GazanaPublika.com – Ketegangan semakin memuncak di wilayah Jakarta Barat dan Tangerang akibat maraknya aksi debt collector dan geng motor. Warga yang semakin resah akhirnya bersatu untuk menyuarakan penolakan tegas terhadap aksi premanisme yang semakin merajalela.

Forum Komunikasi RW Terhadap Debt Collector (Mata Elang) di Kelurahan Tegal Alur menjadi wadah bagi warga untuk menyampaikan keresahan mereka. Ketua Forum Komunikasi RW Kelurahan Tegal Alur, Ngatiyono Temon, mengungkapkan bahwa banyak laporan masuk mengenai perampasan kendaraan oleh kelompok yang mengaku sebagai mata elang.

“Banyaknya laporan dalam perampasan kendaraan ke kita artinya ini meresahkan masyarakat. Hari ini kita melakukan rapat forum komunikasi (FK) RW masalah Debt Collector atau yang biasa disebut mata elang,” ujar Ngatiyono Temon di Tegal Alur, Jakarta Barat, Jumat (14/6/2024).

Dalam pertemuan tersebut, para Ketua RW se-Tegal Alur dan perwakilan perangkatnya sepakat untuk menolak aksi premanisme dan geng motor yang mengancam keamanan wilayah mereka. Pernyataan sikap ini dipimpin langsung oleh Ngatiyono Temon, SH.,, dan disetujui oleh semua peserta yang hadir.

Pernyataan sikap tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menolak segala bentuk premanisme yang dilakukan oleh para debt collector atau mata elang di wilayah Tegal Alur.
2. Menolak segala bentuk geng motor yang meresahkan masyarakat di Tegal Alur.
3. Meminta pihak kepolisian untuk melakukan proses hukum yang berlaku bagi para pelaku tersebut.

Lurah Tegal Alur, Drs. Dwi Kurniasih, MAP, mendukung penuh rapat forum musyawarah (FK) RW mengenai masalah debt collector (mata elang) yang membuat resah masyarakat. Ia juga berpesan agar warga segera melaporkan kepada pihak kepolisian (Polsek) terdekat jika terjadi aksi geng motor, tawuran antar pelajar, atau perampasan kendaraan secara premanisme oleh debt collector di jalan raya atau lingkungan sekitar.

Dwi Kurniasih juga menyebutkan ada enam titik lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya debt collector di wilayah Kelurahan Tegal Alur, yaitu Jl. Menceng Raya, Jl. Kamal Raya, Jl. Kapuk Kamal (Rawa Melati), Jl. Kayu Besar, dan Jl. Taman Palm.

Untuk menanggapi keresahan warga, Ketua Forum Komunikasi RW mengungkapkan rencana pemasangan spanduk penolakan debt collector (mata elang) di setiap wilayah RW. Selain itu, forum juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian (Polsek) Kalideres untuk menindaklanjuti masalah ini.

Kasus terakhir yang semakin memicu kemarahan warga adalah ketika seorang tokoh masyarakat dan Ketua RT di wilayah Kelurahan Tegal Alur menjadi korban perlakuan premanisme oleh mata elang saat mencoba melerai perampasan motor.

“Kami sebagai warga meminta pihak kepolisian dari Polsek Kalideres melakukan operasi terhadap para mata elang yang kian meresahkan tersebut. Karena tak jarang modus matel juga digunakan para pelaku kejahatan dalam mengelabui korbannya,” harapnya.

Kilas Balik

Aksi geng motor akhir-akhir ini semakin marak terjadi. Pada bulan lalu, sebuah kasus geng motor membacok tiga pengendara motor di Jalan Raya Hasyim Ashari dari arah Kota Tangerang ke arah Cipondoh. Arak-arakan kendaraan sepeda motor yang diduga sebagai geng motor berkonvoi dengan mengacungkan senjata tajam celurit di depan rumah makan Mie Gacoan, tak jauh dari Taman Royal.

Kesaksian warga, Meliana, mengatakan konvoi serupa sudah beberapa hari belakangan terlihat di Jalan Hasyim Ashari. “Malam ini ramai depan Mie Gacoan, dan rawan di Gang Ambon,” kata Meliana, Jumat tengah malam, 17 Mei 2024.

Menurut Meliana, arak-arakan sepeda motor itu terlihat pada Jumat malam sekitar pukul 20.15 WIB. Mereka terlihat riuh di depan Mie Gacoan dan berputar arah. “Seperti tawuran, tapi tidak tahu peristiwa persisnya. Karena ada yang berlarian masuk gang. Itu yang membuat warga ketakutan,” jelasnya.

Dengan situasi yang semakin memprihatinkan ini, diharapkan pihak berwenang dapat mengambil tindakan tegas untuk menindaklanjuti keresahan warga dan memulihkan keamanan di wilayah Jakarta Barat dan Tangerang. (Red)

Redaksi

Exit mobile version