Penulis : Haidar Widodo Ch

GazanaPublika.com — Manakala kita ingin selalu dekat dengan sang maha khaliq, tentu ada kaidah dan anjuran pelaksanaannya. Adalah Dzikir, sebagai salah satu media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dzikir ini bisa membentengi hati untuk tetap terjaga kepadaNya. Karena hanya dengan mengingat Allah lah hati akan terbangun dalam ketenangan. Alaa’ bidzikrillahi tathmainnul qulub (QS: Ar Radu : 28)

Hanya saja dalam hal ini hendaknya kita mempelajari ilmu dzikir terlebih dahulu sebelum mengamalkan dzikir, tentunya dengan bimbingan guru yang telah melalui dan menjalankan ilmu dzikir tersebut. Intinya, Dzikir mengajarkan agar sedetik pun kita tidak lalai dengan Sang Pencipta. Karena bagaimana pun hidup kita ini hanya menghabiskan umur yang cuma sedikit ini.

Andai guru kita membimbing pada suatu dzikir, maka bacalah dzikir itu sesuai ilmu dzikir yang diketahui, meski kita belum faham, apalagi merasakan ketunggalan dzikir itu, pembaca dzikir (dzakir) dan yang didzikirkan (madzkur).

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS al-‘Alaq ;1), dan “Yang memberitahukan pada manusia tentang apa yang tidak diketahui manusia” (QS: Al-‘Alaq ;5)

Dalam hal ini pokok pentingnya, lakukanlah dzikir itu dengan bertujuan mutlak hanya pada Dzat Allah, jangan memaksakan akal logika untuk memahami dalam lingkar ini. Biarkan Allah yang memahamkan pada kita, bukan atas semangat dan kecerdasan diri, karena setiap harap adalah nafsu.

Selanjutnya cukup tenangkan diri dalam berdzikir, tak usah sibuk berfokus halusinasi, biarkan pemikiran berputar di alamnya, yang penting dapat mengheningkan cipta pada bacaan dzikir yang di lafal, lalu dengarkan suara dzikir kita sendiri, dan awasi lah dari mana suara dzikir itu muncul.
Jika saat bergiat dzikir di relung batin terdengar banyak suara, hingga diri bingung suara mana yang akan didengar, maka bantulah suara dzikir kita itu dengan suara lahir yang keras sembari menggerakkan sebagian badan, dan teruslah seperti itu.

Akan tetapi, jika mampu mendengar suara dzikir yang khas muncul dari dalam, meski suara dzikir yang lain mengecohnya, maka aktifkan seluruh komponen tubuh supaya ikut bersuara, turut berdzikir menyebut asma Tuhan, sembari mulai membukakan pendengaran batin untuk menelisik, suara dzikir mana yang tanpa dorongan apapun, suara dzikir itu tetap bersenandung?

Hal ini dilakukan guna menemukan esensi dzikir itu sendiri, bahwa : selain untuk mengingat asma, af’al dan sifat-Nya, dzikir juga merupakan sebagai pembangkit dan penyempurna semua amal ibadah, bahkan ada yang mengatakan “Bernilai atau tidaknya suatu amal kebaikan, itu terletak pada kadar dzikir/ingat pada yang Empunya Dzikir,”.
Seorang sufi mashur berkata:

“Manakala kamu diberi taufik melakukan dzikir pada Allah, berarti kamu benar-benar telah dikarunia penunaian masuk dalam ranah undangan kemaha-tunggalan-Nya,”. Subhanallah.

Akhirnya, apapun pemahaman kita tentang perilaku dzikir yang kita tunaikan, ataupun dzikir tafakur lainnya, tentunya kita hanya mampu berharap, semoga kita selalu diberi taufik dalam menunaikan undangan-Nya, mulai di tiap hembusan nafas hingga nafas yang penghabisan. (*)

(Penulis adalah Jurnalis, penyuka kajian tasawuf dan pengajar di UNMA Banten)

Redaksi

Exit mobile version