“Jika kamu bukan anak seorang raja, dan bukan pula anak seorang ulama besar, maka menulislah.”  (Imam al-Ghazali)

Penulis: Endang Yusro

GazanaPublika.com – Kutipan di atas sebagai motivasi jika penulis diminta pendapat bagaimana kiat menulis oleh adik-adik, anak-anak, atau teman bahkan sesekali oleh pembawa acara.

Statement yang merupakan petikan dari ulama besar Imam al-Ghazali yang dikenal juga Hujjatul Islam, penulis sisipkan di awal, di tengah, ataupun di akhir pembicaraan sebagai rujukan dari bahasan yang diminta tentang kiat menulis.

Seperti pernyataan dari salah seorang mahasiswa UNPAM Kampus Serang yang bernama Ikmal Raziv berikut:“` _“Pak saya ada berminat buat jadi penulis artikel opini kayak bapak gitu .”_

“`Lalu penulis membalasnya, “Bisa, pasti! Ikmal kan pintar.” Sang murid pun terus berkata,“` _“Saya mau aktif nulis artikel pak, mohon arahannya..”_ “`Kemudian penulis menyambungnya dengan menyatakan bahwa itu niat yang bagus.

Kemudian penulis menyampaikan agar jangan takut salah untuk menulis. Tuangkan apa yang ada dalam pikiran saat itu juga dalam sebuah catatan. Jangan biarkan gagasan mengendap sampai kemudian lupa, karena ada ide baru yang muncul. Selalu bawa catatan kecil, atau jika sekarang ada android yang bisa digunakan untuk menyimpan data apapun termasuk catatan kecil yang kita buat.

Untuk lebih memberi motivasi penulis katakan,“` _“Menulis adalah proses yang tidak pernah menemukan kesempurnaan. Sebaik apapun tulisan akan terasa tidak sempurna di mata penulis lain. Sebaik apapun membuat pola pakaian akan terasa kurang di mata desainer lainnya.”_

Membuat segala sesuatu agar terlihat indah dipandang, enak dibaca, nikmat dirasa mesti berpola, begitu para profesional mengatakan.

Seperti juga ketika kita menulis ada pola kalimat yang mesti tersusun agar bacaan mudah dan enak dibaca.

Saat kita SD dulu, guru bahasa Indonesia mengajarkan kalimat sederhana berpola S (subjek) + Predikat (P) + Objek (O).

Jika menghendaki lebih lengkap lagi menulis dengan menambahkan keterangan, baik Keterangan Waktu (KW) maupun Keterangan Tempat (KT) bahkan bisa menambahkan keduanya.

Sebagai contoh: “Budi bermain bola jam 4 sore di GOR Maulana Yusuf Serang.” Kalimat tersebut berpola Budi (S) – bermain (P) – bola (O) – jam 4 (KW) – di GOR Maulana Yusuf (KT).

Sebagai tambahan untuk Keterangan (K) bisa ditiadakan, karena pola kalimat sederhana cukup dengan SPO (Subjek Predikat Objek).

Jika dengan membaca kita bisa mengenal dunia, maka dengan menulis akan dikenal dunia. Tinggal kita memilih, seperti bahasa anak muda, lebih baik mencintai atau dicintai. Keduanya saling mendukung, untuk dicintai mesti mencintai baru akan terjalin hubungan yang romantis. Begitupun untuk menulis mesti membaca agar menghasilkan tulisan yang indah, tidak sembarang.

Menulis dapat membuat seseorang dikenal dunia karena tulisan bisa menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan imajinasi. Tulisan juga bisa menjadi cara untuk mengabadikan peristiwa penting yang dikenang sejarah.

Menulis merupakan upaya untuk menyampaikan pandangan seseorang. Menulis juga merupakan upaya untuk melatih kepekaan terhadap kehidupan, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi penerus. Inilah yang dimaksud dengan menulislah agar dikenal dunia. Demikian catatan menjelang shalat Zuhur (Selasa, 21/1/2025), semoga bermanfaat!“`

Penulis adalah Kepala Sekolah SMAIT Bait Et Tauhid Kota Serang, Pengurus ICMI Orwil Banten, Dosen STIT Serang dan Founder Mata Pena.

 

Redaksi

Exit mobile version