Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Apakah seorang guru memiliki kesalahan? Mungkin saja, karena guru pun adalah manusia yang tidak luput dari salah. Bahkan, kejujuran seorang guru terkadang menceritakan dirinya di masa lalu tentang kesalahan yang pernah diperbuatnya. Seorang guru tetap menyadari bahwa hanya Allah Yang Maha Suci, terlepas dari segala kesalahan, sementara manusia adalah tempat bertumpunya kesalahan.
Uraian ini bukan berarti seorang murid dengan lancangnya menuduh gurunya salah. Seorang murid yang taat harus tetap menjaga pikirannya agar tidak berprasangka negatif kepada gurunya, karena itu adalah bagian dari adab. Dalam aspek ketasawufan, diyakini bahwa kesalahan seorang guru bisa membawa rahmat bagi muridnya. Seandainya guru pernah bersalah kepada muridnya, Allah akan memberikan ganjaran kepada murid tersebut berupa hikmah yang suatu saat akan bermanfaat bagi dirinya.
Kadang, ketika seorang guru menjalankan tugasnya, ia tidak henti-hentinya memberi nasihat. Dalam konteks tertentu, guru mungkin juga memberikan teguran bahkan memarahi muridnya. Dalam situasi seperti ini, bisa jadi timbul perasaan tidak menerima di hati murid, yang akhirnya melahirkan *su’uzhan* atau pikiran buruk. Murid bisa berpikir melampaui batas dan merasa bahwa gurunya tidak adil.
Dalam konteks menjalankan tugasnya, guru tidak pernah salah, terutama jika di dalam diri guru diterangi cahaya Allah yang membuatnya terhindar dari kesalahan. Sesungguhnya, kesalahan mungkin terdapat pada murid, yang tidak menyadari kekeliruannya sendiri. Jika terlihat seolah-olah guru bersalah, mungkin saja guru sedang menguji kepribadian murid, sejauh mana kejernihan hatinya dalam menilai guru. Guru juga mungkin menguji kesabaran dan ketahanan mental murid dalam menerima ujian. Apakah murid sudah rida? Apakah sudah ikhlas dan tetap menjaga rasa syukurnya?
Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, guru pun kadang kala menguji kualitas muridnya, sejauh mana kesiapannya dalam proses keguruan. Dengan ujian tersebut, guru akan mengukur kelemahan-kelemahan dalam kepribadian murid. Ada beberapa bahaya atas kelemahan kepribadian murid, antara lain su’uzhan kepada guru, bibit-bibit keputusasaan yang muncul dari kelemahan jiwa, sikap cengeng, mengeluh, galau, dan merasa terzalimi. Semua itu dapat mendekatkan murid pada kekufuran. Ujian ini salah satunya bertujuan untuk memantau kelemahan-kelemahan yang masih ada dalam diri murid.
Jadi, maksudnya dalam konteks keguruan dan aktivitasnya, guru tidak mungkin salah. Menuduh guru salah adalah perbuatan tercela yang bisa menutup murid dari rahmat Allah SWT. Guru memiliki privasi sendiri kepada Allah, dan hanya Allah yang berhak menilai seorang guru, sementara murid hanya diwajibkan untuk selalu ittiba’ (mengikuti) guru dan menjalani proses apa pun dengan pikiran positif.
Guru hanya tampak salah bagi murid yang tidak memahami perilaku dan kepribadiannya, padahal sesungguhnya guru tidak pernah salah. Kadang tampak salah itu hanyalah pandangan murid yang tidak memahami bahwa guru sedang memberikan ‘obat’ bagi dirinya, yang mungkin tidak diketahui oleh murid. Dalam pribadi guru terdapat banyak misteri yang tidak bisa diungkap hanya dari perbuatannya. Kadang tujuan guru lebih jauh dari apa yang disaksikan secara lahir oleh murid.

