Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Akhir tahun 90-an dan awal 2000-an, sebuah ikon mulai muncul ke permukaan dan menjadi sangat bermanfaat. Apakah gerangan ikon tersebut? Semua orang menyebutnya dengan label “kearifan lokal.”
Kearifan lokal ini muncul dari beberapa gerakan, seperti gerakan lingkungan hidup dan gerakan budaya. Gerakan lingkungan hidup mengangkat ikon ini karena kerusakan alam pedesaan dan hutan yang disebabkan oleh melemahnya peran kearifan lokal. Padahal, masyarakat adat memiliki kepentingan besar terhadap kelestarian desa dan hutan sebagai wilayah adat mereka.
Sementara itu, kelompok lain yang mengangkat ikon ini berasal dari pegiat, pemerhati, dan penggerak budaya. Mereka berasumsi bahwa modernisasi dan teknologi, suka atau tidak suka, akan memunculkan perubahan besar dalam kehidupan budaya. Akibatnya, budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal mulai tergerus. Fenomena inilah yang mendorong para pegiat budaya untuk terlibat langsung dalam pelestarian budaya lokal.
Namun, seberapa kuatkah kita mampu melestarikan budaya di tengah gempuran budaya kontemporer yang dihasilkan oleh modernisasi dan teknologi? Hampir semua orang telah terseret dalam arus perkembangan budaya baru, baik dari budaya asing maupun budaya kontemporer lokal.
Ini menjadi tantangan besar bagi para pegiat budaya saat ini. Ada ungkapan yang mengatakan, “Jangan berpikir pada hasil, tetapi berjuanglah dengan segenap kemampuan.” Hasil bukanlah yang utama, melainkan daya juang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kelestarian budaya harus tetap dipertahankan dengan segala upaya. Bagi seorang pejuang budaya, sudah sewajarnya mereka memegang prinsip untuk berjuang hingga akhir.
Jika dipahami, perubahan budaya telah terjadi sejak zaman dahulu kala. Budaya tradisional yang kita kenal hari ini sejatinya adalah evolusi dari budaya sebelumnya, karena budaya bersifat dinamis. Ketika memasuki era modernisasi dan teknologi, munculnya budaya-budaya baru adalah hal yang wajar, mencerminkan dinamika alam pikir manusia yang terus berkembang.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: adab. Di dalam adab terkandung nilai-nilai etika dan estetika. Misalnya, sopan santun, meski zaman berubah, tetap harus dijaga dengan standar nilai-nilai yang telah terbentuk sejak lama. Demikian pula tradisi, yang sarat dengan pengajaran tentang nilai-nilai kebaikan, penghormatan kepada nenek moyang, dan pelajaran tentang kearifan. Tradisi juga mengandung semangat kehidupan. Hilangnya budaya tradisional akan menyebabkan kekeringan rohani bagi manusia.
Nilai agama saja tidak cukup untuk menjawab tantangan ini; ia perlu dilengkapi dengan nilai-nilai budaya, terutama dalam praktik-praktik kebaikan. Agama dan budaya yang baik saling melengkapi dalam memberikan arah kehidupan.
Kita tidak boleh menyalahkan teknologi dan modernisasi, apalagi menjadikannya kambing hitam. Perkembangan teknologi dan sosial adalah hasil alami dari kreativitas manusia. Sebagai makhluk berpikir dan berkarya, manusia menciptakan perubahan dan menghasilkan karya-karya baru.
Modernisasi dan teknologi bukanlah hal yang buruk. Bahkan, kita adalah penikmat dari kemajuan tersebut. Namun, adab, etika, dan tradisi harus tetap dipertahankan di tengah kehadiran budaya-budaya baru. Nilai-nilai baik yang diajarkan leluhur harus terus dijaga sebagaimana kita menghargai perjuangan para pendahulu yang telah memberikan manfaat besar.
Melupakan nenek moyang berarti melupakan akar kehidupan. Nenek moyang kita adalah pencetus budaya yang kita nikmati hari ini. Menghargai mereka berarti menghargai sejarah, yang merupakan akar kokoh tempat segala sesuatu bermula.
Sebagai contoh, mencela keberadaan dukun beranak sambil mengagungkan dokter kandungan adalah kesalahan. Masalahnya bukan pada penerimaan dokter kandungan, melainkan pada pencelaan terhadap dukun beranak yang telah berjasa di masa lalu, membantu melahirkan generasi kakek, buyut, dan nenek kita.
Dengan demikian, keberadaan tradisi dan budaya tradisional sangat layak dihargai, meskipun zaman terus berubah. Kemajuan teknologi dan efisiensi yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari warisan masa lalu. Tidak akan ada hari ini tanpa masa lalu, karena masa lalu adalah akar, dan budaya adalah warisan tak ternilai dari masa lalu itu.

