• ROSALI: Rombongan Suka Selfie
• ROCADOH: Rombongan Cari Jodoh
• ROCUTA: Rombongan Cuci Mata
• ROMUSA: Rombongan Muka Susah
Semua nama ini terdengar lucu, tapi bagi pemilik toko, ini bukan sekadar candaan. Ini adalah teka-teki bisnis yang membuat kepala pening: pengunjung ramai, omzet lesu.
Mall Jadi Ruang Dingin, Bukan Lagi Ruang Belanja
Para pengunjung kini memandang mall lebih sebagai taman kota ber-AC ketimbang tempat belanja. Mereka datang untuk:
• Mengisi waktu tanpa menguras dompet
• Foto-foto di spot estetik
• Menikmati ambience mewah tanpa komitmen belanja
‘Sekarang orang ke mall buat bikin konten, bukan cari barang,’ ujar Rina (23), pengunjung tetap sebuah mall di Jakarta Selatan. “Kadang cuma order air mineral, yang penting dapat tempat duduk dan lighting bagus.”
Di balik ramainya feed Instagram dan story penuh check-in, banyak tenant ritel mulai mengeluh. Data tak resmi dari beberapa pengelola pusat perbelanjaan menunjukkan bahwa tingkat kunjungan meningkat pasca pandemi, tapi tingkat konversi pengunjung jadi pembeli stagnan, bahkan menurun.
“Foot traffic naik, tapi yang belanja serius malah makin sedikit,” ungkap Doni, supervisor toko fashion di Bekasi. “Yang datang kebanyakan cuma pegang-pegang barang, nanya-nanya, terus pergi.”
Kenapa Ini Terjadi?
Fenomena Rojali dan Rohana muncul dari perubahan gaya hidup urban:
• Ekonomi yang ketat bikin orang selektif belanja
• Sosial media culture mendorong pengalaman visual daripada konsumsi material
• Mall jadi tempat hiburan terjangkau, bukan lagi destinasi belanja besar-besaran
Menurut sosiolog budaya, ini adalah bentuk adaptasi generasi muda menghadapi tekanan hidup. “Mereka ingin tetap eksis, punya pengalaman sosial, tapi tidak mau boros. Mall menjadi ruang ‘berkelas’ yang gratis dinikmati,” kata Farah R., pengamat gaya hidup urban.
Bagaimana Pelaku Usaha Harus Menyikapinya?
Fenomena ini menuntut strategi baru. Pelaku usaha tidak bisa hanya menunggu transaksi di kasir, tapi harus menciptakan pengalaman yang melibatkan pengunjung secara emosional maupun digital:
• Menyediakan spot konten di dalam toko
• Membuat promo interaktif dan gamifikasi
• Berkolaborasi dengan influencer mikro lokal
• Menyusun ulang toko jadi ruang pengalaman, bukan hanya rak produk
Dari Sekadar ‘Lihat-Lihat’ Menuju Loyalitas Digital?
Rojali dan Rohana memang jarang beli sekarang. Tapi siapa tahu, lewat satu unggahan dan pengalaman menyenangkan, mereka bisa kembali sebagai pelanggan setia esok hari. Dunia retail tak lagi soal ‘jual langsung’, tapi menanam jejak pengalaman yang bisa tumbuh di waktu yang tepat. Mall boleh sepi transaksi, tapi jangan sepi strategi.
Karena di era ini, siapa yang bisa ‘dibicarakan’ lebih punya peluang daripada yang hanya ‘ditawarkan’
Kalau kamu butuh versi ini untuk layout web, koran, atau infografik juga, aku bisa bantu siapkan. Mau dilanjutkan ke format visual?

