GazanaPublika.com – Praktik tasawuf tidaklah sesuatu yang baru atau dipelopori dengan konsep-konsep baru pada zaman ini. Jika demikian, maka itu disebut bid’ah atau inovasi buatan. Kesufian atau tasawuf merupakan rangkaian praktik yang berakar dari zaman lampau, dari Rasulullah SAW, sahabat, tabiin, ulama dan para syekh hingga masa kini, menjadi warisan spiritual yang terus mengalir dari generasi ke generasi. Dari sanad ke sanad atau silsilah keguruan Oleh karena itu, dalam membahas tasawuf, penting untuk memahami praktik-praktik tasawuf dari masa lampau bukan belajar dari buku-buku klasik, melainkan juga melalui pengajaran langsung dari Syekh yang bersandar pada tradisi dan transmisi ilmu melalui jalur silsilah atau sanad, seperti yang akan diuraikan nanti. Dengan izin Allah, hal ini mungkin dapat memberikan gambaran yang lebih autentik tentang esensi tasawuf.
Berawal dari Perbaikan dan Pembentukan Jiwa
Ketika jiwa lemah, itu Aku adalah sebuah masalah bagi manusia yang dapat menghambat perjalanan spiritual menuju Allah. Kelemahan adalah bentuk kekurangan yang butuh perbaikan.
Jiwa yang cengeng, Allah tidak akan menyukainya. Sebaliknya Dia menginginkan seorang manusia yang kuat dan tegar. Kesungguhan dalam hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT bukanlah semata-mata ditunjukkan dengan tetesan air mata apalagi melalui ratapan, atau penyesalan. Malah bila seperti itu menunjukan kurangnya rasa syukur terhadap nikmat-Nya.
Sebaliknya, seorang calon Hamba Allah harus berbekal semangat atau himmah (cita-cita) agar bisa berjumpa dengan-Nya
Orang yang cengeng dan lemah jiwa justru akan jauh dari Allah SWT. Ia akan dihadapkan Dilema kehidupan yang ujungnya akan bertemu dengan jurang frustasi. Frustasi adalah gangguan jiwa. Frustasi adalah kegagalan jiwa lalu di mana Allah akan menyukai
Orang-orang yang mempraktikkan tasawuf pada zaman dahulu terkenal karena memiliki mental yang kuat. Mereka bukanlah tipikal manusia yang bersembunyi atau menghindari realitas kehidupan karena merasa gagal di dunia ini.
Mereka sanggup menghadapi segala ujian kehidupan dengan ketabahan, bukan dengan berkeluh-kesah atau menghindar dari tanggung jawab, namun di sisi lain mereka seolah tekun melaksanakan ibadah. Ketangguhan jiwa mereka ditunjukan dengan kesiapan untuk menerima petunjuk dan saran dari Allah SWT kepadanya.
Keberanian jiwa juga mencerminkan kesiapan untuk menerima tugas-tugas yang Allah berikan sebagai amanah yang harus diemban. Hanya orang yang tangguh jiwanya yang akan mendapatkan kepercayaan Allah.
Dunia ini sangat keras dan hanya orang yang bermental kuat yang bisa menghadapinya. Di dunia ini adalah ladang amal untuk menuju akhirat karena dunia ini tidak bisa dilupakan begitu saja, kita masih ada di dunia.
Malah sebaliknya harus kita insafi, dunia ini memang penuh dengan ujian yang keras, dan hanya mereka yang memiliki ketabahan batin yang mampu menghadapinya dengan tegar. Dunia ini tetap menjadi tempat yang efektif bagi kita untuk menjalankan amal ibadah kita dengan baik.
Kesufian seharusnya bukanlah melarikan diri dari realitas dunia, namun lebih kepada menghadapi dunia ini dengan keteguhan hati, menghadapi segala cobaan dan ujian yang datang. Sambil menghadapi semua itu, kita harus merencanakan perjalanan akhirat kita tanpa melupakan kewajiban dan peran kita di dunia ini. Ini bukanlah tentang menolak dunia, tetapi lebih kepada menghadapinya dengan bijaksana dan tetap fokus pada tujuan akhir kita.
Kesufian bukanlah sekadar pelarian dari realitas hidup yang diwujudkan dengan pergi ke tempat yang terpencil seperti gunung-gunung. Kesufian yang sesungguhnya terwujud saat kita mampu hidup di tengah keramaian atau dalam terangnya kehidupan sehari-hari tanpa perlu menunjukkan diri sebagai seorang Sufi. Kesufian tidaklah menjadi sebuah gelar atau jabatan; sebaliknya, seseorang harus melepaskan embel-embel itu sebagaimana melepaskan kedekatan dan keterikatan kepada dunia. Seorang Sufi adalah individu yang tulus dalam hubungannya dengan Allah SWT.
Pendidikan kesufian sebagian besar fokus pada pengembangan kekuatan mental untuk menghadapi ujian dan cobaan hidup. Dengan modal ini, seseorang dapat memiliki pandangan yang jelas terhadap hubungannya dengan Allah SWT. Kesufian membentuk seseorang menjadi hamba yang siap menerima tanggung jawab dan amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Bagi seorang Sufi, praktik kehidupan sehari-hari adalah manifestasi dari kesiapannya dalam menghadapi segala aspek kehidupan dunia sebagai cerminan dari kesiapan mereka dalam menjalani hubungan dengan Allah SWT.
Ini adalah sebuah pengantar dan renungan untuk kajian tasawuf kita ke selanjutnya bahwa tasawuf itu adalah orang-orang yang memiliki mental dan karakter.
Pengantar ini menjadi jendela untuk memperkenalkan kajian tasawuf ke tahap berikutnya. Tasawuf bukan sekadar sekumpulan individu, tetapi mencakup karakter, mentalitas, dan kepribadian. Ini melibatkan penanaman sifat-sifat yang tidak hanya berhubungan dengan keimanan dan ibadah ritual, tetapi juga kesabaran, ketegasan, kerendahan hati, dan ketulusan dalam pengabdian kepada Allah SWT.
Pemahaman tasawuf tidak semata-mata tentang pelarian dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagaimana seseorang dapat membawa dan menerapkan nilai-nilai tasawuf ke dalam kehidupannya. Ini mencakup keberanian untuk menghadapi cobaan hidup, ketenangan dalam menghadapi kesulitan, dan ketulusan dalam melakukan segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf bukanlah sekadar teori atau konsep, melainkan suatu praktik dan upaya nyata dalam membentuk karakter yang mendalam dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis:
Ki Banjar Agung

