Penulis: Iyang Bahtiar

GazanaPublika.com – Kalangan pesantren mayoritas di wilayah Banten khususnya, pada umumnya sejagat Nusantara, para santri tidak asing lagi mendengar dan mengkaji kitab al-Awamil Mandaya. Kitab tersebut karangan yang ditulis oleh ulama asal Serang- Banten, yaitu Syekh Nawawi bin Muhammad Ali bin Ahmad bin Abu Bakar, atau yang masyhur dijuluki Syekh Nawawi Mandaya.

Apakah yang dimaksud Syekh Nawawi Mandaya itu adalah Syekh Nawawi al-Bantani? Tentu bukan! Dua Nawawi tersebut sosok nama ulama yang berbeda, tapi dua-duanya asal Banten. Kalau Syekh Nawawi al-Bantani lahir di tanah Tanara, pada tahun 1230 hijriyah. Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil al-Bantani al-Jawi.

Adapun Syekh Nawawi Mandaya asli orang Desa Carenang kelahiran tahun 1847 Masehi atau 1295 Hijriyah. Sekaligus dimakamkan di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pas sekali bertempat di lingkungan pesantren Bani Nawawi, beliau putra dari Syekh Muhammad Ali pengarang Kitab Murod Awamil.

Kitab ini, secara otomatis menjadi pegangan para santri pemula yang hendak mendalami salah satu aspek penting dari bahasa Arab, yaitu secara sintaksis atau yang booming di jagat raya, dengan sebutan ilmu Nahwu. Namun, ada hal yang menarik dan unik isi kandungan kitab tersebut, diantaranya menerangkan 100 Amil. Dan membawa hikmah dalam kandungan isi kitab.

Dalam 100 Amil, terbagi menjadi dua, pertama secara Amil Lafdziyah ada 98 Amil, kedua Amil Ma’nawiyah 2. Dari Lafdzi Sama’i terbagi 91 dan Qiyasi 7, adapun Ma’nawiyah tergolong 2, Ibtida 1 dan Tajarrud 1. Sedangkan Amil Lafdzi Sama’i ada yang dinamakan Huruf Jer 19, Inna Wa akhwatuha 6, Ma dan La 2, Huruf Nida 7.

Selanjutnya, Huruf Nasob 5, Huruf Jazm 5, Huruf Syarat 9, Isim Kinayah 4, Isim Fiil 9, Af’al Nawasikh 13, Af’al Muqorobah 4, Af’al Madhi dan Dzami 4. Hal keunikannya dari 100 Amil, apabila dihitung Amil Lafdzi Sama’i bukan 91, tetapi 92. Karena, huruf Mudz dan Mundzu itu dihitung menjadi satu, semacam Alfiyah Ibnu Malik masyhurnya 1000 beit, ternyata lebih 2 bait.

Secara keunikan lainnya, bisa dikatakan kitab ibtida di kalangan santri. Namun, menariknya sampai menerangkan makna haqiqi dan majazi, padahal itu dibahasnya dalam ilmu Bayan dan Ma’ani. Hal ini, menjadi bukti walau hanya sekedar tipis dan kecil kitabnya, akan tetapi sangatlah besar isi kandungan pemahaman maknanya.

Mengambil analogi lain dari kitab awamil, seperti lafadz “I’lam”. “Perlu diketahui oleh bangsa Indonesia, bahwa sesungguhnya pengamalan didalam negara Indonesia, ada 100 pengamalan.” Yang mana secara amil lafdzi, yaitu, zhahir atau raga kita, pertama, harus ketuhanan yang maha Esa, kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, persatuan Indonesia, keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan dan perwakilan, kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pandangan makna amil ma’nawi atau disebut jiwa, pertama, harus bertauhid, kedua, meneladani akhlak baginda Nabi Muhammad SAW, ketiga, bersatunya seluruh komponen bangsa yang ada di Nusantara ini, keempat, para ulama dan umara selalu bermusyawarah, kelima, tegakan hukum secara syariat Agama maupun Negara, tidak pandang bulu tumpul ke atas, tajam kebawah.

Redaksi

Exit mobile version