GazanaPublika.com, Lebak, 25 April 2025 – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dijadwalkan akan menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 Paguyuban Sumedang Larang (PSL) Provinsi Banten. Kegiatan ini akan dipusatkan di Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Jumat, 2 Mei 2025, bertepatan dengan pelaksanaan tradisi tahunan Seba masyarakat adat Baduy.
Salah satu pengurus PSL, Oos Kosasih, mengungkapkan bahwa panitia telah bertemu langsung dengan Gubernur Dedi Mulyadi untuk menyampaikan undangan khusus. Ia optimistis kehadiran Gubernur akan memberikan makna penting bagi penyelenggaraan acara.
“Dari hasil komunikasi kami dengan Kang Dedi Mulyadi, insyaallah beliau akan hadir,” ujar Oos.
Selain Gubernur Jawa Barat, Bupati Sumedang dan perwakilan dari trah Raja Sumedang Larang juga dijadwalkan akan hadir. Sejumlah peneliti dari luar negeri turut diundang dalam rangka memperkaya perspektif budaya dalam kegiatan tersebut.
Paguyuban Sumedang Larang Banten terdiri dari masyarakat yang memiliki garis keturunan Sumedang, baik melalui orang tua maupun leluhur, serta warga asli Banten yang memiliki hubungan darah dengan Sumedang. Banyak di antara mereka adalah keturunan para pejabat yang ditugaskan di wilayah Karesidenan Banten pada masa Hindia Belanda maupun era Orde Baru.
Sebagai bagian dari hiburan budaya, acara ini juga akan menampilkan pertunjukan Wayang Golek Giriharja 3 Putra, yang dipimpin oleh dalang ternama, Kang Dadan Sunarya. “Kami undang masyarakat untuk hadir meramaikan acara ini,” tambah Mang Oos.
Perayaan HUT PSL bertepatan dengan pelaksanaan tradisi Seba Gede masyarakat adat Baduy yang rutin digelar setiap tahun usai Kawalu, yakni masa puasa adat selama tiga bulan. Dalam kalender Sunda Wiwitan, akhir Kawalu menandai pergantian tahun menuju bulan Sapar.
Menurut sesepuh adat Sunda Wiwitan, Sarip, Seba merupakan kewajiban adat yang harus dijalankan, terlepas dari difasilitasi atau tidak oleh pemerintah.
“Sebab tujuan Seba bukan sekadar menemui pejabat, tapi menjalankan perintah adat yang wajib dilakukan dalam kondisi apa pun. Tanggal pelaksanaannya ditentukan melalui musyawarah antara para kokolot dan puun,” jelas Sarip.
Pelaksanaan Seba dimulai di Rangkasbitung pada Jumat, 2 Mei 2025. Setelah diterima oleh Pemerintah Kabupaten Lebak, rombongan akan menginap di Pendopo Setda dan menikmati pertunjukan wayang golek. Esok harinya, sekitar 1.500 warga Baduy laki-laki akan melanjutkan perjalanan ke Kota Serang. Dalam perjalanan, beberapa tetua adat dijadwalkan mampir ke kediaman Bupati Pandeglang untuk bersilaturahmi singkat.
Kepala Desa Kanekes, Oom, menegaskan bahwa perempuan tidak diperkenankan mengikuti prosesi Seba.
Setibanya di Serang, rombongan akan disambut oleh Gubernur Banten dan jajaran Muspida di Gedung Negara, yang dulunya merupakan kantor Karesidenan Banten dan kini difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur. Pada Minggu pagi, para tetua adat akan melanjutkan kunjungan ke Bupati Serang sebelum kembali ke Desa Kanekes. Warga Baduy Luar akan diantar menggunakan kendaraan, sedangkan warga Baduy Dalam tetap berjalan kaki sesuai adat.
Sarip menegaskan bahwa prosesi Seba harus dilakukan di kantor bupati atau Gedung Negara karena kedua tempat ini telah ditetapkan secara turun-temurun sebagai lokasi resmi Seba.
“Kalau dilaksanakan di luar dua bangunan itu, biasanya akan membawa kemalangan,” pungkas Sarip.
Kalau perlu versi pendeknya untuk rilis media atau versi digital, aku bisa bantu sesuaikan juga.

