GazanaPublika.com, Serang – Majelis Al Ma’arijul Wathon menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangkaian kegiatan safar dengan tema: “Menauladani akhlakul karimah Nabi Muhammad SAW sebagai bukti terbitnya risalah sebagai tradisi cintanya di nusantara”. Dalam kesempatan itu, Majelis juga menyelenggarakan Keceran Jurus Cimande yang berlangsung pada 25–28 September 2025 di Cottage Mambruk, Anyer, Kabupaten Serang, tepatnya pada Kamis malam (25/9/2025).
Safar ini merupakan kegiatan berkala secara rutin, salah satu metode khas tarekat Asy-Syadziliyah di Majelis Al Ma’arijul Wathon. Kegiatan ini biasanya diisi dengan pengajian serta kajian tematik yang telah diagendakan sebelumnya. Namun, pada kegiatan kali ini terdapat pembahasan khusus mengenai Babad Banten, yang hingga kini masih dipandang menyimpan banyak misteri.
Dalam ceramah pembukaan, Pengasuh Majelis Al Ma’arijul Wathon, H. Hudi Nurhudiyat, menegaskan bahwa keutamaan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai teladan umat yang diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak.
Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad bukan hanya dipercaya oleh umat Islam pada masanya, tetapi juga oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Hal ini terbukti dengan adanya kepercayaan mereka menitipkan barang-barang berharganya kepada Nabi karena kejujuran dan amanah beliau.
“Kita teringat bahwa Nabi kita bukan hanya diakui oleh umatnya saja sebagai sosok berakhlak mulia, tetapi juga dihormati oleh umat lain,” ujar H Hudi Nurhudiyat, yang juga dikenal sebagai Ketua DPW I TTKKBI Provinsi Banfen.
Hudi menambahkan, peringatan Maulid Nabi menjadi sangat penting bagi umat Islam sebagai wujud cinta kepada Rasulullah. Menurutnya, cinta kepada Nabi tidak bisa diukur dengan hukum bid’ah atau tidak, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk nyata.

“Cinta itu tidak bisa dihukumi. Tidak ada cinta tanpa bukti. Salah satu buktinya adalah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lihat saja di Serang, masyarakat membuat karya-karya sederhana seperti rumah-rumahan dari kertas minyak sebagai bentuk cinta mereka kepada Nabi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hudi Nurhudiyat juga menyinggung sakralitas bulan Maulid. Menurutnya, banyak orang yang mengaitkan bulan ini dengan ritual tertentu yang dipercaya membawa kebaikan, dan hal itu merupakan bagian dari substansi rahmatan lil-‘alamin.
Sakralitas bulan Maulid, katanya, bahkan tidak hanya diyakini oleh umat Islam, tetapi juga oleh sebagian kalangan non-Muslim yang memandang bulan ini sebagai waktu penuh keberkahan.
“Di bulan Maulid ini, banyak orang yang menekuni spiritualitas melakukan kegiatan batiniah, misalnya memandikan keris. Itu jangan langsung dipandang sebagai kesyirikan, melainkan momentum memanfaatkan sakralitas bulan Maulid,” ungkapnya.
Ia menambahkan, “Bahkan tahukah kita, yang memandang bulan Maulid itu sakral bukan hanya umat Islam, tetapi juga sebagian masyarakat yang masih mempercayai hal-hal gaib. Ini bisa dilihat dari berbagai ritual yang digelar di banyak daerah, dan bisa disurvei langsung.”
Setelah ceramah pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan kegiatan keceran silat Tjimande Tari Kolot. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam tradisi Majelis Al Ma’arijul Wathon, yang selain fokus pada pengajian, juga menghidupkan budaya silat sebagai warisan spiritual dan kearifan lokal.