Penulis : Haidar Widodo Ch

GazanaPublika.com — Adalah sumber dari batin yang sadar bukan perasaan, tapi kesadaran. Kesadaran bukan energi, tidak bolak-balik, ia diam dalam keadaan positif tak berhingga, pun dalam keadaan bahagia tak berhingga, inilah Sadar Da’im. Sungguh jiwa yang tenang itu berbeda dengan tenangnya perasaan pada keadaan batin, yakni sadar, terjaga.

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang ridha lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS: Al-Fajr :27-30)

Menelisik kesadaran, itu adanya di jiwa atau soul, tentu jiwa di sini yang memenuhi ciri sebagai kesadaran. Artinya bukan seperti orang gila, yang sakit mental karena syaraf teknisnya terganggu. Karena prinsipnya orang gila itu jiwanya sama sekali tak terganggu, hanya syaraf teknisnya secara medis yang terganggu. Seperti bohlam lampu di rumah kita putus tidak nyala, jangan sebut gardu PLN sedang braypet, tapi itu lampu di rumah kita saja yang rusak.

Kembali ke kondisi Sadar Da’im. Ini praktik bisa selalu sadar, setiap saat, apa pun kondisi kita. Kejadian apa pun yang terjadi pada kita, kita bisa sadari itu. Sedang takut, marah, depresi, galau berat, senang, bahagia, gembira, dimabuk cinta, tenang, semua bisa kita sadari. Sadar bisa dilakukan setiap saat.

Bahkan ketika mimpi dan tidur pun kita bisa sadar. Kalau pun ternyata kita tak bisa, bukan karena hal itu tidak bisa dilakukan, tapi karena kita tak mampu melakukannya. Saat mimpi kita bisa sadar, sadar kalau kita sedang mimpi, jadi kita bisa atur mimpi kita, sekehendak kita, dari mulai ingin terbang sampai ingin berpetualang ke mana pun.

Hanya saja, mimpi kita kadang bisa disadari kadang tidak. Dalam hal ini bukan berarti penulis sudah mampu memelihara kesadaran dan ketenangan. Yang penulis fahami di sini bahwa ‘dalam keadaan apapun kita bisa sadar, kalau mampu’ itu saja.

Termasuk dalam setiap kondisi, baik dalam situasi konflik perang yang sarat propaganda psy war misalnya, mestinya kita harus tetap menjaga kesadaran (selalu sadar) terutama dari rasa panik yang timbul dari isu dan informasi yang belum jelas.

Jadi, sadar bisa diupayakan selalu terjaga sadarnya, kalau pun tidak bisa, bukan karena kesadaran tidak bisa dijaga dalam keadaan tertentu, bukan pula sebab kesadarannya, tapi alasan batin kitanya yang belum mampu menyadari kesadaran di keadaan tertentu itu.

Andai ‘selalu tenang’, tidak ada seorang pun yang bisa selalu tenang setiap saat, tanpa ada naik turun. Kendati itu orang tercerahkan sempurna sekalipun, tetep ada sedikit lupa, sedikit marah, sedikit sedih. Kendati sedikit-sedikit, tapi itu tetap ada.

Selalu tenang itu tak mungkin, tenang perasaan itu kondisi perasaan (dzahir), sedangkan perasaan itu energi, timbulnya energi itu akibat dari getaran atau vibrasi. Yang namanya getaran pasti bolak-balik, kalau diam di suatu kondisi, ya bukan bergetar namanya, tapi diam. Karenanya, perasaan tenang adalah energi, maka pasti kadang tenang kadang tidak, bolak-balik terus.

Di sini yang bisa dilakukan hanyalah memperpendek riak gelombang dan memperlambat getaran. Tetap masih ada bolak-balik rasa, tapi tidak terlalu tajam, tidak terlalu ekstrem. Tetap marah, walau kecil, sehingga mudah hilang. Tetap takut tapi kecil, sehingga mudah kembali tenang. Jadi, sifat dominannya tetap tenang.
Ini seperti samudera, sifat alaminya tenang, tapi kalau ada angin ya tetap beriak, makin besar anginnya, makin besar juga riaknya, tapi begitu anginnya reda, reda juga riak gelombangnya.

Dalam masa situasi sulit, meski tenang itu mustahil tetap/selalu, tetapi upayakan memperpendek riak gelombangnya, memperlambat getaran seperti gambaran di atas, agar tenang selalu stabil, jangan memelihara panik.

Pun batin kita, jangan dipelihara seperti hutan gambut sisa terbakar, kendati dipermukaan tak ada api, tapi di dalamnya bara masih menyala-nyala. Ya, kita kebanyakan begitu, peristiwanya sudah lewat, tapi batin kita masih membara, masih menyisakan tumpukan dendam emosi yang mengendap tak hilang. Terus membara, bahkan ditular-paparkan ke orang lain.

Lalu timbullah pertanyaan logika di benak. Mengapa lahan gambut sulit padam? karena di dalamnya api masih nyala liar. Kenapa api masih nyala liar? Sebab terdapat banyak sisa tumbuhan kering yang mengendap dan jadi bahan bakar lalapan api.

Mengapa emosi kita sulit padam? Karena pikiran kita masih liar. Kenapa pikiran kita liar? Karena asupan pikiran kita terus memberi kompromi pada amarah.

Harusnya kita dendam, kita bilang iya benar. Harusnya kita sakit hati dalam waktu lama kalau begini, kita bilang ‘Iya betul’. Dan jadilah kita selalu berkubang dalam derita. Maka banyak yang mengatakan, kita tidak akan pernah sakit hati, sebelum kita sendiri yang mengizinkan diri kita untuk sakit hati.

Ketika ada orang mengusik perasaan kita, sebaiknya kita sadar, tahan dulu, jangan dulu sakit hati, santai dulu, nanti kalau kita sudah tenang, baru kita pertimbangkan, apakah kita layak untuk sakit hati?. Dan kalau sudah tenang malah kita dapat hikmah, bukan sakit hati yang didapat. Karenanya, kita dianjurkan supaya menjaga pikiran agar makin menyadari geraknya berfikir, dengan cara apa?, diantaranya menyadari nafas, dzikir, mindfullness.

Akhirnya, kita bisa selalu membangkitkan sadar pada setiap kondisi, asal kita belajar terus, dengan kunci 30 persen teori dan 70 Persen praktiknya. Itu bertujuan supaya pikiran kita diam, kalau pikiran diam, jiwa seseorang pun akan tenang, kalau sudah tenang, maka pintu keheningan akan terbuka, kalau pintu hening terbuka, segera akan mudah mengenali ‘ruang kesadaran spritual’ yang penuh suka cita tanpa ada cerita penderitaan. Wallahu’alam bishawabi. (*)

Penulis adalah seorang jurnalis dan penyuka kajian tasawuf

Redaksi

Exit mobile version