“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.” (al-Hadits)
GazanaPublika.com – Khayalan sering muncul pada orang-orang yang sedang menghadapi tekanan hidup, salah satunya karena menganggur atau belum memiliki pekerjaan. Hal ini menjadi semakin berat ketika seseorang sudah berkeluarga, sementara tuntutan hidup tak kunjung berhenti—baik dari dirinya sendiri maupun dari pasangannya.
Secara umum, terdapat dua bentuk perilaku yang muncul saat seseorang menganggur. Pertama adalah sikap pasif, di mana orang tersebut hampir tidak melakukan apa pun untuk mengubah keadaannya, seolah telah menerima nasibnya. Kedua, munculnya khayalan sebagai bentuk harapan. Dalam khayalannya, orang itu merasa perubahan hidup mungkin saja terjadi, walau sebenarnya tidak realistis.
Pada bentuk pertama, harapan seakan telah mati, dan yang tersisa hanyalah menjalani hidup seadanya. Pada bentuk kedua, ada harapan yang nampaknya lebih optimis, tetapi terlalu dibungkus oleh khayalan sehingga membuat semua tampak bisa digapai—padahal kenyataannya tidak demikian. Akibatnya, harapan itu pun akhirnya pupus karena niat di baliknya sudah bercampur dengan fantasi yang tidak realistis.
Rencana yang muncul dari khayalan tak ubahnya seperti seseorang yang merancang hidupnya dalam sebuah mimpi. Sayangnya, beberapa motivator kerap menyampaikan narasi yang menyesatkan—bahwa mimpi itu penting dan harus dimiliki oleh setiap orang. Namun, dalam praktiknya, mimpi yang dimaksud justru benar-benar menjadi mimpi dalam arti harfiah, yang terjadi saat seseorang sedang sadar. Mimpi tetaplah mimpi—ia tidak bisa dimajaskan menjadi sesuatu yang konkret. Bila narasi awalnya adalah mimpi, maka hasil akhirnya pun hanya akan berupa mimpi.
Masalah utama yang sering terjadi adalah ketidakseimbangan antara niat dan tindakan—atau bisa disebut sebagai kemalasan. Ketika niat bercampur dengan khayalan, maka rencana yang terbentuk menjadi tidak jelas dan tidak membumi. Rencana yang lahir dari khayalan ini mungkin sudah dipikirkan cukup lama, tetapi ketika coba diterapkan, hasilnya nihil.
Yang kurang dari semuanya adalah unsur psikomotorik. Seorang ‘aplikator’—yaitu orang yang bertindak langsung—sebenarnya telah menyimpan rencana-rencana hidup, namun tidak dalam bentuk konsep-konsep panjang, melainkan dalam bentuk gerak naluriah yang muncul dari insting. Salah satu bentuk insting manusia adalah daya bertahan hidup (survival instinct), yang tidak selalu membutuhkan perencanaan matang, melainkan diwujudkan melalui tindakan bertahap sambil menyesuaikan dan berpikir untuk langkah berikutnya.
Karena itu, aplikator biasanya tidak pandai merumuskan konsep atau menjelaskan panjang lebar perjalanan hidupnya, sebagaimana dilakukan oleh seorang pemikir. Namun mereka unggul dalam menghidupkan rencana-rencana itu dalam kadar yang realistis.
Apakah khayalan yang disangka sebagai sebuah rencana merupakan bagian dari persoalan hidup manusia yang layak dikaji dalam perspektif agama, khususnya melalui pendekatan tasawuf?
Tentu saja, hal ini merupakan bagian dari persoalan tentang bagaimana seseorang mengaplikasikan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW, telah mengingatkan umatnya tentang bahaya hidup dalam khayalan semu yang menyesatkan dari realitas dan tugas hidup yang sebenarnya.
Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman:
وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga merusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16).
Sedangkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ
“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan mendapatkan jaminan dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” ( Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ , 1/76).
Kedua peringatan tersebut mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam jebakan khayalan dan angan-angan kosong yang menyesatkan. Lantas, bagaimana cara agar kita terhindar dari perangkap khayalan?
Pertama, keluarlah dari kemalasan. Mulailah dengan bekerja atau beraktivitas, meskipun dalam hal-hal kecil dan hasilnya belum tampak nyata. Pekerjaan yang bermanfaat akan melatih daya juang dan menjauhkan kita dari lamunan yang tidak produktif. Sebaliknya, kemalasan membuka pintu bagi angan-angan kosong untuk tumbuh.
Kedua, kenalilah diri sendiri. Ukurlah kemampuan dan kondisi kita secara objektif. Banyak orang malas yang terjebak dalam angan-angan besar seolah-olah itu adalah rencana, padahal kenyataannya tidak ada satu pun langkah nyata yang diambil untuk mewujudkannya.
Ketiga, waspadalah terhadap hawa nafsu yang mendorong keinginan besar, padahal keadaan diri belum mencukupi untuk mencapainya. Orang yang tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki sering kali terjerumus ke dalam tipu daya, bahkan sampai terjebak dalam modus-modus tidak jujur demi mengejar ilusi keberhasilan. Orang yang terpuruk memiliki keinginan besar untuk mengubah nasibnya dengan cita-cita yang besar sehingga ia sendiri tidak mampu mewujudkannya. Orang yang sudah mapan hidupnya banyak fenomena yang memperlihatkan bahwa ia tergiur dengan usaha yang lain yang dipandangnya lebih banyak menguntungkan dan akibatnya terjerumus dalam tipu daya bahkan usahanya pun menjadi bangkrut. Hal itu disebabkan bahwa sejak awal ia tidak menyadari bahwa keinginannya tersebut didasari oleh hawa nafsu.
Keempat, bersyukurlah atas apa yang telah kita miliki. Ketidaksyukuran membuat seseorang merasa selalu kurang, mendorongnya ke dalam lingkaran khayalan yang justru menjauhkan dari kenyataan dan melemahkan mental.
Ikhtiar adalah sesuatu yang sangat mulia. Namun, ikhtiar harus dibedakan dari sekadar berkhayal. Ikhtiar sejati adalah tindakan nyata yang berangkat dari kesadaran atas kondisi yang sebenarnya, bukan membangun harapan semu tanpa dasar. Jangan sampai niat baik untuk memperbaiki hidup justru berubah menjadi kesulitan baru akibat jebakan khayalan.

