Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Orang yang sedang jatuh cinta terkadang mencapai kulminasi kesadaran tertinggi yang disebut ‘gila’ atau ‘gila cinta’. Orang gila sudah tidak punya kepedulian terhadap lingkungan, bahkan dirinya sendiri. Bahkan, pada titik ekstrem, orang yang gila cinta sampai tidak mau makan dan minum. Sedangkan orang yang benar-benar gila tetap makan secara normal, tetapi hilang kesadaran akan dirinya. Lalu, orang yang gila cinta pun bisa mencapai titik hilang akal. Dalam bahasa Arab, hal ini disebut ‘Majnun’ (مجنون).
Banyak sekali masyarakat yang secara kultural menginterpretasikan ‘Majnun’ (مجنون) sama dengan Majdzub (مَجذوب). Mungkinkah interpretasi tersebut memiliki irisan budaya antara masyarakat Nusantara dengan India? Saat ini, banyak sekali konten dari India yang merebak di media sosial memperlihatkan orang-orang yang dianggap suci atau resi didewakan, meskipun mereka berpakaian compang-camping dan berpenampilan kotor seperti orang yang tidak terurus. Beberapa dari mereka dianggap avatar (titisan) seperti Krisna. Persamaannya, di banyak tempat di Indonesia banyak anggapan bahwa orang-orang gila atau orang yang berperilaku ganjil dianggap sebagai waliyullah karena dipandang sebagai ‘Majdzub’ (مَجذوب) karena mereka sudah tidak memperdulikan aspek duniawi bahkan luput juga pada dirinya.
Banyak orang mengucapkannya Majdub yang maksudnya adalah Majdzub (مَجذوب) dalam bahasa Arab adalah berkedudukan sebagai ‘Isim Maf’ul’ yang posisinya sebagai objek. Sedangkan Jadzab (جذب) atau biasa diucapkan Jadab itu sendiri artinya ‘menarik’, dan orang yang menarik ditulis dengan kata Jaaduba (جادب). Demikianlah penjelasan orang-orang yang memahami istilah ini.
Oleh karena itu, kata Majdzub (مَجذوب) tidak bisa diartikan sebagai orang yang ditarik akalnya sebagaimana banyak tulisan yang menerangkan hal tersebut. Tidak ada waliyullah yang hilang akalnya. Banyak yang memahami bahwa Majdzub adalah orang yang hilang akal, kesadarannya, berpakaian compang-camping, dan kehilangan eksistensi karena cintanya kepada Allah.
Seorang sufi seperti Abu Yazid Al-Busthami ketika mencapai fana (فناء), yang kadang mengucapkan perkataan kontroversial seperti “Di dalam jubahku adalah Allah”, hanya melakukannya pada momen tertentu dan tidak terus-menerus dalam keadaan seperti yang disangkakan Majdzub (مَجذوب) sebab tidak ada yang menganggapnya Majdzub. Abu Yazid tetap tampil normal, bahkan digambarkan bahwa ia mengenakan jubah. Para ulama fikih hanya mengkritik ucapannya saja, sebagaimana kritik mereka terhadap Syekh Siti Jenar.
Ketika kata Majdzub (مَجذوب) diposisikan sebagai objek, maksudnya adalah orang tersebut memiliki kepribadian yang menarik, sehingga masyarakat tertarik padanya. Orang Majdzub memiliki magnet yakni daya tarik bagi lingkungan sekitarnya. Bisakah dibayangkan seorang pejabat publik yang ‘low profile’, bergaul dengan rakyatnya sebagaimana Brama Kumbara atau Prabu Siliwangi pada masa dahulu, yang tidak membuat batas-batas antara dirinya dengan masyarakat? Itulah gambaran orang yang Majdzub (مَجذوب). Lalu gambaran tersebut pun tergambar secara spesifik sebagaimana waliyullah yang sudah tidak membawa-bawa atribut kewaliannya, sebagai hamba Allah bukan orang yang berperilaku aneh untuk mencari perhatian agar diketahui kepribadiannya sebagai wali. Perilaku semacam itu bukanlah Majdzub (مَجذوب).
Oleh karena itu, orang yang ‘Majdzub’ (مَجذوب) sebenarnya bisa bergaul secara normal di tengah masyarakat. Ini disebut dalam perspektif lain disebut ‘Khulthah’ (خلطة), di mana eksistensinya tersembunyi di tengah pergaulan.
Wali-wali bukan orang yang sengaja menghilang dari keramaian dan menyepi ke gunung, tetapi mereka menyembunyikan dirinya di ‘tempat terang’. Menyembunyikan diri ini disebut ‘Khumul’ (خمول). Begitu juga orang yang menutup kejelekan atau aib orang lain pun kepada dirinya disebut Khumul. Oleh karenanya, antara Majdzub (مَجذوب), Khulthah (خلطة), dan Khumul (خمول) memiliki keterkaitan, dan semua ini jangan disamakan dengan ‘Majnun’ (مجنون) atau Sakr (orang yang mabuk cinta pada Tuhan). Mereka tetap hidup normal, dan perilaku janggal justru akan membawa kecurigaan orang lain, yang berpotensi membuka jati diri mereka, dan ini tidak mungkin. Perilaku waliyullah sering kali seperti intelijen karena kecakapan mereka dalam menyamar.

