Penulis: Ade Gogo

GazanaPublika.com, Ketika pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. berperang melawan pasukan kafir Quraisy di Bukit Uhud pada tahun ke-3 Hijriyah (sekitar 625 Masehi), sebanyak 70 sahabat Rasulullah gugur, termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib—paman Nabi yang dikenal sebagai Singa Allah.

Dalam pertempuran itu, Rasulullah sendiri terluka akibat serangan musuh. Seorang sahabat lainnya, Anas bin An-Nadhr, juga mengalami luka parah. Tubuhnya dipenuhi luka tebasan pedang ketika berusaha melindungi Rasulullah.

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu, 7 Syawal 3 H (23 Maret 625 M), sekitar setahun setelah Perang Badar. Kekalahan telak Quraisy di Badar membuat pemimpin mereka, Abu Sufyan, murka dan bertekad membalas dendam. Ia ingin mengembalikan dominasi politik Quraisy yang runtuh sejak kekalahan tersebut.

Dalam Perang Uhud, jumlah pasukan Muslim hanya sekitar 700 orang, sementara pasukan Quraisy mencapai 3.000 orang. Awalnya, pasukan Muslim berjumlah sekitar 1.000 orang, namun sebelum perang dimulai, sekelompok orang munafik memilih mundur dan tidak ikut bertempur, sehingga pasukan Muslim berkurang sepertiganya. Pembelotan ini dipelopori oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Pemimpin pasukan Muslim adalah Nabi Muhammad sendiri, sedangkan pihak Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Pada awal pertempuran, pasukan pemanah Muslim berhasil menggempur musuh. Namun saat pasukan Quraisy mundur dan meninggalkan harta rampasan, sebagian pasukan Muslim lengah, tergoda mengumpulkan barang-barang itu.

Kekeliruan ini dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid, panglima Quraisy, yang kemudian menyerang balik dari Bukit Rumat. Akibatnya, posisi pasukan Muslim terguncang. Dalam perang ini, pasukan Quraisy kehilangan sekitar 30 orang.

Merasa menang, pasukan kafir semakin berani dan melanjutkan kekacauan di Madinah. Serangan terhadap kaum Muslim meningkat, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil.

Pengkhianat Selalu Ada

Orang-orang munafik selalu muncul di setiap zaman. Pada masa Orde Lama, mereka membentuk kelompok radikal—baik kiri maupun kanan. Kelompok radikal kiri mendominasi karena didukung oleh kekuatan global seperti Uni Soviet dan RRC. Mereka brutal, sadistis, dan berniat menggulingkan NKRI, namun digagalkan oleh ABRI dan rakyat.

Selama Orde Baru, kelompok ini bergerak lebih senyap. Mereka menyusup ke berbagai organisasi masyarakat dan partai politik. Kelompok radikal kanan juga mulai menyusup ke partai-partai Islam demi menyeimbangi pergerakan kelompok kiri.

Penyusupan ini sebenarnya mudah dikenali. Namun, kelompok kiri lebih mencolok karena Orde Baru adalah musuh utama mereka, khususnya ABRI. Mereka menyusup ke ormas Islam, organisasi mahasiswa, bahkan membuat sayap-sayap baru untuk memperluas pengaruh.

Pada masa Reformasi, suara kelompok munafik kiri ini makin lantang. Mereka berbicara atas nama HAM, anti-korupsi, dan reformasi, meski sering terlihat anti-Islam. Ketika mereka masuk ke dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga yang dibiayai negara, sifat aslinya pun tampak jelas: korupsi besar-besaran, pelanggaran HAM, propaganda hoaks, fitnah, perang urat syaraf, dan pencurian uang rakyat hingga ribuan triliun.

Kini, ketika ada rakyat yang menuntut keadilan atas pelanggaran hukum, kelompok munafik ini justru menyuarakan propaganda “demi masa depan bangsa.” Mereka mengutamakan “mimpi” ketimbang fakta nyata pelanggaran hukum. Dalam perang propaganda dan opini publik, kelompok kiri ini kerap menyeret kelompok radikal kanan, karena keduanya memang saling berlawanan.

Kemunafikan Dalam Balutan Agama

Dalam lingkungan pemuka agama, kelompok munafik kiri akan mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung para pengkhianat, demi kepentingan duniawi. Bahkan sebagian dari mereka enggan menyampaikan sejarah Rasulullah secara utuh. Mengapa? Karena dalam sejarah itu Rasulullah pernah terluka, berdarah, bahkan menderita. Bagi mereka, ini sulit diterima akal, karena mereka memuja citra nabi secara berlebihan dan mistis.

Kelompok penyebar Islam bergaya mistik pun menyebarkan kisah-kisah berlebihan: bisa terbang, berubah wujud, keluar dari tubuh, menghilang, membelah gunung, menghidupkan orang mati, bahkan bertemu Rasulullah dalam keadaan terjaga. Ketika dikritik, mereka langsung menuding: “Itu Wahabi!” Seakan-akan tanpa dongeng mereka, Islam tidak lengkap.

Selama hidup saya, kelompok ini tak pernah menyampaikan manaqib Rasulullah saw secara utuh. Mereka alergi pada bagian-bagian yang menyatakan Rasulullah berdarah dan menderita. Padahal dalam peristiwa di Thaif, beliau benar-benar berdarah karena dilempari batu. Kisah ini bahkan meninggalkan jejak sejarah berupa Masjid Addas dan Masjid Kuk (Masjid Mawqif).

Kemunafikan di Tengah Rakyat

Kelompok munafik ini juga lihai dalam politik. Ketika mayoritas masyarakat Banten menolak proyek PIK 2, mereka justru mendukungnya mati-matian. Mereka percaya pada “impian masa depan gemilang” yang dijanjikan tokoh pujaan mereka: Yang Mulia Pak Jokowi. Bahkan, mereka menuding penolak proyek sebagai simpatisan HTI—ormas yang sudah dibubarkan.

Demikianlah, kelompok munafik selalu pandai menyamar dan berganti wajah, tapi esensinya tetap: pengkhianatan atas kebenaran demi kepentingan kekuasaan dan uang.

Exit mobile version