Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Hari ini, tepat pada 1 Muharam 1446 Hijriyah, banyak orang bersukaria, khususnya bagi muslim yang memperingatinya. Para santri dari berbagai pesantren di Nusantara melakukan pawai obor, mengelilingi desa dan kota sambil membacakan shalawat atau kalimat-kalimat thayyibah. Kadang sebagian muslim yang merayakannya mengungkapkan perkataan sinis, “Tahun baru Masehi kok dirayakan sedangkan tahun baru Islam diabaikan.” Apapun bentuk ungkapan hati, sekali lagi dalam hal ini tidak bisa dipaksakan karena kembali kepada keimanan masing-masing.
Bagi yang mengerti, bulan Muharam adalah bulan yang penting dan dianggap sakral oleh banyak orang. Peringatan Muharam tidak seperti peringatan tahun Masehi yang mengikuti tradisi Barat. Banyak orang memandang Muharam sebagai peringatan yang sakral, bukan pesta seperti tahun Masehi. Tanggal 1 Muharam juga dikenal sebagai tanggal 1 Suro di Jawa. Malam ini, sakralitas ditunjukkan dengan mandi, menyucikan diri, memandikan keris dan barang bertuah lainnya, serta melakukan ritual tertentu dengan pergi ke tempat-tempat yang memiliki aura magis. Di seluruh dunia, khususnya di Iran, umat Syiah memperingati Hari Karbala pada bulan Muharam, mengenang kisah terbunuhnya Sayyidina Husein RA pada perang Karbala.
Ini menunjukkan bahwa banyak kalangan, dari kaum tradisional, sekte, bahkan firqah agama, memperingati dan menjalankan sakralitas dalam bulan Muharam ini. Kaum kebatinan menggunakan momen penting ini untuk meningkatkan ilmu kebatinan dengan melakukan puasa-puasa.
Kisah bulan Muharam ini bermula dari zaman sahabat dan zaman halifah Umar bin Khatab, ketika mereka berdebat tentang penentuan tanggal dan bulan untuk umat muslim saat ini. Beberapa menginginkan penentuan berdasarkan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sementara yang lain menghitung dari Tahun Gajah atau pengangkatan kenabian. Para sahabat akhirnya sepakat bahwa tahun Islam dimulai dari hijrah Nabi beserta sahabatnya, karena momentum ini sangat penting.
Para sahabat juga bermusyawarah tentang bulan mulai berdasarkan sistem qamariyah, yang berhubungan dengan sistem perhitungan bulan berdasarkan peredaran bulan setiap sekitar 29 atau 30 hari, serta hubungannya dengan bulan ibadah umat Islam. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan dimulainya tahun hijriyah dari Bulan Muharam, karena jika dimulai dari Rabi’ul Awal, itu bukan hanya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga bulan wafatnya. Usulan ini diterima dan diterapkan sampai hari ini.
Dari berbagai cara memperingati bulan ini, dari sudut pandang tasawuf khususnya dan agama Islam umumnya, yang paling masyhur adalah bersedekah dan menyantuni anak yatim. Bulan ini adalah bulan sedekah dan Hari Besar Anak Yatim, dengan tujuan untuk membersihkan jiwa dan mengenal Allah. Jika Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulan Nabi Muhammad SAW, dan Ramadhan adalah bulan umat Muslim, maka Muharam adalah bulan pembersihan diri, sedekah, dan bulan anak yatim.
Dalam semua ini, kita tetap menjaga kebahagiaan diri dengan terus meningkatkan ibadah kepada Allah, tidak hanya di bulan-bulan tersebut tetapi setiap saat. Ibadah adalah kewajiban dan takwa adalah pencapaian kepada Allah.

