Jangan ungkapkan kata-kata jelek yang membuat kebencian karena itu adalah dirinya, ungkapkanlah kata-kata baik bila itu menyenangkan bagi dirinya. (AOA)

GazanaPublika.com – Fenomena orang yang suka menjelekkan orang lain, baik dengan sengaja atau tanpa disadari, adalah suatu kategori perilaku yang tidak baik. Dalam perspektif Islam, tindakan tersebut sangat dilarang dan memiliki konsekuensi serius.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan tegas tentang bahaya menjelekkan sesama muslim. Dalam hadis, beliau bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim).

Dengan kata lain, merendahkan atau menjelekkan sesama muslim sudah merupakan perbuatan buruk yang lebih dari cukup.

Rasulullah SAW juga menyatakan, “Mencaci orang Islam (Muslim) adalah perbuatan fasiq, dan membunuhnya adalah perbuatan kufur” (HR. Bukhari, Muslim).

Ini menunjukkan tingkat keberatan dalam mencaci sesama muslim, bahkan hingga pada level fasiq dan kufur.

Dalam ayat Alquran, Allah menegaskan agar orang-orang yang beriman tidak merendahkan kumpulan lain, karena mungkin kumpulan yang direndahkan itu lebih baik di mata Allah. Dilarang pula mencela diri sendiri atau memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.

Abi Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Jauhilah olehmu berprasangka. Sebab berprasangka adalah sejelek-jelek pembicaraan. Janganlah kamu saling mencari kejelekan orang lain, janganlah saling bermegah-megahan, dan janganlah saling dengki mendengki. Janganlah saling mengumbar emosi, dan janganlah saling menjauhi. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersatu dan bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara, yang di antara mereka dilarang saling menganiaya, saling menghina, dan saling meremehkan. Taqwa adalah di sini (sambil Rasulullah memberi isyarah ke arah dada). Cukuplah seorang muslim dikatakan melakukan kejelekan apabila dia menghina sesama muslim. Seorang muslim dengan muslim lainnya harus saling menjaga darah, kehormatan, dan harta kekayaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam ayat Alquran Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (QS. Al Hujuraat :11)

Kesimpulannya, menjelekkan orang lain sebenarnya mencerminkan bukan pada kejelekan dari orang yang dijelekkan, tetapi dengan menjelekkan orang lain, kita telah melakukan perbuatan yang tercela di mata Allah.

Dalam konteks yang lebih mendalam, menjelekkan orang lain sebenarnya merupakan cerminan dari keburukan dalam diri kita dan mengandung segala bentuk keburukan. Terlepas dari kenyataan bahwa belum tentu orang yang dijelekkan itu benar-benar jelek, mungkin hanya merupakan pandangan subyektif dari kita.

Jika kita memahami hal ini hanya sebatas persoalan dosa, banyak orang mungkin sudah memahaminya. Namun, menjelekkan orang lain memiliki dampak yang lebih luas, di mana kejelekan yang kita timpakan pada orang yang dijelekkan dapat berdampak pada diri kita sendiri. Artinya, tindakan ini dapat kembali merugikan diri kita sendiri. Ini adalah salah satu bentuk kekejian yang terdapat dalam diri kita.

Di sisi lain, menjelekkan orang lain sebenarnya berarti kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang tersebut, tanpa bermuhasabah untuk mempertimbangkan bahwa sebelum kita menjelekkan orang lain tersebut. Sebaiknya kita memandang diri kita sendiri apakah kita lebih baik atau malah lebih buruk dari orang yang dijelekkan. Hendaklah kita menjauhi perasaan merasa suci dan merasa lebih baik, karena itu merupakan perbuatan yang tercela, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyukainya.

Penulis:
AOA

Redaksi

Exit mobile version