Jakarta, GazanaPublika.com – Debat capres kedua di Istora Senayan, Jakarta, menjadi panggung pertempuran gagasan antara calon presiden nomor urut 1, Anies Baswedan, dan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto, terutama seputar keamanan siber.
Anies menggarisbawahi pentingnya pembentukan sistem keamanan siber yang melindungi bukan hanya lembaga pemerintah, tetapi juga setiap keluarga dari serangan hacker.
Namun, Prabowo menanggapinya dengan mengkritik pendekatan yang dinilainya terlalu teoritis dari Anies, menekankan bahwa kekuatan yang paling penting dalam isu AI, keamanan siber, dan teknologi tinggi adalah manusianya.
Debat ini menjadi sorotan karena mengungkap perdebatan ide dan strategi antara kedua capres dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang semakin relevan di era digital saat ini.
Dalam diskusi mengenai pengelolaan sumber daya di Kementerian Pertahanan, Prabowo Subianto menegaskan telah membuka empat fakultas baru, termasuk jurusan sains, teknologi, engineering, dan matematika, selama masa jabatannya sebagai Menteri Pertahanan.
Menurut Prabowo, menguasai esensi dari sistem yang dihadapi jauh lebih penting daripada sekadar memiliki perangkat keras. “Kita harus menguasai bagaimana mengelola sistemnya, bukan hanya bicara yang bagus,” tegasnya.
Namun, Anies Baswedan menanggapi klaim tersebut dengan mempertanyakan kinerja Kementerian Pertahanan yang menurutnya belum optimal. Anies menyoroti pentingnya membangun infrastruktur sistem siber, baik dari sisi perangkat lunak maupun perangkat keras, serta menekankan perlunya eksekusi dari rencana yang telah disusun.
“Selama lima tahun ini, apa yang dilakukan untuk menjaga sistem keamanan siber kita? Di situlah masalah intinya,” ungkap Anies, menyoroti pentingnya implementasi dari rencana kerja dalam mempertahankan keamanan siber negara. (Sumber: Kompas.com)

