GazanaPublika.com, Jakarta — Suasana emosional mewarnai pernyataan kuasa hukum Eggi Sudjana, Elida Netty, saat ia angkat bicara di hadapan publik terkait gelombang tudingan yang menyeret nama kliennya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Netty meminta agar berbagai fitnah yang beredar dihentikan, terutama isu yang menyebut Eggi dan timnya menerima ‘uang Rp100 miliar’ setelah bertemu dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo.
Pertemuan yang kini menjadi sorotan itu berlangsung pada Kamis (8/1/2026) di kediaman Jokowi, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah. Eggi datang bersama Damai Hari Lubis, yang dikenal sebagai Koordinator Advokat Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA). Keduanya selama ini berada di garis depan dalam polemik keaslian ijazah Jokowi, sebuah perkara yang belakangan menyeret mereka ke dalam pusaran hukum sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik.
Pasca-pertemuan, narasi yang berkembang di ruang publik berubah tajam. Eggi dan Damai disebut-sebut telah meminta maaf kepada Jokowi, bahkan lebih jauh dituding menerima imbalan uang dalam jumlah fantastis. Tuduhan itulah yang kemudian dibantah keras oleh pihak kuasa hukum.
Netty menegaskan, kehadiran kliennya di Solo tidak lebih dari sekadar silaturahmi, tanpa muatan politis maupun transaksi tersembunyi. Ia juga memastikan tidak ada sepeser pun dana yang diterima, baik oleh dirinya maupun oleh Eggi dan Damai, terkait pertemuan tersebut.
Di tengah pernyataannya, Netty menyebut bahwa langkah yang diambil timnya semata-mata dilandasi alasan kemanusiaan. Kondisi kesehatan Eggi yang tengah menurun akibat kanker stadium 4 menjadi perhatian utama mereka.
“Saya minta kepada semua jelas, Bang Egi murni sakit, mohon didoakan, jangan fitnah kami karena sakit loh, dosa loh kalian, pertanggungjawaban dunia akhirat,” ucap Netty, dikutip dari YouTube iNews, Jumat (16/1/2026).
Ia juga menepis tudingan penerimaan dana ratusan miliar dengan nada sinis. “(Fitnah) menerima uang Rp100 miliar pakai apa bawanya? Katanya pengkhianat, pecundang. Padahal Bang Egi ini bertahun-tahun pejuang dan aktivis. Mereka baru nongol kok action-nya luar biasa, melebih kemampuan mereka,” katanya.
Netty melanjutkan bantahannya dengan ilustrasi yang tajam. “Kalau kita bawa uang Rp100 miliar pakai helikopter, jatuh itu helikopter. Kalau kita bawa pakai tronton, berapa tronton yang kita siapkan? Rp100 miliar bukan uang kecil. Dan kalau kita pakai transfer kena KPK dong,” ujarnya.
Ia pun mengajak publik untuk mengedepankan tabayyun sebelum melontarkan tuduhan.
“Kenapa kok nuduh bahwa kita mendapat uang Rp100 miliar, proyek, dan hal-hal yang sangat menyakitkan. Padahal tidak ada apa-apa. Saya boleh dong ngomong demi Allah, demi Rasulullah, dengan agama saya 1.000 perak pun tidak ada kami dapat apa-apa,” tegas Netty.
Di sisi lain, respons juga datang dari Roy Suryo, yang turut berstatus tersangka dalam perkara polemik ijazah. Ia menyatakan menghormati langkah Eggi dan Damai dalam bertemu Jokowi, meski perbedaan sikap di antara para pihak tetap mewarnai dinamika kasus ini.
Isu ini kini tidak hanya bergulir sebagai persoalan hukum, tetapi juga menjadi pertarungan opini di ruang publik, di mana pertemuan singkat di Solo berubah menjadi simbol yang ditafsirkan beragam oleh berbagai pihak.

