GAZANAPUBLIKA.COM – Sesaat Jokowi dan Keluarga membuat heboh publik. Pasal, Jokowi dianggap pengkhianat karena telah merobek komintmen dengan partainya sendiri. Bahkan keadaan itu mengundang reaksi dari pihak lain juga. Dia dicurigai bermain mata dengan kubu Prabowo Subianto.

Sementara anak-anaknya pun dibiarkan liar, Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sementara Gibran Rakabuming Raka dibiarkan menerima lamaran Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk dicalonkan menjadi pasangan Prabowo Subianto untuk jadi Wapres. Sikap Jokowi dianggap cawe-cawe, tidak konsisten, dan merugikan partai.

Jokowi mengatakan membiarkan anaknya untuk memilih sikapnya sendiri karena mereka sudah berkeluarga. Namun tuduhan pengkhianat dari massa PDIP terus bergulir padahal sebelumnya mereka adalah pendukung Jokowi. Nampaknya Jokowi acuh atas semua tuduhah itu.

Inilah politik yang selalu berprinsip pada asas “Tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi, semua bergantung kepentingan.” Satu sisi prilaku politik seperti itu melukiskan sifat kanak-kanak karena tadinya begitu “bungah” ketika ada orang yang sevisi mendukungnya dan kalau sudah tidak mendukung, mereka menjadi berang dan marah. Tidak ada kedewasaan dalam masalah begini bahkan sekelas Ketua Partai bisa Baper.

Politik berangkat dari prasangka dan jauh dari pandangan obyektif. Semua sikap yang ditengarai mencurigakan akan dipandang mencederai ideologi dan marwah kelompok.

Jokowi dicurigai bukan oleh orang kuar tetapi dari sebagian orang yang memgklaim pendukungnya dan partainya. Itu berarti selama ini ikatan mereka dengan Jokowi lemah. Jokowi dielu-elukan karena dianggap telah berhasil mendulang suara buat PDIP dan mampu memposisikan partai tersebut duduk di atas negara.

Menilik reaksi massa PDIP yang sebelumnya adalah pendukung Jokowi, apabila dicermati berarti sebetulnya selama ini mereka tidak betul-betul mendukung Jokowi. Mendukung Jokowi hanya karena asas kepentingan semata. Mungkin dipandang sebagai alat untuk kontribusi kekuasaan yang layak jual. Jadi wajar, ketika Jokowi dianggap tidak sesuai dengan prinsip PDPIP atau membelot maka hujatan pun datang.

Ikatan politik adalah ikatan yang rapuh, wajar apabila adanya terselip ketidak-percayaan, sebaliknya muncul prasangka kepada Jokowi. Kalau ikatan itu itu bentuknya ideologis maka mesti ada sikap saling mempercayai dan memahami. Sikap ideologis dalam pemahaman demokratis tidak bersifat koersif, dituntut memaksa keluarga besarnya untuk ‘berbaiat’ sepenuhnya kepada PDIP.

Padahal satu sisi mereka harus memahami bahwa Jokowi juga sebagai Kepala Negara dan pemerintahan, bahwa apa yang dilakukan itu memiliki visi untuk kemajuan negara. Ketika sudah menjadi Presiden ibarat perempuan yang sudak dinikahi maka seluruhnya harus diserahkan kepada suaminya.

Artimya, Jokowi sudah diserahkan kepada negara, ia bukan milik PDIP lagi tetapi milik rakyat. Terlalu sempit apabila menterjemahkan sebagai Petugas Partai. Label petugas partai harus dihilangkan darinya ketika dia sudah menjabat sebagai presiden.

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, dia harus adil dan mengayomi semua partai dan golongan. Dia boleh bersentuhan dengan partai mana pun, kecuali apabila ia sudah berada di ruang internal keluarga PDIP. Bahasa Petugas Partai tidak boleh didengar oleh publik karena bisa dianggap pelecehan terhadap konsitusi dan posisi Jokowi akan dianggap berpihak kepada salah satu golongan saja. Ada nilai etis yang harus dijunjung di dalam berbangsa dan bernegara ini.

Sedangkan sebagai pribadi, Jokowi adalah orang yang memiliki keluarga, saudara, teman dan fans (pendukung dan pengagum). Dalam berkeluarga, seorang ayah dituntut untuk menghargai hak anak-anaknya karena mereka sudah dewasa. Dalam pergaulan, dia juga manusia yang membutuhkan kawan.

Sebagaimana itu semua, kepada fans mungkin dia harus mempertahankan pribadinya. Sedangkan loyalis itu substansinya, orang yang selalu mengikuti dia kemana pum dia bermanuver dan tidak ada persoalan dengan partai. Fans hanya peganggum dam tingkatan loyalis harus tegak lurus dengan Jokowi bukan kepada partai dan itu tidak bersifat paksaan atau perintah tetapi kesadaran atas kesetiaan. Jadi wajar, kini situasinya sudah terbelah antara fans, loyalitas dan pengikut kepentingan yang berbasis ideologis partai.

Ketika Projo memilih Prabowo sebagai tujuan politiknya, itu pun sikap politik yang patut ia hargai ketika Jokowi belum tentu memberikan instruksi. Tidak boleh memgedepankan prasangka, prasangka menandakan orang yang tidak dekat dengan Jokowi. Biasanya datang dari musuh atau penumpang gelap.

Kalau orang yang dekat dan sekaligus ‘mahfum’ harus percaya bahwa dia sebetulmya orang yang tetap setiap kepada partainya. Nyatanya dia tetap Kader PDIP dan orang lain tidak perlu seperti kebakaran Jenggot ketika dia dipandang memiliki kedekatan dengan satu faksi koalisi. Tidal harus menuduh dia pengkhianat karena melihat indilasi semua keluarganya mengambil beda haluan.

Namun fenomena ini telah memperlihatkan mana kelompok yang selama ini menjadikan Jokowi sebagai alat dan mana yang betul-betul menjadi Jokower. Jokower tidak harus ke PDIP atau mendukung Ganjar, boleh mendukung Prabowo-Gibran atau Anies-Cak Imin. Sebab Jokowi sudah menjadi icon ideologi. Ideologi yang ditanamkan oleh nilai dan semangat Jokowi adalah kejujuran, merakyat, kesederhanaannya, ketegasan, dan semangat kemajuan.(**)

Redaksi

Exit mobile version